The Devil's Touch

The Devil's Touch
Maximilian Jhonson.



Sebuah pesawat baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional Leonardo da Vinci. Seorang pria tampan yang bertubuh gagah, berjalan menuruni tangga. Bola matanya yang kehitam-hitaman, serta rambutnya yang tertata rapi menjadi ciri khas pria itu. Sebuah dasi kupu-kupu terpasang dilehernya.


Di depan sana, sudah ada para bodyguard yang berbaris rapi untuk menyambut kedatangannya.


Mereka semua dengan kompak membungkukkan badannya begitu pria tampan itu melewati mereka.


"Selamat datang Sir. Mobil anda sudah siap, kemana anda akan pergi?" seorang pria muda mendekati dirinya dengan membawa kunci mobil.


"Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, urus mereka semua." kunci mobil sudah berpindah di tangannya.


Maximilian Jhonson, itulah namanya. Seorang pria berdarah Italia yang begitu kental. Pria berusia tiga puluh tahun itu adalah seorang pemimpin kartel Sianola yang sangat disegani, namanya begitu terkenal dimana-mana, dan pria kejam itu sangat dihormati.


Sebuah mobil sudah terpakir di depan sana, Maximilian melangkahkan kakinya untuk masuk. Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang sehingga melalui jalanan kota Roma yang cukup padat dengan penduduk.


Bola matanya sedikit memincing saat melihat dua buah mobil yang terlihat sedang mengikutinya.


Mobil dilajukan dengan kecepatan penuh dan dua mobil dibelakangnya masih saja mengejar dengan kecepatan tinggi.


"Dia menyadarinya, Nyonya." ucap pria itu melalui sambungan earphone yang terpasang ditelinganya. Dia berusaha untuk mengejar mobil Maximilian yang terlihat menjauh.


"Ikuti terus, jangan sampai gagal. Lakukan sesuai rencana awal." ucap seorang wanita disebrang sana.


"Baik, Nyonya." sambungan dimatikan. Kaca jendela dibuka, sebuah kode ia berikan pada temannya. Keduanya mengangguk. Kedua mobil itu melesat dengan kecepatan penuh untuk mengejar mobil Maximilian. Kedua mobil itu berhasil menyusul mobil Maximilian sehingga posisi Maximilian di apit oleh dua mobil yang berada disisi kanan dan kirinya.


Maximilian terlihat tenang. Pria itu menggambil earphone dan memasangkannya di telinga.


"Urus dua mobil itu, Dom."


Dominic dapat mendengar amarah yang terselip dari ucapan bossnya.


"Baik sir."


Sambungan dimatikan dan tak lama kemudian, ada banyak mobil yang melesat dengan kecepatan tinggi sehingga memenuhi jalanan, mobil-mobil itu berusaha untuk menghalagi dua mobil yang sedang memburu tuannya.


Maximilian menyunggingkan senyum miringnya. Pria itu cukup puas dengan kinerja anak buahnya.


"Kudengar ada yang membuat masalah denganmu, Son? Apa kau baik-baik saja." suara pria paruh baya itu teedengar saat melihat putranya berjalan menghampiri meja makan.


"Hanya tikus kecil yang berusaha untuk bermain-main denganku, Dad. Tidak perlu khawatir." Maximilian terlihat santai. Raut mukanya terlihat biasa saja, tak ada ekspresi ketakutan yang ditunjukannya. Untuk apa dia merasa takut? Hal seperti itu sudah biasa terjadi dikehidupannya, bahkan dia pernah hampir sekarat.


"Berhati-hatilah, Max. Jangan biarkan tikus itu sampai mengigitmu." gurau sang ibu. Wanita paruh baya itu datang sembari membawa nampan yang berisi roti panggang.


Sang ayah terkekeh. Maximilian hanya diam mendengarkan ejekan sang ibu.


****


Seorang wanita terlihat marah saat anak buahnya tidak dapat ia hubungi. Mereka sudah pasti tertangkap. Maximilian sialan, akan dia beri pria itu pelajaran.


"Brengsek, membawa Maximilian sialan itu saja tidak bisa. Memangnya sehebat apa pria itu?" teriaknya marah. Ponsel dia lempar sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring di atas lantai.


Wanita itu terlihat kesal. Dia benar-benar marah.


"Jangan gegabah, Ele. Perlu rencana matang untuk menangkap Maximilian." seorang pria berjalan menghampirinya. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Diamlah, Jo. Aku sedang kesal." wanita yang dipanggil Ele itu berteriak. Elena Meyer itulah namanya. Wanita itu adalah seorang pembunuh bayaran. Dia sangat membenci Maximilian, pria itu adalah musuh terbesarnya. Misinya gagal berkali-kali hanya untuk menangkap pria itu. Dan dia sering mendapatkan amukan dari para kliennya.


"Jangan marah, gunakan kepala dingin untuk berpikir." Jonathan terlihat bijak. Pria itu menepuk sofa di sampingnya, meminta Elena untuk duduk.


Elena mendekati Jonathan, wanita itu menjatuhkan dirinya disisi Jonathan.


Dia menghela napasnya yang terasa berat.


"Sebenarnya siapa Maximilian itu, Jo? Kenapa sulit sekali untuk ditangkap."


"Bersabarlah Ele, aku sedang berusaha untuk mencari informasi tentangnya. Yang pasti pria itu cukup berbahaya, kau harus berhati-hati."


"Tidak bisa, aku sudah muak menunggu Jo. Sepertinya aku harus datang menemuinya." Elena terlihat serius. Tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara membalas pria itu adalah menemuinya dan memberinya pelajaran.