
Mereka mulai kelas pagi ini dengan menulis angka 1. Sebelumnya mereka berdoa bersama, lalu memperkenalkan diri masing-masing di depan teman-temannya, mereka juga bernyanyi bersama sebelum mulai belajar.
Summer duduk di samping Winter. Yang lain sibuk menulis angka 1 di buku. Summer sibuk membuka permen.
"Nih Wintel ..." Summer menyodorkan permen ke mulut Winter.
Winter menggeleng dan menjauhkan permen itu dari mulutnya lalu kembali menulis.
"Ini Wintel ... pelmen susu." Summer kembali menyodorkan permen tersebut.
Lagi-lagi Winter menjauhkan permen itu dari mulutnya. Ia kembali menulis lagi membuat Summer mendengus kasar lalu memasukan permen itu ke mulutnya sendiri.
Sekarang Summer sibuk menyerut pensil. Ia menyerut semua pensil yang baru yang ada di kotak pensil miliknya.
Padahal sebelum berangkat Milan sudah menyerut dua pensil untuk Winter dan Summer.
Suara dari rautan pensil itu sedikit menganggu Winter sampai anak itu menghela nafas kasar. Tapi Summer tidak perduli, ia terus menyerut semua pensil itu, ketika semua pensil di kotak pensil miliknya telah habis, ia mengambil kotak pensil milik Winter.
"Jangan!" ucap Winter menahan kotak pensil miliknya.
"Bial aku selut dulu Wintel."
Winter menggeleng dengan memasang wajah dingin membuat Summer akhirnya tak jadi menyerut pensil milik sodara kembarnya itu.
Winter pun menoleh ke samping, melihat ada kotak pensil di meja milik Nala.
Summer pun turun dari kursinya hendak mengambil kotak pensil milik Nala tapi Nala lebih cepat mengambil kotak pensil nya itu.
"Jangan nakal," ucap Nala.
"Summer ..." Perempuan muda yang bernama Irina itu salah satu guru di TK Melati. Ia menghampiri Summer lalu sedikit membungkukan badannya.
"Summer kenapa turun dari kursi hm?"
"Mau selut pensil Nala Bu gulu," sahut Summer.
"Pensil Nala masih bagus Bu gulu," pekik Nala.
Irina tersenyum mengelus kepala Summer. "Nala bilang pensilnya masih bagus, pensil Summer juga udah di serut semua. Sekarang, Summer belajar menulis dulu ya."
"Gak ah, nanti aja tulisnya di rumah di ajalin Dad."
"Nanti di rumah Ibu kasih tugas lagi loh. Nanti makin banyak yang harus Summer tulis."
Setelah hening beberapa saat akhirnya Summer mengangguk. Ia kembali duduk di kursinya. Sebelum menulis ia melihat buku Winter, Winter sudah menulis banyak angka 1 di bukunya.
Summer tidak mau kalah, ia ingin selesai lebih dulu dari pada Winter. Alhasil Summer menulis angka satu yang sangat besar di bukunya, garis lurus itu di buat dari atas sampai ujung buku paling bawah, walaupun tidak lurus setidaknya Summer senang karena lebih dulu selesai dari pada Winter.
"Ibu aku udah ..." teriak Summer turun lagi dari kursinya berlari mendekati meja guru. Winter mendongak, mungkin ia heran padahal Summer baru saja duduk.
"Cepat sekali, coba Ibu lihat."
Summer menyengir dengan percaya diri kalau hasilnya akan benar. Irina melebarkan matanya lalu menggeleng pelan.
Ia kemudian menatap Summer. "Summer ... ini salah sayang ..."
"Angka satu kan bu ... Itu Ibunya angka 1 jadi besal. Anaknya lagi di tulis Wintel ..." Summer menunjuk Winter karena ia melihat angka 1 yang ada di buku Winter itu kecil-kecil.
Anak-anak yang lain tertawa mendengar jawaban Summer.
Irina terkekeh pelan. "Summer, ini bagus. Tapi yang benar itu angka satu yang seperti Winter."
"Jadi halus kecil dan banyak?" tanya Summer.
"Iya, begitu sayang. Tulis lagi ya ..."
"Oke deh." Summer kembali membawa bukunya ke meja.
Ia menulis angka satu di lembaran yang baru, sesekali menoleh ke buku Winter hanya untuk melihat apa yang ia tulis sama dengan Winter.
Summer mengangkat tangan. "Ibu mau pipis ..."
"Mau pipis, yasudah yuk Ibu antar."
Summer menggeleng. "Ibu pelempuan, aku mau sama uncle aja di lual. Uncle aku ada di lual ..."
"Yasudah kalau mau sama uncle ..."
Summer keluar dari kelas, Winter sempat menatap kepergian Summer sebelum akhirnya kembali menulis.
"Ibu aku kelual dulu," ucap Winter dengan mengangkat tangannya.
"Winter mau kemana?"
"Cari Summel ..."
"Biar Ibu aja ya."
"Sebental aja Bu ..."
Irina menghela nafas. "Yasudah, boleh ..."
Ketika Winter keluar ada anak perempuan yang menatap kepergian Winter.
Winter berlari ke kamar mandi, ternyata Summer tidak ada di kamar mandi. Ia sempat melihat para uncle nya itu sedang makan di kantin tapi tidak ada Summer juga di sana.
Alhasil Winter berlari mencari Summer ke luar sekolah. Ada penjual ice cream di depan gerbang sekolah Tk Melati.
Dan Winter melihat Summer sedang makan ice cream sendirian di sana dengan duduk di trotorar jalan.
"Summel ..." Winter berdiri di depan Summer.
Summer perlahan mendongak lalu melebarkan mata dan segera menyembunyikan ice cream nya di belakang tubuhnya.
"Ayo masuk ..." Winter menarik tangan Summer. Ketika berjalan penjual ice cream itu berteriak.
"Nak, kau belum bayar ..."
Si kembar itu menghentikan langkahnya. Winter berbalik menghampiri penjual ice cream itu lalu merogoh uang di saku celananya.
"Ini, ambil kembalian nya," ucap Winter lalu kembali menarik tangan Summer.
"Kembalian dari mana anak kecil. Uang mu pas!" teriak penjual ice cream tersebut sambil menggelengkan kepala.
Sebenarnya Winter sendiri tidak tahu berapa uang yang ia keluarkan dari saku celana nya. Hanya saja kalimat 'ambil kembaliannya' itu selalu ia dengar dari Milan sang Ibu. Akhirnya Winter mengikuti cara Ibunya berbicara saja.
"Wintel mau pup," ucap Summer yang berjalan di belakang Winter dengan satu tangan masih di pegang Winter.
Winter pun berbelok ke kamar mandi tidak jadi ke kelas.
"Aku panggil uncle dulu ..."
"Gak ah, Wintel. Aku bisa cebok sendili ... tunggu di sini ya ..."
Summer melepas celananya dan menyimpannya di wastafel lalu segera masuk ke toilet. Winter menunggu di depan pintu toilet.
Summer duduk di kloset memandang atap kamar mandi. Ada cicak di atas sana, Summer pun bernyanyi dengan menggerakan kepalanya ke kanan ke kiri.
"Cicak-cicak di dinding ..."
Summer berhenti sejenak, karena ia lupa dengan lirik lagu selanjutnya. Lalu ia bernyanyi asal.
"Di dinding ada cicak ... Cicak-cicak di dinding, di dinding ada cicak ..."
"Salah Summel ..." teriak Winter dari depan pintu kamar mandi.
"Gimana Wintel?" tanya Summer juga berteriak.
Winter celengak-celinguk memastikan tidak ada orang di kamar mandi selain mereka berdua, lalu ia mulai bernyanyi.
"Cicak-cicak di dinding, diam-diam melayap, datang seekol nyamuk ..."
"HAP ..." Summer berteriak Hap lebih dulu dengan keras sambil menepuk tangan nya.
"Lalu di tangkap ..." sambung keduanya secara bersamaan.
Winter tidak tahu kalau ada gadis kecil yang diam-diam mengintip di balik pintu kamar mandi. Gadis kecil itu tertawa dengan menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Winter, ia hanya merasa lucu karena Winter di kelas selalu diam dan tidak banyak bicara tapi ternyata bisa bernyanyi juga.
Bersambung
Winter
Summer