The Devil's Touch

The Devil's Touch
#125



Maxime menyajikan udang asam manis nya ke piring, ia membawa nya ke minibar di dapur. Tepat ketika ia duduk, ia mendongak menatap anak tangga. Milan berjalan menuruni anak tangga menghampiri Maxime ke dapur.


"Sayang ..." panggil Maxime.


"Kau di sini ternyata." Milan menarik kursi dan duduk di samping Maxime.


"Jam segini, makan udang ..."


"Aku lapar," sahut Maxime seraya tersenyum lalu mengambil udang tersebut hendak menyuapi Milan tapi gadis itu menolak.


"Aku tidak suka kulit udang," sahut Milan.


"Kau seperti Miwa, harus di kupas dulu." Maxime terkekeh kecil lalu menguliti kulit udang tersebut, dirinya sendiri lebih suka makan udang dengan kulitnya.


"Aaaa ..." Maxime menyuapi Milan udang yang sudah di buang kulitnya. .


"Bagaimana?" tanya Maxime.


Milan mengangguk. "Enak."


"Kau keluar kamar hanya untuk mencariku?" tanya Maxime yang di jawab anggukan kepala dari Milan.


Maxime tersenyum, mungkin ini pertama kali Milan mencari dirinya ketika keluar kamar. Biasanya Milan tidak terlalu perduli, apa perasaan gadis itu sudah mulai bertambah sekarang.


Di saat asik menyuapi Milan, Tessa menuruni anak tangga dan langkahnya terhenti kala melihat Maxime dan Milan tertawa seraya makan bersama.


Dia cemburu? jawaban nya, iya.


Tessa putar balik hendak ke kamar tapi lebih dulu di panggil oleh Maxime.


"Tessa ..."


Tessa mematung di tempat menghela nafas lalu kembali berbalik perlahan menatap Maxime dari anak tangga. Maxime terlihat melambaikan tangan meminta nya datang menghampiri bersama dengan Milan yang tersenyum ke arahnya.


Tessa tersenyum samar lalu berjalan menghampiri mereka, niatnya ke dapur hanya untuk mengambil minum. Tapi malah melihat Maxime berduaan dengan Milan. Tessa duduk di depan mereka.


"Tidak bisa tidur atau kebangun?" tanya Maxime.


"Kebangun kak, mau ambil minum," sahut Tessa.


Maxime mengangguk-ngangguk lalu kembali menyuapi Milan udang. Tessa yang melihat itu hanya menelan saliva nya susah payah, ia ingat dulu ia juga pernah di suapi oleh Maxime maupun Arsen.


"Mau udang juga?" tanya Maxime.


"Siapa yang masak?" Tessa balik bertanya.


"Maxime ...," sahut Milan dengan tersenyum ramah.


"Oh iya? pasti enak, kak Maxi pintar masak sama seperti Mommy Sky."


Maxime tersenyum lalu mengambil udang dan menyuapi Tessa. Tessa dengan senang hati menerima suapan dari Maxime, suapan kakak untuk adiknya.


"Kau makan dengan kulitnya?" tanya Milan.


Tessa mengangguk. "Aku suka kulit udang, Kak Maxi juga. Hanya Kak Arsen dan Miwa yang tidak suka."


"Dan sekarang ditambah dia," sambung Maxime seraya menoleh kepada Milan.


"Ohh ... kau juga tidak suka kulit udang?" tanya Tessa.


Milan menggeleng. "Rasanya aneh ..."


Maxime dan Tessa hanya terkekeh, Milan tersenyum. Setelah cukup lama tinggal di mansion mungkin ini pertama kali bisa duduk bersama Tessa seraya mengobrol, walaupun sering sarapan bersama atau makan malam bersama Tessa lebih banyak diam di meja makan.


Pikiran buruk Milan yang merasa Tessa membenci nya hilang sudah. Ia merasa Tessa cukup ramah, katanya dia cerewet tapi menurut Milan jauh lebih cerewet Miwa.


"Kau suka melukis?" tanya Milan.


Tessa mengangguk. "Aku suka dari kecil, melukis apa saja kecuali pohon kelapa ... Aku suka meminta bantuan kepada Kak Maxi untuk membuat pohon kelapa di kanvas."


"Kau bisa melukis wajah seseorang?" tanya Milan lagi.


Tessa kembali mengangguk. "Aku sering melukis wajah Kak Maxi ..."


Maxime dan Milan menoleh ke arahnya dengan penuh tanya.


"Hehe bukan hanya Kak Maxi, tapi kak Arsen dan Miwa juga," ucap Tessa dengan senyum yang di paksakan.


Kenapa ia merasa Maxime tidak terlalu suka ketika ia mengatakan ia melukis wajahnya.


"Kau punya bakat yang bagus, aku jadi iri. Karena aku tidak bisa apa-apa ..."


"Tapi kau bisa mendapatkan Kak Maxi ... kau lebih beruntung Milan," ucap Tessa seraya tersenyum getir.


"Lagi pula punya bakat tapi tidak bahagia juga untuk apa?" lanjut Tessa tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.


Milan yang bingung dengan ucapan Tessa hanya melirik ke arah Maxime. Apa Tessa sedang tidak bahagia sekarang.


"Kau baik-baik saja?" tanya Maxime penuh selidik menatap adik angkatnya itu.


Tessa mengangguk. "Aku baik-baik saja kak ..."


"Jangan bohong, jangan terbiasa memendam masalah terus-menerus ..." Maxime berkata dengan tatapan serius kepada Tessa.


"Aku serius kak ... aku baik-baik saja."


Tessa selalu keras kepala dengan memendam masalahnya sendiri, Maxime tahu itu. Bukan tidak mau mencari tahu, Maxime memilih membiarkan Tessa sendiri yang akan mengatakan masalahnya jika memang Tessa tidak baik-baik saja.


Maxime dan yang lain sudah hafal, sekeras apapun di paksa Tessa tidak akan mau cerita kalau ia masih belum siap berbagi cerita dengan yang lain.


"Yasudah ... tapi kau harus tau, kakak sangat menunggu untuk kau mau bercerita."


Tessa hanya mengangguk pelan seraya tersenyum samar.


*


Mereka kembali ke kamar masing-masing, Maxime duduk di sofa sementara Milan sedang mengecek ponselnya, siapa tahu ada pesan masuk atau notif dari sekolah. Ternyata isi grup kelasnya hanya menggibah tidak jelas.


Milan kembali menyimpan ponselnya di meja dan menghampiri Maxime.


"Sebentar lagi kau ujian sayang, sudah dekat dengan kelulusan sekolahmu. Kau mau kuliah?"


"Kuliah?" Milan menaikkan satu alisnya. "Aku saja tidak yakin aku bisa kuliah, bukan masalah uang. Tapi masalah otakku ..." Milan menghembuskan nafas membuat Maxime tertawa, belum apa-apa gadis itu sudah menyerah sama sekali sikapnya dengan Miwa.


"Pikirkan saja dulu, kalau serius mau kuliah aku akan mencarikan kampus yang cocok untukmu. Tapi tetap saja, nanti kalau sudah wisuda tidak boleh bekerja, diam saja di mansion dan layani aku ..."


"Kalau begitu untuk apa aku kuliah?"


"Untuk mengembangkan otak sempitmu ini," sahut Maxime seraya tertawa mengacak-ngacak gemas rambut Milan.


Milan mengerucutkan bibirnya, membayangkan kuliah saja ia sudah malas. Otak sempitnya benar-benar tidak mau berkembang.


"Sayang berdiri dulu ..."


Milan tidak banyak bertanya, ia langsung menurut dan berdiri dari duduknya. Maxime mengangkat kedua kakinya untuk tiduran di sofa.


"Kemari ..." Ia menepuk-nepuk dada nya meminta Milan naik ke atas tubuhnya.


Lagi-lagi Milan menurut, Ia telungkup di atas tubuh Maxime dengan punggung nya yang di elus-elus tangan Maxime.


"Tujuh puluh?" tanya Maxime.


Milan mendongak. "Apa?"


"Masih tujuh puluh?" Maxime tersenyum miring. "Sepertinya sudah naik sekarang. Jadi seratus ..."


Milan perlahan tersenyum, baru mengerti maksud dari perkataan Maxime.


"Ya, seratus ..." Milan langsung menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu di dada bidang pria itu.


Maxime terkekeh memeluk Milan begitu erat nya seraya mencium puncak kepala gadis itu.


"Terimakasih ..." ucap Maxime dengan tulus. "Aku sudah bilang tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan tiga puluh darimu, ini belum seminggu sayang ..."


"Itu karena aku sudah menerima identitasmu mafia galak," sahut Milan seraya mendongak.


Maxime menggulingkan tubuh Milan ke samping, sofa nya cukup luas untuk di tiduri berdua.


"Aku galak karena melindungi hmm ..." Maxime menci*mi pipi Milan gemas seraya memeluknya kuat.


Kali ini Milan tidak memberontak atau membantah ucapan Maxime, ia hanya tertawa dengan pria itu. Karena ia pun sadar, kematian Daffa hari itu bukan sepenuhnya salah Maxime. Tapi salah Daffa sendiri.


Dan Miwa juga sering berbicara dengan Milan kalau Maxime tidak mungkin membunuh tanpa sebab. Kecuali jika orang lain yang memulai duluan.


Bersambung