
Milan masih duduk di ranjang setelah mengganti baju seragam nya, Maxime berada di dapur. Milan bisa mencium aroma daging yang sedang di masak, mereka tidak jadi makan mie untuk makan malam.
Maxime memutuskan memasak sendirian sementara Milan hanya termangu memeluk tubuhnya sendiri di ranjang. Sikap Maxime sangat berubah kepadanya, hanya karena melihat dua lambang di pergelangan tangan Maxime pria itu berubah menjadi pria yang kasar kepada nya.
Terbesit kesalahan di dalam diri Milan karena mencari tahu secara langsung soal identitas Maxime di pergelangan tangan pria itu.
Coba saja ia bisa lebih sabar, Milan bisa lebih hati-hati untuk mencari tahu soal dua lambang tersebut dan bisa kabur diam-diam dari petshop ini.
Tapi sekarang, kunci pintu depan saja Milan tidak tahu dimana.
Maxime membuka pintu kamar membuat Milan mendongak menatapnya. Pria itu membawa nampan berisi segelas air, daging yang ia masak dan beberapa buah-buahan.
Maxime menyimpan nampan di meja, mengambil segelas air dan memberikan nya kepada Milan.
Milan mengambil gelas tersebut dan meminumnya sedikit, gadis itu membuang muka tak mau melihat Maxime.
Maxime mengambil piring hendak menyuapi Milan makan tapi Milan menolak.
"Aku tidak lapar."
"Sedikit saja." Sendok di tangan pria itu kembali mendeki mulut Milan tapi gadis itu menepisnya pelan.
"Aku bilang aku tidak lapar."
Maxime menghela nafas. "Kau belum makan, Milan."
"Sudah, burger dan kentang bersama paman Keenan," sahut Milan.
"Itu tadi siang. Sekarang makan malam," balas Maxime.
"Aku makan nanti."
Maxime pun mengalah, ia menyimpan kembali piring nya di meja samping ranjang.
"Aku masuk nanti makanan nya harus habis."
Pria itu pun beranjak keluar meninggalkan Milan yang kini menggerutu sebal.
*
Arsen keluar dari mobilnya di depan mansion Maxime, ia berjalan masuk dan baru saja melewati pintu depan Miwa berlari ke arahnya.
"Kak Arsen ... Kak Arsen ..."
Arsen menghentikan langkanya. "Apa?" tanya nya kepada Miwa yang kini berada di depan nya.
"Kak Arsen antar aku ke mall, bisa?"
"Kapan?"
"Malam ini," sahut Miwa.
"Besok saja." Arsen hendak melangkah pergi tapi Miwa menahan tangan nya.
"Ayolahh, antar aku sebentar. Aku mau beli baju." Miwa merengek menggoyang-goyangkan lengan Arsen.
"Baju untuk apa? baju mu sudah banyak Miwa."
"Iya, tapi sudah di pakai semua. Aku mau baju baru kak. Mau ya ... ya ..."
Arsen menghela nafas. "Oke, kakak tunggu di mobil. Jangan lama."
Arsen berjalan kembali ke Mobilnya, padahal niatnya kembali ke mansion untuk istirahat tapi malah mendapat gangguan dari adiknya itu.
"Yeayy ..." Miwa melompat-lompat kecil lalu berlari ke kamar nya untuk dandan sebentar.
Lima belas menit kemudian Miwa membuka pintu mobil dan Arsen yang menoleh ke samping kini terpaku dengan penampilan Miwa. Lagi-lagi perempuan itu memakai baju kurang bahan. Hotpants nya terlalu pendek.
"Ayo kak ..." Miwa duduk seraya menyilangkan kaki nya membuat paha mulus nya semakin terlihat.
Arsen menggeleng lalu mengambil bantal kecil di kursi belakang dan menyimpan nya di atas paha Miwa.
"Loh, kenapa kak?"
"Masih tanya kenapa? kau mau Maxime menusuk paha terbuka mu itu!!"
"Kenapa menusuk paha ku, dia pikir paha ku paha ayam," jawab Miwa asal membuat Arsen berdecak.
"Masuk lagi dan ganti baju mu atau kita tidak jadi ke mall. Pakai dress selutut lebih bagus," ucap Arsen.
"Ohh ... jadi Kak Arsen suka liat aku pake dress? oke deh, aku pakai dress dulu."
Miwa pun segera keluar dari mobilnya membuat Arsen menepuk jidat nya.
Beberapa menit kemudia mobil melaju keluar dari kawasan mansion Maxime. Miwa sudah memakai dress hitam selutut, di perjalanan ia terus memainkan rambutnya seraya sesekali menoleh ke arah Arsen lalu tersenyum.
Arsen bukan tidak sadar dirinya terus di perhatikan, hanya saja ia bodo amat dengan sikap Miwa.
Arsen yang mulai merasa tak nyaman dengan tatapan Miwa akhirnya menoleh ke samping.
"Kenapa kau senyum-senyum."
"Aku hanya ingin tersenyum saja, memangnya tidak boleh huh," sahut Miwa.
"Miw-Miw ---"
"Stopp!!" Miwa mengulurkan telapak tangan nya ke wajah Arsen.
"Jangan panggil aku Miw-Miw lagi, mulai sekarang hanya kak Maxime yang boleh panggil aku itu."
"Kenapa?" Arsen menautkan kedua alisnya heran karena Miw-Miw panggilan kesayangan Maxime dan Arsen kepada adiknya, Miwa.
"Pokoknya Kak Arsen ga boleh panggil aku Miw-Miw. Karena itu panggilan untuk kakak kepada adiknya," sahut Miwa.
"Aku memang menganggap mu adikku," balas Arsen.
Miwa menggeleng. "Bukan, kita bukan adik kakak. Kakak ku hanya kak Maxi."
"Miww--"
Tiinnn
Mobil di belakang menekan klakson nya karena lampu sudah berwarna hijau dan Arsen tidak menyadari hal itu.
Miwa menurunkan kaca mobilnya dan berteriak ke mobil yang di belakang.
"SABAR HEI!! KAU PIKIR INI JALAN NENEK MOYANGMU!!"
Teriak Miwa kesal dan Arsen pun kembali menginjak pedal gas. Miwa kembali menutup kaca mobilnya dan menikmati indahnya jalanan di malam hari.
Sesampainya di parkiran mall, mereka keluar dari mobil dan Miwa berlari kecil mengitari mobil lalu memegang tangan Arsen.
"Jangan seperti ini!" Arsen melepaskan genggaman tangan Miwa.
Miwa menekuk wajahnya dan berakhir mengikuti langkah Arsen dari belakang seraya menggerutu.
Miwa membeli banyak baju, skincare, parfum, tas dan masih banyak lagi. Sementara itu Arsen duduk di pojokan membiarkan Miwa sibuk sendirian memilah-Milah apa yang akan di beli perempuan itu.
"Kak ini cocok engga?" Milan memperlihatkan tas kecil berwarna coklat.
Arsen mengangguk.
"Kalau yang ini?" ia mengangkat tas kecil berwarna hitam.
Arsen mengangguk lagi.
"Oke, dua-duanya saja." Dengan semangat ia membawa dua tas itu ke meja kasir tapi ketika hendak membayar ia melihat dua perempuan sedang berbicara dengan Arsen.
"Siapa mereka? gumam Miwa.
Miwa mendengus kesal melihat salah satu dari perempuan itu duduk di samping Arsen. Tangan Miwa tak sadar mengepal dan dengan penuh amarah ia berjalan dengan langkah cepat mendekati perempuan tersebut lalu.
PLAK
Ia menampar keras perempuan di samping Arsen membuat Arsen terkejut bukan main.
"Miwa!!"
Miwa hendak menyerang lagi tapi Arsen segera memeluk perempuan itu.
"Kemari kau jal*ng!!" teriak Miwa.
"Miwa hentikan!!" Arsen terus memeluk Miwa menghalangi perempuan ini dari dua perempuan yang berbicara dengan nya tadi.
"Apa kau lihat-lihat hah?" sentak Milan karena dua perempuan itu menatapnya dengan tatapan permusuhan.
"Miwa ..."
"Kak lepasin aku kak ..."
"Miwa stop!!"
"Lepaskan!!" Miwa terus memberontak sampai akhirnya.
"MIWA!!" terpaksa Arsen harus berteriak.
Miwa mematung menatap Arsen.
"Mereka itu istri dari salah satu rekan bisnis kakak mu," ucap Arsen membuat Miwa sontak melebarkan mata nya.
Bersambung