
Tessa hanya duduk di sofa kamarnya dengan memegang segelas air yang ia bawa dari dapur. Ia menghela nafas berat, melihat kebersamaan Maxime dengan Milan di dapur tadi cukup menyadari Tessa kalau kakak angkatnya itu lebih bahagia bersama Milan.
Terlihat dari bagaimana Maxime menatap Milan, berbicara dengan gadis itu, cara Maxime tersenyum kepada Milan. Itu semua sangat jelas berbeda, Maxime seakan benar-benar berubah dari pria dingin menjadi pria riang ketika bersama Milan.
Tessa tidak mungkin merebut Maxime dari Milan, Tessa dan Miwa di didik oleh tiga Ibu dari kecil. Sky, Kara, Liana, mereka melarang Tessa dan Miwa menjadi orang ketiga di dalam hubungan orang lain.
Begitupula dengan ketiga Ayahnya. Javier, Sekretaris Han dan Thomas yang selalu mengatakan perempuan perebut lelaki orang lain itu hina dan kotor.
"Merebut pria milik wanita lain jauh lebih kotor di banding menusuk seseorang tepat di jantungnya."
Itu adalah ucapan Javier yang selalu Tessa ingat. Alhasil Tessa hanya bisa diam memendam semuanya, terkadang sikap tidak suka nya kepada Milan terlihat jelas.Tapi ia juga bisa pura-pura ramah kepada gadis itu.
"Kau pecundang Tessa," gumam Tessa untuk dirinya sendiri seraya tersenyum ketus.
Ia hanya berpikir, kenapa sebelum Milan datang ia tidak mencoba memberitahu perasaan nya terhadap Maxime. Kenapa ia harus memendam sampai detik dimana Milan masuk ke hidup Maxime.
Tapi di sisi lain Tessa terlalu takut mengakui perasaan nya, karena larangan Maxime yang mengatakan diantara mereka berempat tidak boleh ada yang memiliki perasaan satu sama lain. Tessa sendiri tidak mengetahui hubungan Arsen dan Miwa sekarang.
Ia menyimpan gelas di meja berjalan mengambil buku di laci lalu duduk di atas ranjang dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Ia membuka perlahan buku itu, selain suka melukis ia juga suka membaca. Novel atau buku kata-kata yang menurutnya bagus.
Ada sebuah kutipan di buku tersebut.
Tak ada yang sia-sia dalam mencintai, sekalipun harus patah hati itu bisa jadi jembatan untukmu bertemu dengan orang yang tepat.
Tessa membuka lembaran selanjutnya di buku tersebut.
Karena mencintai milik orang lain itu seperti mengenggam sebuah pisau. Kau akan terluka jika tidak melepaskannya.
Tessa menghela nafas berat, ini yang ia rasakan. Hatinya yang seperti di tusuk pisau semakin dalam ketika ia tidak bersama Maxime. Harus melepaskan, Tessa masih sedikit ragu.
Tessa memejamkan mata kasar dengan jantung yang memburu akhirnya air mata keluar dari sudut mata nya.
Dan di saat itu pula, kenangan nya bersama Maxime dari kecil berputar-putar di kepalanya.
"Tessaa ... mau mandi baleng?"
"Tessa cantik ..."
"Tessa ayo main baleng Gloly ..."
"Tessa gaboleh pelgi ..."
"Tessa nanti bobo baleng aku ya ..."
"Tessa sini peluk ..."
"Tessa adikku kan Mommy?"
Tessa menggeleng dengan kedua tangan menutupi telinga nya, suara Maxime saat kecil terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Semua kenangan tidak membuat Tessa lebih baik tapi semakin sakit memikirkan ia tidak bersama Maxime.
Sekarang, suara itu berubah menjadi bayang-bayang dimana Maxime ketika remaja selalu melindungi nya dari orang-orang yang hendak membully nya di sekolah.
"Berani menyentuh Tessa, mati kalian!!"
"Jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak akan biarkan ada orang yang berani menyentuhmu lagi."
"Tessa makan salad yang banyak, jangan makan pedas terus."
"Masak udang yuk?"
"Kau adik kakak yang paling baik ..."
Rasa sakitnya tumpah malam ini, keluar dengan tangisan yang cukup menyakitkan. Tak apa, setidaknya ia akan merasa lega setelah menangis.
Tessa mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang, memeluk tubuhnya sendiri seraya menatap foto dirinya dan Maxime di dinding depan ranjang nya. Tangisan nya tidak berhenti, malah semakin kuat melihat foto Maxime.
Semua foto itu di lepas dengan kasar, di hancurkan begitu saja, di lempar seenaknya hingga semua figura itu pecah menjadi pecahan beling kecil.
"Aaaaarrrggggg!!!"
PRANG
PRANG
PRANG
Ia berteriak dan menangis di waktu bersamaan, tak henti sampai di situ, ia masuk ke ruangan kecil di kamarnya. Tempat penyimpanan lukisan yang ia buat.
Di ruangan itu ia menghancurkan semua lukisan wajah Maxime. Bertahun-tahun ia menunggu, bertahun-tahun ia memendam. Hasilnya tak seperti yang ia harapkan, ia harus melepaskan Maxime. Pria yang membuatnya tidak mau mengenal lelaki lain di hidupnya.
Kutipan itu benar, sekarang ia seperti di tusuk ribuan pisau. Menyakitkan.
Ia harus melepaskan semua pisau itu. Segera, atau akan membuatnya semakin terluka. Tapi sebelum itu terjadi Tessa ingin mengeluarkan kemarahan dan kesedihannya dulu.
Ia marah dan menangis sebagai bentuk penutupan dari dirinya yang akan melepaskan Maxime untuk Milan. Perempuan itu jatuh duduk bersimpuh di lantai dengan menangis tersedu-sedu.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Maxime membulatkan mata kala melihat banyak pecahan figura yang hancur.
"Tessa ..." gumam nya. Melihat kamar ruangan kecil itu terbuka ia pun masuk ke sana dan mendapati Tessa menangis di sekitar lukisan yang sudah hancur.
Tessa mendongak ketika melihat kaki seseorang di dekatnya. Seketika ia melebarkan mata melihat Maxime berdiri di depan nya.
Mata Maxime tak henti menatap setiap lukisan yang hancur, semua lukisan itu wajahnya.
"Kak Maxi ..." lirih Tessa berusaha berdiri dengan panik kala melihat Maxime sedang menatap lukisan nya satu persatu.
Walaupun sudah hancur Maxime masih bisa melihat jelas di lukisan itu adalah wajahnya. Dan ada satu lukisan dengan tulisan di bawahnya.
My Love. I love you.
Maxime melebarkan matanya, menatap Tessa penuh arti di depan nya.
Tessa menyeka air matanya lalu menunduk, apa yang harus ia lakukan sekarang. Maxime sudah tahu.
Bersamaan dengan itu Miwa, Milan dan Arsen ikut masuk ke kamar Tessa. Mereka juga mendengar suara benda pecah di kamar Tessa, itu sebabnya mereka lari ke kamar Tessa dengan tergesa-gesa.
Kaki Tessa gemetar seketika, tubuhnya seakan lemas. Rasa panik menghantam tubuhnya begitu kuat, Maxime sudah melihat lukisannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang, bagaimana cara ia menjelaskan kepada Maxime.
Tessa pun terjatuh, untung saja Maxime dengan sigap menangkap tubuhnya. Tessa terlihat begitu lemas.
Miwa, Arsen dan Milan mendekat ke ruangan itu. Mereka bisa melihat dengan jelas satu lukisan yang besar, sedikit hancur dengan tulisan di bawahnya.
My Love. I love you.
Miwa sontak menutup mulutnya kaget, Tessa mencintai Maxime. Apa ia tidak salah lihat tentang lukisan itu.
Begitupula dengan Milan yang terus menatap lukisan itu penuh arti. Apa ini alasan Tessa terkadang bersikap tidak bersahabat dengannya.
Arsen pun cukup terkejut, tapi ekspresi mukanya tetap datar.
Maxime yang sedang memeluk tubuh Tessa, menoleh ke arah Miwa dan Arsen lalu menggelengkan kepala. Mereka mengerti maksud Maxime, mereka di minta keluar dari kamar.
Terakhir Maxime menatap Milan penuh arti, sedikit tidak enak meminta Milan keluar tapi Miwa langsung menarik lengan gadis itu.
"Ayo Milan, kita pergi ..."
Milan mengangguk pelan, sebelum benar-benar pergi ia sempat kembali menoleh ke belakang. Maxime menatapnya dengan tersenyum tipis untuk menenangkan perasaan Milan.
Setelah semuanya keluar, Maxime mengangkat tubuh Tessa dan membawanya ke ranjang.
Bersambung