
Motor beberapa kali oleng karena mereka yang duduk tidak bisa diam. Arsen yang duduk di ujung harus merasakan bok*ng nya tak nyaman sekaligus beberapa kali hampir terjengkang ke belakang kalau saja ia tidak langsung memeluk tubuh Daniel.
"Sial*n pelan-pelan Max!!" teriak Arsen.
Mereka harus berbicara saling teriak karena helm yang menutupi kepala mereka sekaligus suara angin dan kendaraan yang berisik.
"Kau, jangan memelukku terus!!" ucap Daniel menepis tangan Arsen.
"Kau mau aku jatuh hah!" pekik Arsen. "Lagipula kau duduk nyaman sekali, maju sedikit!!"
Daniel pun maju membuat Maxime yang di depan hampir tak kebagian tempat duduk, untung saja ia tidak jatuh ke bawah hanya saja motornya yang oleng.
"Sial*n aku tidak kebagian tempat duduk!" kesal Maxime.
"Max, kau duduk di bawah saja. Biar Daniel yang bawa motor," titah Arsen.
"Tidak mau!!"
"Sempit sekali motor ini!" Daniel terus bergerak maju mundur karena ketika ia maju, Maxime mengumpat kesal memintanya mundur, ketika ia mundur, Arsen yang terus memarahinya.
"Aku harus membuat novel perjuangan seorang Ayah nanti, biar anakku kelak membacanya dan melihat bagaimana perjuanganku untuk mereka ketika mereka di kandungan Ibunya."
"Heh, kalian mau masuk novelku tidak?" tanya Daniel kepada Arsen dan Maxime.
"Tidak!!" Jawab Maxime berbarengan dengan Arsen.
Daniel membuka kaca helmnya karena merasa wajahnya panas di dalam helm, mungkin karena duduk yang berdesakan di atas motor.
"Max, lampu merah di depan." tunjuk Daniel.
"Aku tau sial*n."
"Max, kau lupa peraturan lalu lintas?" tanya Arsen.
"Apa?"
"Tidak boleh bonceng tiga seperti ini," ucap Arsen.
"Yang mau siapa, aku sudah menyuruh kalian bawa motor sendiri!" ucap Maxime.
Mereka pun berhenti di lampu merah, Daniel kembali menutup kaca helm nya karena takut ada salah satu orang yang mengenali nya.
Begitupula dengan Arsen dan Maxime yang enggan membuka helm karena takut tiba-tiba ada orang yang memotret dirinya dan menyebarkannya di internet.
"Max ... polisi." Daniel menatap polisi yang sedang mengatur jalanan.
Polisi itu pun menatap motor scoopy yang bonceng tiga, ia menggelengkan kepala lalu menghampiri motor Maxime.
"Ck ck ck ... sudah gede masih tidak tau aturan lalu lintas kalian ini hah? tangan saja berotot, naik motor malah dempetan seperti ini. Satu orang turun!" titah polisi itu yang di acuhkan oleh Maxime dan yang lain.
"Eh malah diam saja. Saya bilang turun!!"
Mereka kini menjadi tontonan pengendara yang lain. Polisi itu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa karena Maxime, Daniel dan Arsen tidak membuka kaca helm nya sama sekali.
"Tunjukan SIM-mu kalau begitu!!"
Maxime mengeluarkan dompetnya dan memberika SIM nya kepada Polisi itu. Awalnya wajah polisi itu garang dan menyeramkan, apalagi dengan perut buncitnya yang maju ke depan, tapi ketika ia melihat SIM milik Maxime ia pun melebarkan matanya.
"Maxime Louis De Willson," gumamnya.
Kemudian tangannya bergetar begitu saja, ia pun memberikan kembali SIM itu kepada Maxime.
"I-ini Tuan ... maaf menganggu kenyamanan anda ..."
Maxime merebut kembali SIM nya dengan kasar, memasukannya kembali ke dompet lalu melajukan motornya ketika lampu sudah berubah menjadi hijau.
Daniel membuka kaca helm nya. "Untung saja dia melihat SIM-mu Max, kalau tidak, habis kita di marahi!!"
"Tinggal tembak kalau di marahi," ucap Arsen dengan entengnya.
Sementara polisi tadi hanya menatap kepergian motor scoopy warna cream yang di bawa para mafia itu.
Mereka kini sudah memasuki wilayah pedesaan, motor mobil yang berlalu lalang mulai bisa di hitung jari, karena ini juga sudah malam.
Sekarang mereka harus mencari gapura bertuliskan Desa Alami. Daniel dan Arsen celengak-celingkuk ke kanan kiri, mencari-cari nama gapura tersebut, sementara Maxime tetap tenang mengendalikan motornya. Beberapa kali mereka mendapati gapura tapi bukan nama Desa Alami di atasnya.
"Itu-itu ..." teriak Daniel girang menepuk-nepuk pundak Maxime.
"Itu Max ..."
"Aku lihat sial*n!!" ucap Maxime.
Maxime pun seakan melihat bayangan Milan yang sedang menjelaskan arah jalan menuju rumah Tuan Gulnaro.
Jadi nanti kalian masuk, lurus terussssss jangan belok-belok.
Maxime pun ingat ia harus lurus terus ketika masuk gapura itu, Maxime menambah kecepatan motornya membuat Arsen lagi-lagi hampir terjengkang.
"Hati-hati Max, gangnya kecil sekali," ucap Daniel.
Terus nanti ada pertigaan kalian belok kanan.
Maxime pun melihat pertigaan di depan, ia langsung mengambil jalur kanan ketika ingat ucapan istrinya.
Dari sana kalian lurus lagi terus belok kiri.
Maxime terus lurus sampai akhirnya ia berbelok ke jalur kiri. Dan ternyata di jalur kiri ini gangnya semakin sempit hanya bisa di masuki satu motor dengan rumah warga di kiri kanan nya.
"Apa pemerintah tidak melihat kondisi jalan ini, sempit sekali," ucap Daniel.
"Gelap juga, gang sempit seperti ini lampunya hanya satu," sambung Arsen.
~Aku tak mau dikalau aku di madu~
~Hei ... Hei ...~
~Pulangkan saja kepada orang tuaku~
Ada tiga banci yang sedang bernyanyi di pos ronda, satu dari mereka memegang alat musik kecrek di tangannya.
Daniel yang mendengar itu celengak-celinguk, darimana arah suara yang menjijikan itu.
"Harusnya sekarang belok kanan, tapi dimana. Kenapa jalannya lurus terus," ucap Maxime dengan terus berusaha menyeimbangkan motornya di gang sempit itu.
~Aku tak mau dikalau aku di madu~
"Kalian dengar suara itu tidak?" tanya Daniel kepada Arsen dan Maxime.
"Suara apa?" tanya Arsen.
"Coba kau dengarkan baik-baik ..."
~Pulangkan saja kepada orang tuaku~
"Tuhkan ..." ucap Daniel.
"Suara mereka," ucap Maxime menunjuk pos ronda di depan.
"Stop Max! stop Max!" Daniel menepuk-nepuk pundak Maxime ketika melihat kawanan banci di depan.
"Apa sial*n?" tanya Maxime.
Para banci itu berhenti bernyanyi, mereka menutupi wajahnya karena silau dengan lampu yang menyorot dari motor Maxime.
"Putar balik Max, ada banci ..."
"Kau takut dengan banci?" tanya Arsen.
"Aku takut dengan mulutnya, saat di Negara XX ada banci yang hampir menciumku ..."
Kawanan banci itu perlahan mendekati Maxime dengan berjalan melenggak-lenggok, pinggangnya menari ke kanan kiri, satu orang berambut pendek, dua di antaranya memakai Wig warna warni.
Maxime bisa dengan mudahnya menembak mereka hanya saja ia teringat ucapan Oris.
Kalau istri sedang mengandung jangan banyak tingkah. Nanti yang dapat karma anakmu, coba saja kau bunuh orang saat istrimu sedang hamil Tuan. Bisa saja anakmu malah mati sebelum lahir sebagai karma nya.
Maxime menghela nafas, ah menyebalkan sekali ia harus mendengar mitos dari Oris itu, tapi kalau tidak di turuti ia juga kepikiran.
Bersambung
...Tenang ... konflik akan datang pada waktunya, hehe. Sekarang, happy-happy dulu ya ... 😁 ...