
"Miwa!!" Arsen melangkah memanggil Miwa yang berjalan ke kamarnya seraya memakan cupcake hasil buatan nya.
Miwa berbalik. "Iya kak?"
"Ada apa denganmu? kenapa melarang Kakak membuat makanan untuk Tessa. Dulu kau tidak seperti ini."
Miwa menaikkan satu alisnya. "Melarang?" lalu menggelengkan kepala. "Tidak kak, aku tidak melarang. Aku hanya memberitahu Tessa kalau pipi nya sudah sangat chubby. Dia kan sangat takut gendut."
Miwa menyimpan kembali ke piring setengah cupcake yang sudah di gigit nya.
"Kakak tau kau melarang kakak, jangan bohong!" Arsen berkata dengan ketus.
Miwa mendengus. "Aku tidak suka kakak dekat dengan perempuan lain!"
"Dia adikmu juga Miwa!!" sahut Arsen penuh penekanan.
"Aku tau, tapi bagaimana kalau Tessa juga diam-diam menyukaimu, Kak! aku tidak mau bersaing dengan nya!!"
"Itu tidak mungkin Miwa, dia tidak sepertimu!!"
"Apa yang salah dengan aku?" tanya Miwa kesal.
"Kau salah karena bersikap seperti ini denganku sekarang. Aku ini kakakmu!!" Arsen menunjuk dirinya sendiri dengan geram.
"Tidak, kakak ku hanya kak Maxi. KAK MAXI!!" teriak Miwa.
"MIWA--"
"AKU MENCINTAIMU KAK APA YANG SALAH DENGAN ITU!!"
PRANG
Arsen dan Miwa sontak menoleh dan mereka terbelalak ketika melihat rombongan Keenan ada di belakang mereka dengan raut wajah terkejut memandangi mereka berdua. Bahkan mulut mereka sampai sedikit terbuka dan yang jatuh tadi toples makanan yang di bawa Aiden dari mansion Javier ke mansion Maxime.
Sepanjang jalan di mobil Aiden terus ngemil sendirian.
"Un-uncle ..." panggil Miwa terbata.
Arsen menghela nafas lalu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia yakin rombongan yang di bawa Keenan mendengar teriakan Miwa tadi.
"Ka-kami ... kami kesini untuk mengantar ponsel mu." Keenan mengulurkan tangan nya yang memegang ponsel Miwa.
Miwa berjalan mendekati Keenan dan mengambil ponsel nya. "Terimakasih uncle." ia berbalik untuk pergi setelah tersenyum samar kepada Keenan.
"Tunggu ..."
Miwa menghentikan langkahnya dan Arsen pun langsung mendekat menarik tangan Milan seraya berkata.
"Tutup telinga kalian dari apapun yang kalian dengar!"
Baru tiga langkah Keenan kembali berkata. "Aku bilang tunggu!" kali ini ia terlihat serius.
Arsen menghela nafas, keduanya kembali mematung di tempat seperkian detik lalu membalik menatap Keenan dan yang lain.
"Mari kita bicara," ajak Keenan lalu melengos ke tempat sepi di ikuti yang lain.
Dengan pasrah Arsen dan Miwa pun menurut. Mereka berada di sebuah ruangan yang jauh dari dapur dan kamar Tessa maupun Ara.
Mereka semua duduk di sofa, Athes and the geng saling menoleh satu sama lain kala berhadapan dengan Arsen dan Miwa.
"Sudah aku bilang, tutup telinga kalian dari apapun yang kalian dengar!" ucap Arsen seraya mengepalkan tangan geram.
"Bicaralah sopan dengan Paman mu ini, Ar! atau aku adukan dengan Ibumu!!"
Arsen berdecak, sulit jika berhadapan dengan Keenan. Tidak mungkin ia harus membunuh kakak dari Ibunya itu.
"Jadi kalian benar saling suka?" tanya Philip tanpa basa-basi.
"Tidak!"
Arsen dan Miwa menjawab bersamaan dengan jawaban berbeda.
Arsen dan Miwa pun saling menatap kini, seolah-olah mata Arsen bertanya kenapa Miwa mengatakan 'Iya."
Keenan menghela nafas. "Aku kira hal seperti ini tidak akan terjadi," gumam nya.
"Lagi pula aku kan tidak sedarah dengan Kak Arsen, jadi tidak ada salahnya kalau aku menyukai dia!" lanjut Miwa.
"Jangan dengarkan dia, dia hanya bercanda!" sambung Arsen.
"Aku benar-benar mencintaimu kak. Kakak tenang aja, mereka itu hanya uncle miskin yang butuh sumbangan," bisik Miwa.
"Eekkhemm ..." Athes and the geng berdehem seolah tak terima dengan sebutan si miskin butuh sumbangan.
Miwa mendengus lalu beranjak dari duduknya. "Tunggu sebentar."
Ia berjalan ke kamarnya. Tiga menit kemudian ia kembali dengan memegang dompet kecil.
Ia mengeluarkan kartu dari dompet nya dan melemparnya ke meja. "Beli apapun yang kalian mau dan tutup mulut kalian!" .
Semua orang terbelalak termasuk Arsen, tingkah Miwa ini sangat mirip dengan Maxime yang melempar blackcard kepada Keenan. Wajar sama, mungkin karena mereka kembar.
"Kau ini apa-apaan!!" ucap Arsen mengambil kembali kartu yang di lempar Miwa.
Miwa kembali merebutnya. "Sudah berikan saja!"
"Iya berikan saja kepada kami, mulut memang harus ada penutupnya agar diam," ucap Jonathan.
"Ya, Jon benar," sambung Nicholas.
Keenan menggosok hidungnya seraya tersenyum. Ia bangga bisa memalak si kembar anak Javier dan Sky ini.
"Kalian---"
"Mau aku adukan dengan Ibumu, Ar?" potong Keenan.
Arsen mengepalkan tangan menatap Keenan dengan tatapan permusuhan dan Keenan hanya menarik ujung bibirnya tersenyum.
"Berikan kartu nya." Philip mengulurkan tangan nya dan Miwa memberikan nya kepada Philip.
"Rahasia kalian pasti aman di tangan kami seperti rahasia Max-- Akhh!!"
Belum selesai Philip berbicara kakinya di injak Athes yang duduk di sampingnya.
"Max?" Miwa menaikkan satu alisnya menatap Philip.
"Sudah, lebih baik kalian pulang saja," potong Arsen untuk menyudahi pembahasan ini agar Miwa tidak bertanya lebih jauh.
"Baiklah, kita pergi dulu."
Keenan dan yang lain pun beranjak dari duduknya.
"Aku bertemu dengan istriku dulu."
"Kemana dia?" tanya Philip.
"Bertemu Ara, istrinya siapa lagi!" sahut Jonathan.
"Oh Ara mantanmu itu." ucap Philip.
"Sudahlah jangan membahas masa lalu," ujar Keenan melengos meninggalkan mereka.
Bersambung