
Beberapa bulan kemudian hidup keluarga De Willson kembali tenang, tidak ada gangguan sama sekali dari siapapun, mereka bukan tidak berusaha mencari Magma, mereka terkadang datang kembali ke mansion Aberto tapi selalu tidak menemukan anak itu.
Usia kandungan ketiga perempuan itu sudah masuk bulan persalinan, usia kandungan mereka hanya berbeda beberapa minggu saja.
Maxime, Arsen dan Daniel sedang melipat baju bayi. Mereka memilih warna biru dan putih agar netral untuk bayi perempuan dan laki-laki, mereka sendiri tidak tahu jenis kelamin bayi mereka. Saat USG mereka hanya meminta dokter untuk tidak menyebutkan jenis kelamin karena akan menganggap jenis kelamin anak mereka seperti kejutan.
"Kalau dua-duanya laki-laki bagaimana?" tanya Daniel.
"Buat lagi yang perempuan," sahut Maxime.
"Iya juga ya, tinggal buat lagi," sambung Daniel dengan terkekeh pelan membuat Tessa yang duduk di ranjang berdecak.
"Enak sekali kalau bicara," ucap Tessa.
"Ya kita kan mau anak laki-laki dan perempuan sayang," ucap Daniel.
"Kalau perempuan dua-duanya?" tanya Arsen kini.
"Buat lagi yang laki-laki," sahut Daniel membuat Arsen menggelengkan kepala.
"Kalian pikir melahirkan gampang," ucap Miwa.
"Gampang, tinggal ngeden," sahut Daniel.
"Lihat suamimu, Tess ..."
"Banyak yang mati karena melahirkan," ucap Milan tiba-tiba seraya mengelus perutnya. Semua orang langsung menoleh ke arah Milan.
"Ke-kenapa?"
"Jangan bicara sembarangan sayang," ucap Maxime.
"Aku benar, memang ada juga yang meninggal."
"Semoga saja kita berhasil melahirkan mereka," ucap Tessa sambil mengelus perutnya.
*
Hari kelahiran pun berlangsung, Milan lebih dulu karena usia kandungannya lebih tua. Miwa dan Tessa berada di mansion karena di larang datang ke Rumah Sakit oleh para suami, takut mereka trauma.
Arsen dan Daniel mengintip di balik jendela, mengintip Milan yang sedang berjuang melahirkan si kembar dengan sesekali berteriak, menangis dan menjambak rambut Maxime.
Javier dan yang lain juga tampak duduk dengan wajah gelisah menunggu kelahiran cucu pertama mereka.
Arsen menghela nafas kasar, sebentar lagi ia juga akan mengalami hal yang sama. Di sampingnya terlihat Maxime yang tak henti-hentinya menyemangati Milan.
"Ayo sayang ... ayo sayang ..."
"Ayo ... ayo ... sakit tau!!" kesal Milan.
"Tidak apa-apa sakit sedikit."
"Sedikit darimana kau tidak merasakan!!"
"Astaga malah bertengkar, ayo cepat ngeden lagi," ucap Dokter Rani dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Milan pun kembali berjuang melahirkan putranya, sampai akhirnya terdengar tangisan bayi yang membuat Maxime menghembuskan nafas dengan mata berkaca-kaca.
"Bayinya laki-laki," ucap Dokter Rani. Bayi tersebut di berikan kepada perawat untuk di bersihkan.
"Aku yakin yang ini perempuan sayang," ucap Maxime kepada Milan.
Javier dan yang lain langsung berdesakan mengintip di jendela kala mendengar suara tangisan bayi.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Javier.
"Perempuan sepertinya," sahut Sky.
"Ah tidak, sepertinya laki-laki," ucap Sekretaris Han.
"Ya, dia laki-laki. Lihat, kelaminnya," ucap Keenan yang melihat kelamin bayi pertama Maxime.
Kemudian Xander datang duduk di kursi roda yang di dorong oleh Thomas.
"Apa sudah lahir?" tanya Xander dengan suara seraknya membuat mereka yang mengintip membalikkan badannya.
"Baru satu, Grandpa," sahut Arsen.
"Perempuan atau laki-laki?"
"Laki-laki," ucap Javier.
"Belum. Baru satu," ucap Sky.
Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya dokter keluar dan mengabarkan kalau kedua anak Maxime dan Milan telah lahir sempurna. Mereka pun tampak bahagia.
"Apa kami boleh melihatnya?" tanya Liana.
"Tentu, silahkan masuk." Dokter Rani bergeser memberi jalan, kemudian mereka semua pun masuk.
"Bagaimana? laki-laki dan perempuan kan?" tanya Arsen.
Maxime menggeleng pelan. "Dua-duanya laki-laki ..."
Semua orang pun sontak melebarkan matanya.
"Benarkah? dua-duanya laki-laki?" tanya Kara.
Milan mengangguk. Kara yang sangat penasaran segera menghampiri box bayi untuk melihat si kembar.
"Astaga ... kenapa mukanya sama."
"Namanya juga kembar sayang," ucap Thomas yang berdiri di belakang kursi roda Xander.
"Itu namanya kembar identik." Dokter Rani menjelaskan. "Wajah mereka sama, orang lain pasti sangat sulit membedakan wajah mereka."
Sky dan Javier pun segera menghampiri box bayi tersebut dan melihat dua bayi yang sedang tertidur di sana.
"Iya. Benar-benar tidak ada bedanya," ucap Sky.
"Saat di bersihkan, saya melihat ada tahi lalat kecil di salah satu bayi itu," ucap Dokter Rani.
"Benarkah?" tanya Maxime. Dokter Rani mengangguk.
Maxime pun mencoba menggendong salah satu bayinya hanya untuk melihat tahi lalat di bagian belakang bayi tersebut.
"Oh ternyata yang ini yang ada tahi lalat sayang," ucap Maxime kepada Milan.
"Sudah memberikan nama untuk mereka?" tanya Xander menatap Milan. Milan pun menatap Maxime.
"Namanya, Muklis," ucap Jonathan yang membuat Keenan dan yang lain menahan tawa nya.
Maxime mendelik tajam ke arah Jonathan membuat Jonathan terdiam.
"Kalau namanya Muklis, yang itu namanya siapa?" bisik Aiden kepada Jonathan.
"Muklis dan Muhidin," ucap Jonathan seraya terkekeh pelan.
Daniel berdecak. "Bisa diam tidak kalian ini?"
Jonathan dan Aiden pun berdehem kemudian menutup rapat-rapat mulutnya.
"Namanya ..." Maxime menggantung kalimatnya menatap wajah putranya itu.
"Winter Louis De Willson dan Summer Louis De Willson ..."
"Wihhh ... Winter dan Summer," ucap Philip.
"Musim dingin dan musim panas. Itu kan artinya?" tanya Sergio.
"Iya, itu artinya. Kau ini tidak bisa bahasa english ya," ucap Keenan.
"Kemari, biarkan aku menggendongnya." Xander mengulurkan tangannya.
Maxime pun memberikan Winter dan Javier segera menggendong Summer dan memberikannya kepada Xander.
Xander tersenyum menatap dua bayi di pangkuannya. "Aku tidak akan melihat kenakalan mereka ketika dewasa nanti ..."
"Kenapa Grandpa?" tanya Milan.
"Umurku tidak cukup untuk melihat mereka sampai dewasa sepertinya," ucap Xander.
"Dad, jangan bilang seperti itu," ucap Sky.
"Mereka benar-benar tampan dan sulit di bedakan ..."
"Winter punya tahi lalat di belakang telinganya, grandpa, sementara Summer tidak," ucap Maxime menjelaskan.
Bersambung
Yang bilang Magma bakal jodoh sama anaknya Maxime mana nih? 🤣