
NT lagi error guys maafkan🙏🏻 Maaf dari NT bukan saya, saya mah engga salah, udh update kok 😂 ini bab yang kemarin😪
Maxime dan Arsen baru sampai di tempat kejadian, Arsen menjalankan mobilnya bak seorang pembalap sampai beberapa mobil di jalan sampai tertabrak.
Keduanya keluar nafas terengah-engah karena menahan amarah, mereka mengedarkan pandangannya ke arah dua pria yang kini sudah menjadi mayat dan tertutup koran.
Orang-orang mundur melihat kedatangan Maxime dan Arsen.
"APA ADA YANG MELIHAT ADIKKU?" teriak Maxime.
Semua orang saling menatap satu sama lain, tadi mereka di ancam oleh pria yang membawa Miwa untuk tidak memberitahu Maxime atau nyawa mereka yang menjadi taruhan nya. Dan sekarang hal yang sama terjadi, Maxime juga pasti akan mengancam nyawa mereka. Menyesal mereka tidak pergi dari tempat itu.
"JAWAB!!" teriak Arsen.
"No-nona Miwa ... di bawa pria masuk ke mobilnya Tuan," sahut salah satu pria di sana dengan nada gemetar.
Sontak Maxime dan Arsen melebarkan matanya, mereka pun segera masuk kembali ke mobilnya. Kini, Maxime yang duduk di balik kemudi, mobil melaju begitu cepat seakan hendak terbang.
Kemudian Arsen menerima telpon dari Peter, ia mengangkat telpon tersebut lalu melebarkan matanya ketika mengetahui informasi yang Peter katakan. Milan di culik.
"Ada apa?" tanya Maxime datar dengan pandangan tertuju ke depan.
Arsen menghela nafas panjang. "Milan di culik," kata nya pelan.
"BRENGS*K!!"
Maxime menginjak pedal gas nya lebih kuat, kini mobil berada dalam kecepatan maksimum. Arsen terlihat santai, ini bukan kali pertama seperti sedang menaiki mobil terbang bersama Maxime. Ia duduk tapi serasa melayang.
Arsen menelpon beberapa anak buahnya menanyakan apa Recobra datang kembali ke Negara X atau tidak. Tapi jawaban mereka adalah tidak.
Tidak ada satu pun yang melihat anak buah Recobra kembali datang ke wilayah kekuasaan Yakuza dan Antraxs. Arsen menutup panggilan telpon nya setelah meminta mereka melacak keberadaan Miwa dan Milan di setiap tempat. Terutama hutan dan bangunan-bangunan tua yang jauh dari perkotaan.
"Kemungkinan yang menculik Miwa dan Milan bukan anak buah Recobra, karena mereka belum kembali ke sini."
"Felix membayar orang biasa untuk menculik Miwa dan istriku?"
"Bisa jadi," sahut Arsen.
Mereka menuju hutan mati yang jauh dari perkotaan. Entah kenapa pikiran Maxime tertuju kepada hutan tersebut yang jarang sekali di datangi orang-orang.
*
Sementara itu di sebuah bangunan tua yang tidak terlalu besar, Miwa dan Milan di sekap di balik jeruji besi seakan mereka seorang tahanan yang bersalah.
Di depannya ada dua pria yang berjaga, Miwa dan Milan di tidur kan di lantai dengan tangan diikat dan mulut di perban.
Lalu Felix berjalan menghampiri jeruji besi tersebut dan tersenyum melihat dua perempuan itu belum sadarkan diri.
"Bisa apa kau maf*a bod*h!" gumam nya.
Kemudian telpon nya berbunyi, panggilan masuk dari Rhea. Felix pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya?"
"Felix, bagaimana?" tanya Rhea dengan nada panik.
Felix tersenyum. "Aku berhasil Rhea, ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan. Kalau aku tau seperti ini, aku tidak akan meminta bantuan suami tua mu itu!!"
"Kau harus berhati-hati, aku khawatir denganmu. Sekarang apa rencanamu?"
"Aku akan mengancam Maxime agar memberikan seluruh perusahaannya, kalau tidak ..." Felix menyeringai tajam menatap tubuh Miwa dan Milan.
"Dia akan menyesal," lanjut Felix.
"Aberto datang." Rhea mematikan panggilan telpon nya.
"Jangan biarkan mereka lolos!" titah Felix kepada dua pria tersebut. Felix pun berjalan pergi.
Sementara itu Rhea sedang berdebat dengan Aberto di kamar.
"Lihat, Felix bisa melakukan nya sendiri! bantuanmu tidak berguna Aberto!! kau hanya diam dan diam!!"
Aberto menyunggingkan senyumnya. "Jadi Felix menculik dua perempuan itu."
"Tunggu saja kabar selanjutnya. Apa yang akan terjadi dengan Felix!" Aberto keluar dari kamarnya meninggalkan Rhea yang terlihat geram menatap kepergian Aberto.
*
Miwa perlahan bangun dari tidurnya, ia mengerang dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Lalu ia mengedarkan pandangannya, hanya ada beberapa lampu kecil yang membuat pencahayaan ruangan itu menjadi temaram.
Miwa perlahan menarik tubuhnya untuk duduk, lalu ia menoleh ke samping.
"Milan ..." batin nya dengan mata membulat sempurna. Karena mulutnya di perban ia hanya bisa membatin dalam hati.
Kemudian Miwa menatap ke depan, dua pria sedang berjaga.
"Apa ini ..." matanya berkeliling menatap dirinya yang di kurung di balik jeruji besi.
Miwa menggerakkan tangannya yang di ikat berusaha untuk melepaskan tangannya lalu ia mendengus kasar karena tidak terlepas.
Miwa hanya bisa menggerakkan bok*ng nya untuk mendekati Milan, kemudian ia mendendang-nendang tubuh Milan dengan kakinya agar gadis itu bangun.
"Eumm ... eumm ..." Miwa hanya bisa berteriak tidak jelas karena mulutnya di perban dengan kaki terus menendang tubuh Milan.
Dua pria tersebut yang mendengar suara menoleh ke belakang.
"HEI KAU!!" teriaknya.
Miwa menoleh menatap tajam seakan tidak terima dirinya di perlakukan seperti sekarang.
Kemudian Milan pun terbangun, gadis itu melebarkan matanya melihat keadaan Miwa di sampingnya. Apalagi ketika menyadari dirinya juga di ikat. Dengan bersusah payah Milan berusaha untuk duduk.
"Sudahlah, mereka tidak bisa kabur dari sini." kata pria itu kepada temannya.
Temannya hanya mengangguk lalu berjalan duduk tak jauh dari jeruji besi tempat Miwa dan Milan.
Milan berusaha membuka ikatan tali di tangannya yang cukup kuat. Kemudian Miwa menggelegkan kepala dengan maksud meminta Milan jangan menggerakkan tangannya lagi untuk melepas tali. Karena itu tidak mungkin berhasil.
Beberapa menit berlalu mereka hanya diam, dua pria itu sesekali menguap karena merasa ngantuk. Lalu salah satu dari mereka menepuk pundak temannya.
"Aku mau cuci muka dulu. Kau berjaga di sini."
Tersisalah satu pria yang menjaga Miwa dan Milan. Pria itu juga terlihat beberapa kali menutup matanya lalu mengerjapkan mata nya kemudian ketika sadari ia hampir ketiduran.
Miwa perlahan beringsut maju ke depan Milan dengan pelan-pelan. Setelah duduk di depan Milan, Miwa menoleh ke belakang dan memberi kode kepada Milan untuk merogoh sesuatu di saku celana bagian belakangnya.
Tidak sekali Miwa memberi kode dengan matanya karena Milan tidak langsung mengerti.
Miwa terus menggerakkan matanya ke arah saku belakang celana nya. Tangan mereka di ikat ke bagian depan, itu memudahkan Milan untuk merogoh pisau kecil yang Miwa bawa di saku celananya.
Milan perlahan merogoh saku Miwa dengan hati-hati lalu melebarkan mata ketika mendapati pisau kecil dari saku Miwa.
Miwa mengangguk-nganggukan kepala lalu berusaha berbalik menghadap Milan dan langsung memberikan tangannya. Mereka sempat menoleh ke arah pria yang duduk di kursi, pria itu tidur sekarang.
Milan pun membuka ikatan tangan Miwa dengan sekuat tenaga, karena sedikit sulit memotong tali tambang tersebut.
Sampai akhirnya usahanya berhasil, Miwa langsung membuka lakban di mulutnya dan giliran Miwa yang membuka tali yang mengikat tangan Milan.
Setelah keduanya berhasil, kemudian Miwa berteriak.
"HEI SAYANG!!"
Sontak pria yang tertidur tadi mengerjapkan matanya dan langsung melotot ketika melihat Miwa tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.
Pria itu pun langsung berlari dan Milan pun berbicara pelan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kau tenang saja," sahut Miwa santai.
"HEI KAU, KENAPA KAU BISA ..." Pria itu menatap tali tambang dan lakban yang ada di lantai.
"Santai saja, hanya melepas tali bukan melepas jeruji besi ini," sahut Miwa.
"Kau punya rokok tidak?"
Milan sontak menatap Miwa, keadaan seperti ini kenapa Miwa malah meminta rokok.
"Hei, berikan aku rokok. Aku ingin merokok."
"Duduklah dengan baik nona, jangan mencari masalah!" sahut pria tersebut.
Dengan tangan bersedekap dada Miwa pun menjawab. "Aku ini hanya meminta rokok, lagipula kabur saja aku tidak bisa!!"
"Cepatlah bagi aku rokok, kalau tidak aku akan terus berteriak untuk memecahkan gendang telingamu itu!!"
Pria tersebut berdecak, akhirnya mengambil rokok di saku celananya. Lalu melemparnya ke balik jeruji besi.
"Aku tidak suka rokok kotor ya!!" teriak Miwa. "Berikan lagi yang baru!!"
"Miwa--"
"Diam!" potong Miwa ketika Milan hendak berbicara.
"Kau ini di sekap banyak maunya!" pria itu pun mengambil rokok baru lalu memasukan tangannya ke jeruji besi menunggu Miwa mengambil rokok tersebut dari tangannya langsung.
Miwa tersenyum berjalan mendekat, tangannya terulur bukan mengambil rokok itu tapi malah menarik kuat tangan pria itu sampai tubuh pria itu tertarik menabrak jeruji besi.
Milan melebarkan matanya, melihat Miwa ternyata cukup kuat untuk menahan tangan pria itu agar tidak lepas.
"Lepaskan sial*n!!" pria itu menarik-narik tangannya.
"Kau bukan anak buah mafia ternyata, tidak ada tatto apapun di tanganmu." Miwa berkata dengan melihat pergelangan tangan pria itu.
Miwa tertawa meledek. "Kau pasti manusia yang butuh uang ..."
Miwa mengelus kepala pria tersebut dengan senyum menyeringai tajam lalu berbicara lembut tetapi penuh ancaman. "Sayang, yang kau butuhkan bukan uang. Tapi Tuhanmu ..."
Jleb
Tiga tus*kan dari pisau kecil terus masuk ke kepala pria itu, pria itu berteriak kesakitan.
"MILAN CEPAT AMBIL KUNCI NYA!!"
Milan dengan kaki gemetar melihat kepala pria itu di tus*k-tus*k dengan mudahnya oleh Miwa sempat mematung di tempat karena shock.
"MILAN!!" teriak Miwa lagi dengan tangan terus menusuk kepala pria itu.
Milan pun terlonjak kaget lalu berlari menghampiri pria itu dan merogoh kunci jeruji besi yang tergantung di samping celananya. Milan dengan tangan gemetar membuka jeruji besi tersebut.
Miwa mendorong tubuh pria itu sampai tersungkur ke belakang lalu keluar dengan cepat dari balik jeruji besi dengan Milan. Mereka berlari mencari jalan keluar sementara pria yang sudah berlumuran darah itu terus berteriak kesakitan.
Sungguh, teriakannya membuat Milan merinding.
Bersambung
Bab ini panjang kan?😁😁