The Devil's Touch

The Devil's Touch
#94



"Sayang ayo aku akan tunjukan kamarku ..."


Maxime yang hendak menggenggam tangan Milan segera di tepis oleh gadis itu.


Maxime tersenyum melihat itu. "Tidak bisa lari lagi sayang ... di depan banyak penjaga. Salahmu malah masuk ke sini."


Milan menekuk wajahnya dan melengos meninggalkan Maxime. Maxime membuntuti gadis itu dari belakang seraya tersenyum dengan tangan bersedekap dada ia terus mengikuti langkah Milan yang keluar dari ruang keluarga dan berbelok ke lorong kanan.


"Salah sayang," ucap Maxime.


Milan pun berbalik dan berjalan ke lorong kiri tapi lagi-lagi Maxime berkata.


"Salah sayang ..."


Milan mendengus, kenapa banyak sekali lorong di mansion ini.


"Kesini sayang." Maxime menarik tangan Milan dan berjalan lurus ke depan.


Mereka menaiki anak tangga untuk sampai ke kamar Maxime dan di tangga yang lain Tessa sedang berjalan turun ke bawah seraya menatap mereka tanpa berkedip.


Dengan langkah tergesa-gesa Tessa menghampiri Miwa yang sedang santai menonton tv. Perempuan itu di suruh masuk ke kamar oleh Maxime malah mengikuti Arsen masuk ke kamarnya.


Untung saja Arsen bisa mengusir Miwa dengan menjadikan Maxime sebagai alasan. Alhasil Miwa memilih menonton tv saja dengan duduk menyilangkan kaki dan mengetuk-ngetuk pelan kepala nya dengan remot. Membosankan.


"Miwa ... Miwa ..." Panggil Tessa, ia langsung duduk di samping Miwa.


Miwa menoleh. "Apa?" tanya nya.


"Siapa gadis yang bersama Maxime?"


Dari awal Milan masuk Tessa belum bertemu dengan gadis itu karena ia sibuk perawatan di dalam kamarnya. Sekarang saja ia menghampiri Miwa dengan sheetmask menempel di wajah.


"Pacarnya," sahut Miwa kembali memalingkan wajahnya ke tv.


Hening beberapa detik sampai akhirnya Miwa kembali menoleh kepada Tessa. Ia melihat mata Tessa tiba-tiba berkaca-kaca, Tessa menunduk menyeka air mata yang hendak keluar.


Sakit, itu yang ia rasakan ketika mendengar perkataan Miwa.


"Tes, kau kenapa?" tanya Miwa memegang pundak Tessa.


Tessa kembali mendongak lalu menggeleng. "Tidak," ucapnya seraya tersenyum getir.


"Aku mau melepas sheetmask ku dulu." Perempuan itu pun beranjak meninggalkan Miwa yang menatapnya dalam kebingungan.


Tessa kembali menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya.


"Tessa kenapa?" tanya Arsen di anak tangga yang melihat Tessa berlari ke atas.


Tessa mengacuhkan Arsen dan tetap berlari seraya menunduk. Tessa membuka dan menutup pintu dengan kasar, melepas sheetmask di wajahnya dan membuang ke tempat sampah. Lalu perempuan itu menelungkupkan diri di atas ranjang seraya terisak.


Melihat Maxime menggenggam tangan gadis itu membuat Tessa masih bisa berpikir positif kalau dia bukan kekasih Maxime karena Maxime pernah berkata ia tidak terlalu ingin menikah. Tapi kala semuanya di perjelas oleh Miwa, dada nya seakan sesak tiba-tiba.


"Tessa kenapa?" tanya Arsen lalu duduk bergabung dengan Miwa.


Miwa beranjak untuk duduk lebih dekat dengan Arsen. "Tidak tau sayang ..."


"Hehehe tidak mau sayang."


Maxime membuka pintu kamarnya membuat mata Milan takjub dengan kamar yang sangat luas dan elegan. Bahkan jika di gabungkan antara petshop dan rumahnya masih luas kamar ini.


Kamarnya juga begitu lengkap. Tv, sofa, AC, rak buku tinggi, kulkas dan masih banyak lagi. Kasur nya pun sangat luas dan terlihat begitu nyaman.


Maxime kembali menutup pintu kamarnya. "Kau suka sayang?" tanya nya memegang kedua pundak Milan dari belakang membuat Milan sedikit kaget.


"Duduk dulu." Maxime menggenggam kembali tangan Milan dan menyuruhnya duduk di ranjang lalu Maxime berbalik menghampiri lemari baju nya.


Diam-diam Milan meloncat-loncat pelan dalam duduknya ketika Maxime mengeluarkan baju dari lemari. Milan hanya penasaran, apa kasur nya empuk. Ternyata sangat empuk, berbeda dengan kasur di petshop atau di rumah orang tua nya.


Maxime membawa semua baju nya ke ranjang, ia melepas semua gantungan baju tersebut dan melipat baju-baju nya lalu memasukan nya ke laci kecil samping ranjang. Tak apa, baju Maxime tidak terlalu banyak, biarkan lemari besar itu di isi oleh baju-baju perempuan yang selalu mengeluh tidak punya baju seperti Miwa.


Setelah selesai ia berbalik menghampiri Milan dan mengelus pipi Milan seraya berkata.


"Sayang, sekarang lemari itu milikmu. Nanti aku belikan baju yang banyak. Lemarimu akan penuh seperti lemari Miwa."


Kemudian ia berjalan mendekati kulkas. "Dan ini ..."


Maxime membuka kulkas nya, banyak sekali makanan di dalam kulkas. "Kita tidak perlu ke supermarket sayang, kau bisa makan apapun kalau lapar tengah malam."


Setelah itu ia membuka kamar mandi. "Kau juga bisa berendam di sini sayang, di petshop tidak ada tempat untuk berendam kan."


"Rak sepatunya warna hitam, tidak cocok untukmu. Aku akan mengganti nya dengan warna putih ya," ucap Maxime menoleh ke rak sepatu yang ada di dekat lemari baju.


"Maxime ..." panggil Milan.


Maxime menghampiri Milan. "Ya sayang?"


"Tidak perlu, aku tidak butuh semua ini."


Maxime membungkukan badan nya agar sejajar dengan wajah Milan yang duduk di ranjang.


"Kenapa hm?" tanya nya seraya mengelus pipi Milan.


Milan bisa melihat kedua bola mata Maxime merah, mungkin akibat parfum yang ia semprotkan di petshop tadi.


"Ini semua untukmu, kita akan tinggal di sini saja mulai sekarang."


"Aku tidak mau tinggal di sini, aku tidak mau tinggal di petshop. Dan aku tidak mau tinggal denganmu lagi!!" Milan berbicara ketus kembali membuat Maxime menggertakan giginya kesal, matanya berubah menatap dingin Milan.


Tapi tatapan nya kembali berubah kala melihat tangan Milan yang di perban. "Apa ini masih sakit sayang?"


Milan menepis tangan Maxime yang hendak menyentuh luka nya. "Tidak!"


Maxime menarik tubuhnya kembali berdiri tegak seraya menghela nafas. "Kau mungkin butuh waktu untuk sendiri. Istirahatlah ..."


Pria itu pun keluar dari kamar nya dengan harapan Milan tidak berniat kembali kabur sekaligus Maxime sendiri mencoba untuk mengendalikan emosinya terhadap Milan yang suka sekali berbicara ketus kepada nya.


Bersambung