
Milan dan Miwa kini berada di satu ruangan yang sama, atas permintaan Miwa yang ingin sekamar dengan Milan dan Maxime.
Keduanya masih duduk di ranjang masing-masing dengan meluruskan kakinya dan selimut menutupi tubuh mereka sampai pinggang.
Sementara Maxime dan Arsen duduk di sofa yang sama. Maxime sedang menyeruput segelas kopi sementara Arsen sedang bermain game di ponselnya.
Miwa turun dari ranjangnya lalu duduk di ranjang Milan.
"Eh, bagaimana perasaanmu melihatku membunuh?" mata Miwa berbinar menunggu jawaban, ia sangat suka jika seseorang memuji caranya membunuh. Sedikit aneh, tapi untuk Miwa ia akan merasa sangat keren seperti mafia perempuan jika ada yang memujinya.
"A-aku tidak tau harus menjawab apa, tidak ada yang bagus dari membunuh seseorang. Iya kan?"
"Cih, kau saja di sekolah tukang bully!"
"Jangan membunuh siapapun lagi Miwa!" hardik Maxime.
Dua perempuan itu langsung menoleh ke arah Maxime.
"Kalau aku tidak melakukannya, mustahil istrimu ini selamat bersamaku kak. Kita mungkin terkurung di jeruji besi itu," sahut Miwa.
"Kau kan bisa menunggu kami datang," sambung Arsen.
"Berapa lama harus menunggu? kalau kalian punya jurus menghilang, aku tidak perlu repot-repot menusuk kepala pria itu!! tapi kalian lama juga di perjalanan!!"
"Kita sudah seperti naik mobil terbang kau tau!" sahut Maxime.
Milan terkekeh pelan mendengar mobil terbang yang di ucapkan Maxime. Maxime menoleh ke arah Milan lalu tersenyum penuh kasih sayang melihat istrinya itu tertawa.
Miwa menatap bergantian Maxime dan Milan. Ah, mereka selalu membuatnya iri karena selalu romantis dimanapun dan kapanpun.
Alhasil Miwa menatap Arsen, berharap pria itu juga bisa bersikap seperti kakaknya. Tapi Arsen, malah sibuk main game.
Miwa mendengus lalu melempar bantal yang ia ambil dari ranjangnya ke arah Arsen.
"Main game terusss ... usiamu berapa?!"
"Main game tidak memandang usia," sahut Arsen mendongak menatap Miwa.
Miwa menekuk wajahnya lalu dengan kesal ia turun dari ranjang Milan dan berjalan menghampiri Arsen lalu duduk di pangkuan pria itu dengan melingkarkan manja tangan nya di leher Arsen.
Maxime berdecak seraya menggelengkan kepala. Milan hanya menatap bingung sikap Miwa terhadap Arsen.
"Turun, berat! kembali ke ranjangmu, istirahat saja," ucap Arsen seraya mendorong pelan tubuh Miwa. Tapi Miwa merengek tidak mau turun.
Maxime beranjak dari sofa berjalan menghampiri istrinya lalu memeluk Milan seraya berbisik. "Jangan lihat pemandangan buruk itu sayang!"
Maxime menatap wajah Milan dari jarak yang sangat dekat sampai hidung mereka bersentuhan. Maxime tersenyum seraya mengelus pipi gadis itu yang bengkaknya mulai hilang.
Miwa menatap apa yang di lakukan Maxime terhadap Milan lalu berbisik kepada Arsen.
"Boo, sepertinya kau perlu belajar dari Kak Maxi. Dia sangat romantis ..."
"Itu menggelikan!" Sahut Arsen.
"Tapi aku mau seperti itu juga Boo," rengek Miwa.
"Cepat elus keningku ini." Miwa membawa tangan Arsen menyentuh lukanya yang sudah di plester.
Arsen menghela nafas dan dengan terpaksa mengelus pelan-pelan luka itu, tapi sesekali ia menekan luka tersebut membuat Miwa meringis.
"Ih jangan ditekan! dielus-elus saja!!" dan tiba-tiba.
BRAKH
"Daddy ..." gumam Miwa.
Javier mengedarkan pandangannya, melihat Miwa dan Milan. Sekretaris Han sempat melihat Miwa yang berada di pangkuan Arsen, Sekretaris Han menghela nafas menatap Arsen seakan meminta Arsen untuk menjaga sikap di depan Maxime. Dia tidak tahu kalau Maxime sudah mengetahui hubungan Arsen dan Miwa.
Yang datang bukan hanya Javier dan Sekretaris Han, tapi semua keluarga besar mansion Javier . Kecuali Xander dan Rania yang sudah semakin tua, sudah malas keluar mansion.
"Miwa ... Milan ..."
Javier segera berjalan menghampiri Miwa lalu meraup kedua pipi Miwa untuk mengecek seberapa parah luka yang di dapatkan putrinya itu.
"Aaaaaaaa Miwaaaa ... astagaaa kau kenapa ..." jerit Kara lalu menghampiri Miwa.
Sementara Sky dan Liana segera menghampiri Milan.
"Milan kau kenapa? kenapa dengan pipi mu?" tanya Sky panik.
"Aku baik-baik saja Mommy ..."
Maxime menghela nafas, begitupula dengan Arsen yang hanya bisa menggelengkan kepala. Apalagi geng Keenan juga ikut masuk semua ke dalam kamar.
"Miwa, wajahmu yang glowing ini sekarang punya bekas luka ..." Kara berkata dengan mengusap kening Miwa. Dia tahu, Miwa sangat menjaga wajahnya dari bekas apapun.
"Tenang, Mommy Kara. Nanti aku oprasi plastik saja," sahut Miwa dengan tersenyum.
"Tidak ya, awas saja oprasi plastik!" hardik Javier membuat Miwa sontak menekuk wajahnya.
"Sebenarnya siapa yang menculik istri dan adikmu, Max?" tanya Thomas.
"Hanya orang gabut saja Daddy Thomas," sahut Maxime.
Sekretaris Han menoyor kepala Arsen lalu duduk di samping putranya itu dan berbicara pelan.
"Jaga sikapmu Ar!! kau mau, Maxime dan Javier tahu soal hubunganmu dengan Miwa!!"
Arsen hanya berdehem sebagai jawaban. Aliandra tiba-tiba masuk lalu berteriak.
"TOLONG YANG MEROKOK KELUAR YA!!"
Dia sedang menyindir Keenan dan geng nya, yang duduk di sofa yang lain seraya merokok.
Keenan menoleh ke arah Aliandra.
"Mereka kan ke sini karena di culik bukan karena penyakit sesak nafas! jadi tidak apa-apa kalau merokok!!"
"Tapi ini Rumah Sakit, mengertilah sedikit!" sahut Aliandra.
Liana berdecak. "Kalian, sudah di suruh jangan ikut. Masih saja ikut, kalian ini kemanapun bosnya pergi selalu ikut saja seperti ekor anj*ng!! sekarang malah merokok!! sudah sana keluar!!"
"Kami merokok, tidak menganggu kalian," kata Jonathan.
"Asapnya menganggu kami," sahut Sky.
"Ah, Javier juga sering merokok di dekatmu Sky. Kau tidak masalah!" kata Samuel.
"Tapi ini Rumah Sakit astagaaa ..." geram Kara.
"KALIAN KALAU TIDAK BERHENTI MEROKOK KELUAR SAJA!! AKU MAU MEMARAHI DUA PUTRAKU DULU!!"
Sontak Maxime dan Arsen menoleh ke arah Javier. Mereka kemudian menghela nafas panjang, ceramah apalagi yang akan mereka dapatkan hari ini.
Bersambung