The Devil's Touch

The Devil's Touch
#164



Sesampainya di mansion, mereka masuk ke kamarnya, Milan mematung di tempat ketika pintu kamar terbuka dan melihat gaun pengantin yang indah di dalam kamarnya. Maxime tersenyum.


"Ini hadiah untuk kelulusanmu nanti," bisik Maxime di telinga Milan.


"A-apa?" Milan menoleh.


Maxime tersenyum lalu berjalan mendekati manekin itu untuk melepas gaun pengantinnya lalu memberikannya kepada Milan.


"Coba sayang, aku mau melihatnya."


Milan berjalan perlahan dengan tatapan terus tertuju dengan gaun pengantin yang terlihat mewah bak putri kerajaan.


"Aku tidak mau mencobanya sekarang," ucap Milan yang membuat Maxime melebarkan matanya.


"Kenapa? kau tidak berpikir untuk menolak menikah denganku kan sayang? awas saja!"


Milan mendengus. "Mana mungkin, setiap hari sudah tidur bersama!"


"Lalu kenapa?"


"Aku ... aku ingin kau pertama kali melihatku memakai gaun ini ketika me-menikah nanti ..."


Tatapan Maxime yang tegang tadi karena berpikir Milan mau menolaknya pun akhirnya melunak, ia mulai mengembangkan senyumnya lalu berjalan mendekati Milan.


"Jadi kau menerima hadiah dariku ini?" tanya Maxime.


Milan pun perlahan mengangguk membuat senyuman Maxime semakin merekah. Kemudian pria itu memeluk Milan seraya berkata. "Hadiah kelulusanmu dariku menjadikanmu istriku ..."


Milan tersenyum membalas pelukan Maxime. "Aku sudah menyiapkan cincin pernikahan kita."


"Mana coba aku lihat?" tanya Milan semangat setelah mendorong tubuh Maxime.


Maxime pun menggelengkan kepalanya. "Sama sepertimu, nanti saja pertama kali melihat cincin itu ketika menikah."


Milan menekuk wajahnya membuat Maxime tersenyum lalu memainkan pipi Milan gemas. "Pipimu semakin besar setelah tinggal di sini ..."


"Sebelum tinggal di sini, aku jarang makan. Tapi di mansion mu aku seperti seekor babi." Milan cemberut.


"Aku tidak keberatan menampung Ibu babi dan anak-anaknya di mansion ini."


Milan melebarkan matanya. "Kau benar-benar menganggap ku babi?"


Maxime mengangkat kedua bahunya. "Bukan aku, kau yang mengatakan nya."


Milan memukul kesal dada Maxime. "Ish, kau ini kenapa menyebalkan!!"


"Aku bercanda ... aku bercanda sayang ..." Maxime berusaha meluluhkan kekesalan Milan dengan pelukan. Milan tetap cemberut di pelukan Maxime sementara pria itu hanya terkekeh pelan.


*


Empat hari masa ujian itu berlalu begitu cepat, ini hari terakhir Milan ujian, setiap hari nya Maxime selalu mengantar Milan ke sekolahnya hanya untuk memberi semangat kepada gadis itu.


Setiap Milan masuk ke kelas untuk melaksanakan ujian nya, Maxime selalu menunggu di kantin, terkadang keinginan dirinya untuk melihat Milan di kelasnya selalu ada, tapi Maxime berusaha menahan. Tidak mau menganggu Milan karena takut gadis itu tidak bisa fokus, padahal bisa saja Maxime masuk sebagai pengawas ujian.


Hari terakhir ujian Keenan dan yang lain sempat menawarkan diri untuk menjadi pengawas ujian tapi Maxime tentu saja menolak karena takut ada yang pipis di celana ketika ujian kalau pengawasnya Keenan dan yang lain.


Milan keluar dari kelasnya, berlari ke kantin seperti biasa untuk mencari Maxime. Tapi ternyata pria itu tidak ada di sana, Milan mengedarkan pandangan nya mencari-cari pria itu di setiap sudut kantin tapi tetap tidak ada.


"Kemana dia," gumamnya.


"Astaga Pak Asep bikin kaget aja." Milan mengusap-ngusap dada nya.


"Hehe maaf. Tadi saya liat banyak orang di parkiran, kalau tidak salah ada Tuan menyeramkan juga," ucap Pak Asep setengah berbisik.


"Tuan menyeramkan?" Milan menaikkan satu alisnya.


"Tuan Javier," sahut Pak Asep.


"Hati-hati bilang Tuan Javier menyeramkan, bisa-bisa kepala Pak Asep di penggal." Milan setengah berbisik dengan wajah serius. Ia sedang menggoda ketakutan Pak Asep, satpam sekolahnya.


Milan pun pergi meninggalkan Pak Asep yang mematung datar. Milan hanya berlari seraya tertawa mengingat muka Pak Asep yang ketakutan sampai mematung di tempat.


Milan menghentikan langkahnya ketika di parkiran melihat keluarga besar Maxime hadir. Javier, Sky, Sekretaris Han, Kara, Thomas, Liana, Arsen, Miwa sampai geng Keenan pun ada di sana.


Milan tidak berpikir kalau mereka semua akan hadir di hari terakhir ujian nya, Milan mencengkram roknya merasa gugup dengan kehadiran mereka, takut jika nilai nya membuat mereka kecewa nanti.


"Calon istrimu," ucap Sky kepada Maxime.


Maxime pun menoleh ke belakang lalu tersenyum. "Sayang ..."


Milan tersenyum kaku lalu berjalan menghampiri mereka semua.


"Milan ..." Sky menyapa dengan ramah seraya memeluk gadis itu.


"Kau pasti gugup kan?" tanya Sky.


"Sedikit Mommy Sky," sahut Milan.


"Ah, soal nilai jangan di pikirkan Milan. Nilai tidak menentukan masa depan, takdir terkadang lucu, orang pintar bisa saja masa depan nya lebih buruk dari orang bodoh. Aku dulu tidak pintar-pintar amat tapi masa depanku terjamin tanpa kekurangan apapun. Iya kan sayang?" Liana menyikut Thomas yang berdiri di sampingnya.


"Itu karena kau menikah dengan Thomas, coba saja kalau kau tidak menikah dengan Thomas paling masih jadi pelayan cafe sampai sekarang," ledek Jonathan.


"Kau juga kalau tidak masuk Yakuza paling masih jadi penjual ice cream." Liana membalas tak mau kalah.


Yang lain hanya menggelengkan kepala melihat Liana dan Jonathan yang terus saling meledek satu sama lain. Thomas saja malas meleraikan mereka.


"Cukup!" ucap Maxime.


"Berantem terus seperti anak kecil saja," sambung Javier.


"Sayang kau tidak mau membelaku?" tanya Liana kepada Thomas. Thomas hanya menggelengkan kepala membuat Liana mendengus.


"Sudalah, kita ke kantin saja aku lapar." Kara melengos meninggalkan yang lain diikuti Sekretaris Han.


"Mengisi perut jauh lebih baik." Aiden ikut menyusul Kara.


"Satu-satu nya yang punya nasib buruk hanya Philip, karena tidak mendapatkan jodoh setelah memelihara anak babi!" Keenan pergi setelah mengatakan hal itu membuat Philip kepanasan sendiri.


"Kurang aj*r manusia itu!!" kesal Philip ikut menyusul Keenan dan yang lain.


Maxime, Sky dan Javier hanya menggelengkan kepala melihat mereka yang tak henti-hentinya adu mulut.


Sementara Arsen dan Miwa asik berduaan, saling berbisik lalu tertawa.


Bersambung