The Devil's Touch

The Devil's Touch
#218



Pisau itu bukan menusuk tubuh Maxime, melainkan menusuk perut Smith. Karena tepat ketika Smith hendak menusuk, tangannya langsung di tahan oleh Maxime dan dengan cepat Maxime memutar tangan Smith hingga pisau di tangannya menusuk perutnya sendiri.


Maxime semakin kuat menusuk perut Smith sampai pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Katakan, dimana Aberto? aku yakin Aberto belum mati!!"


"Katakan!!"


"Erggghhh ... A-aku tidak akan ... me-mengatakan dimana dia," jawab Smith terbata membuat Maxime semakin geram sampai ia menarik dengan cepat pisau itu lalu kembali menusuk Smith di bagian dada.


"Akkkhhh ..."


"Kau memancing emosiku Smith!!"


Kemudian Maxime keluar dari ruangan itu membiarkan pisau itu menancap di dada Smith. Smith meringis hebat, perlahan tubuhnya merosot ke bawah dengan tubuhnya yang terus mengeluarkan darah.


Ia menatap ke pintu, ingatannya hanya tertuju kepada Magma. Smith berusaha meraih meja dengan tangannya yang bergetar, nyawanya di ujung tanduk tapi ia berusaha untuk meraih pulpen dan buku di atas meja.


Kemudian ia menulis sesuatu di kertas itu, sesuatu yang harus di cari Magma ketika dewasa kelak.


Sedetik kemudian nyawanya hilang dengan buku di atas paha nya.


"Dimana anak itu?" tanya Maxime kepada Arsen dan Daniel.


"Anak itu masuk ke sini tapi tiba-tiba hilang."


Arsen dan Daniel melihat Magma ada di lantai dua tadi dan Magma sempat menjerit ketika melihat Arsen dan Daniel. Anak itu lari ke sebuah kamar, yang Arsen dan Daniel yakini ini kamar Aberto.


"Kamar ini terkunci tadi, aku mendobraknya dan anak itu tidak ada di sini," ucap Arsen.


"Ya, padahal aku melihat dia masuk ke kamar ini," sambung Daniel.


"Coba cari," titah Maxime.


Mereka berusaha mencari ke kamar mandi, membuka lemari, ke kolong kasur, ke balkon, tapi Magma tidak ada di sana.


"Aneh," ucap Daniel sambil memercak pinggang. "Kita tidak salah lihat kan, Ar? dia benar-benar manusia, bukan hantu."


"Bukan sial*n, dia manusia," sahut Arsen.


Maxime menghela nafas. "Lebih baik kita cari Aberto dulu. Aku yakin dia belum mati."


Maxime pun keluar dari kamar di ikuti Arsen dan Daniel.


Mereka menuruni anak tangga, mencoba bertanya kepada para anak buah Recobra yang tersisa. Jawaban mereka tetap sama, tidak ada yang tahu dimana Aberto.


Sampai akhirnya Maxime mengganti pertanyaan. "Dimana pilot kalian?" tanya Maxime.


"Kalau kau masih jawab tidak tau, kau benar-benar akan mati seperti yang lain," ancam Arsen membuat pria yang kedua tangannya sedang di cekal Daniel itu terlihat ketakutan.


"Pi-lot i-itu ada di apartemen X. Namanya ... Juan."


Maxime berjalan untuk pergi ke apartemen X diikuti Arsen. Daniel mendorong tubuh pria itu hingga jatuh ke lantai lalu menembaknya dan segera menyusul Maxime dan Arsen.


*


Seorang pramusaji menekan bel apartemen. Kemudian terlihat seorang pria membuka pintu.


"Tuan, pesananmu ..."


"Aku tidak memesan makanan," ucap Juan heran.


"Hai Juan ..." ucap Daniel.


Juan melebarkan matanya, pramusaji itu buru-buru pergi setelah menjebak Juan agar keluar dari apartemennya. Ketika Juan hendak menutup pintu sontak Arsen pun langsung menahan pintu tersebut dengan tubuhnya.


"Pergi kalian!" usir Juan.


Arsen mendorong pintu tersebut di bantu Daniel sampai akhirnya pintu terbuka lebar, untung saja Juan masih bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga tak jatuh.


"Mau apa kau ..." ucap Juan dengan wajah panik kala Maxime berjalan ke arahnya.


"Antar aku ke tempat Aberto," ucap Maxime.


"Tuan Aberto sudah mati," sahut Juan dengan langkah terus mundur dan wajah takutnya menatap Maxime.


"Jangan bohong, aku tau dia masih hidup." Maxime terus mendekati Juan.


Kemudian Maxime langsung menarik kerah baju pria itu.


"Katakan ..." ucap Maxime penuh penekanan. "Katakan dimana Aberto ..."


"Tu-tuan ... aku hanya seorang pilot. Aku tidak punya masalah dengan siapapun."


"Ya, karena kau seorang pilot kau harus mengatakan dimana Aberto kalau kau masih tetap ingin hidup ..."


"Tapi aku---"


"Smith sudah mati," potong Maxime membuat mata Juan melebar tak percaya.


"Tuan Smith ..." gumam Juan tak percaya.


"Sekarang, giliranmu yang mati." Maxime mendorong tubuh Juan sampai jatuh tersungkur ke lantai kemudian ia mengeluarkan pistolnya tapi ketika ia hendak menembak Juan pun langsung berkata.


"Tuan jangan tembak aku, aku masih punya anak dan istri. Aku akan memberitahumu keberadaan Tuan Aberto," ucap Juan dengan beringsut mundur menjauhi Maxime.


Maxime tersenyum penuh kemenangan. Kemudian mereka semua pergi ke tempat Aberto dengan helicopter yang di bawa Juan.


"Smith ..." Aberto mendongak menatap helicopter yang terlihat akan mendarat di atas rooftop, yang Aberto tahu hanya kedatangan Smith saja.


Lima menit kemudian pintu ruangan di tendang keras. Aberto sontak melebarkan matanya melihat Maxime, Arsen dan Daniel. Ia diam menunggu Smith tapi yang datang malah musuhnya sendiri.


Dada Maxime terlihat naik turun menahan amarah, tangannya mengepal. Pandangannya tajam menatap mata Aberto.


Kemudian Maxime tersenyum sinis. "Ternyata benar, kau belum mati Pak Tua."


"Kenapa kau di sini? siapa yang membawamu ke sini?Dimana Smith?" tanya Aberto bertubi-tubi.


"Smith sudah mati," sahut Maxime membuat Aberto melebarkan matanya kemudian tangannya mengepal kuat.


"Bedeb*h sial*n!" ucap Aberto di sela-sela giginya yang saling menggertak marah.


"Hidup penuh drama, bagaimana rasanya Aberto? mati karena serangan jantung? atau tidak punya nyali untuk melawan?"


"Diam kau kepar*t!!"


Aberto langsung berlari menghampiri Maxime, Maxime dengan santai tersenyum. Aberto langsung menendang perut Maxime sementara Arsen dan Daniel diam di belakang Maxime.


Tidak ada yang membantu Aberto karena sebelumya anak buah Recobra yang tersisa sedikit itu berhasil di kalahkan Arsen dan Daniel dengan mudah sebelum masuk ruangan ini. Dan juga anak buah Yakuza dan Antraxs sudah berjaga di depan mansion yang terletak di hutan ini agar tidak ada yang membantu Aberto.


Maxime tertawa dengan memegang perutnya, kemudian ia kembali berdiri tegak dengan membenarkan jas nya yang sedikit kusut.


"Tendanganmu lumayan juga," ucap Maxime dengan nada meremehkan.


"Sudah Tua istirahat saja Aberto, keluarga De Willson yang lain saja sudah istirahat di mansion," sambung Daniel.


"Diam kalian!" Aberto pun dengan cepat mengambil pistol di saku celananya tapi Maxime lebih cepat menendang tangan Aberto membuat pistol itu terlempar jauh.


Ada pisau di saku Aberto, tapi ia tetap gagal menusuk leher Maxime karena Maxime berhasil menangkap tangan Aberto dan segera menendang perut Pak Tua itu sampai punggungnya membentur meja di belakangnya.


"Aku tidak tau apa masalahmu denganku, berani sekali kau menganggu keluargaku, Aberto."


Maxime menghampiri Aberto dan langsung menarik kerah baju Pak Tua itu. "Katakan apa masalah mu denganku? apa karena si bod*h Felix?"


Bersambung