The Devil's Touch

The Devil's Touch
#85



"Kak Arsen darimana?" tanya Miwa melihat Arsen keluar dari mobil dan berjalan melewati nya begitu saja yang berdiri di depan pintu masuk.


Miwa menghela nafas karena merasa di acuhkan ketika berjalan hendak menyusul Arsen ia di panggil oleh Ara.


"Miwa ..."


Miwa menghentikan langkah nya. "Ya aunty?"


"Aunty mau pergi dulu. Mau titip sesuatu?"


"Eummm ... tolong bawa Tessa saja Aunty, dia bilang tadi dia bosan. Kasihan hehe ..."


"Hah?" Ara menaikkan satu alisnya tidak mengerti sementara itu Miwa segera menaiki anak tangga untuk menyusul Arsen.


Ia berharap di mansion ini semua orang pergi meninggalkan dirinya berdua saja bersama Arsen.


Ah untungnya kamar Oris dan Tessa jauh dari kamar Arsen. Semoga saja tidak ada yang melihatnya.


Miwa membuka pintu kamar Arsen, tidak ada siapapun di dalam tapi ada suara shower dari kamar mandi. Arsen pasti sedang mandi.


Miwa masuk mengendap-ngendap setelah menutup pintu sangat pelan. Ia duduk santai di atas ranjang menyilangkan kaki nya.


Lima belas menit kemudian suara pintu kamar mandi terdengar. Arsen keluar dari kamar mandi dengan celana pendek tanpa mengenakan baju. Ia menunduk seraya menggosok rambut dengan handuk kecil.


Dan ketika mendongak. "MIWA!!" Arsen terlonjak kaget sampai tubuhnya mundur selangkah melihat Miwa duduk tersenyum di atas ranjangnya.


Ia mendesis kesal lalu masuk lagi ke kamar mandi. Dan tentu nya dengan membanting pintu.


"Loh kak, kenapa?" teriak Miwa seraya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


"Badan nya bagus juga," gumam Miwa seraya cekikikan sendiri membayangkan roti sobek yang ia lihat tadi.


Ini kali pertama ia bisa melihat tubuh polos kakak angkatnya itu. Miwa dan Tessa sudah jarang ke kamar Maxime dan Arsen selepas mereka sekolah menengah pertama.


Mereka sudah mempunyai privasi nya masing-masing.


Tak lama kemudian Arsen kembali keluar dengan mengenakan kaos putih polos dan celana jeans hitam.


"Kok pake baju sih kak?" tanya Miwa menahan senyum nya.


Arsen mendelik sebal lalu naik ke atas ranjang nya untuk merebahkan diri di sana. Ia menyilangkan tangan di belakang kepala sebagai bantalan.


"Keluar, kakak mau istirahat! Hari ini engga kerja. Libur saja!!" ucapnya seraya memejamkan mata.


"Oke kak," sahut Miwa yang diam-diam mengitari ranjang dan naik perlahan untuk ikut tiduran di samping Arsen.


Merasa ada pergerakan dari kasur nya Arsen pun membuka mata cepat dan ketika menoleh ke samping ia mendapati Miwa sudah tiduran di sampingnya seraya tersenyum manis ke arahnya.


Arsen menghela nafas kembali memejamkan mata. Bodo amatlah dia sudah lelah.


"Kak ..." panggil Miwa.


"Kak ..."


"Kakak tidak takut?" tanya Miwa.


"Takut apa?" Arsen menjawab dengan mata tertutup.


"Di perk*sa olehku!" ucap Miwa sambil cekikikan sendiri.


Arsen mendesis, menggertak kan giginya lalu menoleh tajam kepada Miwa di sampingnya.


"Keluar!" usir Arsen dingin.


"Ih kakak kok jahat gitu sih!" Miwa menekuk wajahnya.


"Kalau begitu anggap kakak ini, kakakmu lagi ... dan berhentilah mengatakan hal aneh!!"


"Seperti mengatakan aku mencintaimu, kak? apa itu terdengar aneh?"


"Miwa---"


"Kak!!" potong Miwa. "Kenapa sih? apa kakak takut sama Kak Maxi? apa kakak sama seperti pria yang dulu mundur ketika tau aku adik kak Maxi?" kini Miwa menatap sendu Arsen.


Arsen pun menarik tubuhnya untuk duduk di ranjang di ikuti Miwa.


"Aku dan Kakakmu sudah seperti adik kandung. Dan kau juga adik kandungku Miwa ..."


Miwa menjawab penuh penekanan. "Kita tidak ada hubungan darah, Kak Arsen!"


"Ya, tapi kita tumbuh bers--"


"Apa kak Arsen menolak ku karena kita tumbuh bersama dari kecil?" potong Miwa lagi. "Kalau memang itu alasan nya, aku akan marah dengan Daddy karena tidak mengusir Daddy Han dari mansion!"


Miwa menyilangkan kedua tangan nya di dada kesal seraya memalingkan wajahnya dari Arsen. Arsen menghela nafas panjang, bagaimana lagi ia harus menjelaskan kepada Miwa kalau perasaan nya tidak bisa di paksakan.


"Miwa ... apa kau siap kalau Daddy Javier dan Maxime marah denganmu?" tanya Arsen.


Miwa kembali menoleh kepada Arsen. "Kak Maxi, hanya marah sebentar ... aku yakin itu, kalau kak Arsen yakin denganku Kak Maxi pasti merestui."


"Ya ... walaupun mungkin kakak harus kena bogem kak Maxi dulu," lanjut Miwa pelan kembali memalingkan wajahnya dari Arsen.


"Miwa tapi--"


Belum selesai bicara Miwa langsung menarik baju Arsen dengan kasar sampai Miwa tertidur di kasur dan Arsen di atasnya. Cium*n itu adalah jebakan dari Miwa.


Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar, Sekretaris Han berdiri di ambang pintu dengan terbelalak kaget melihat Arsen menc*m Miwa.


"ARSENNNN!!" teriaknya menggelegar seisi ruangan.


Arsen pun segera menarik tubuhnya dari Miwa.


Bersambung