The Devil's Touch

The Devil's Touch
#102



(Flashback Milan di bawa Jack)


Hari itu Jack datang ke mansion Maxime dengan niat berkunjung saja, dia sempat berbincang-bincang dengan Arsen tapi tak lama kemudian ia heran melihat Arsen yang tiba-tiba tertidur di sofa.


Ia yakin ada seseorang yang menaruh obat tidur ke kopi yang di minum Arsen. Tak lama dari itu ia mendengar suara Maxime berteriak meminta di bukakan pintu kamarnya.


Jack pun naik ke atas, ia mendekatkan telinga ke pintu. Maxime masih berteriak tapi Jack enggan membuka pintu kamarnya.


Pria itu malah duduk di depan kamar Maxime. Dua jam berlalu, Jack yang penasaran mencoba membuka pintu kamar Maxime menggunakan kunci cadangan yang biasa di simpan di laci depan kamar Maxime.


Perlahan ia masuk mengendap-ngendap dan ia mendapati Maxime yang tertidur dengan memeluk Milan. Baju mereka terlihat tergeletak begitu saja di lantai.


Jack menyunggingkan senyumnya dan menyimpan camera kecil yang terhubung dengan ponselnya lalu kembali keluar kamar dan mengunci kamar Maxime kembali.


Jack menunggu di halaman depan sampai akhirnya ia menarik ujung bibirnya tersenyum kala mendapati Maxime dan Milan berdebat di ponselnya. Pria itu segera mendownload video tersebut dan menyebarkan nya. Lengkap dengan foto keluarga De Willson.


Niatnya hanya satu, balas dendam atas perintah Ibunya.


Arsen berada di kamar mandi, membasuh mukanya dengan kasar. Menatap pantulan dirinya di cermin.


"Si*l, siapa yang memberikan obat tidur kepadaku!!"


Setelah membasuh muka ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Ara yang panik berlari ke arahnya.


"Dimana Maxi?" tanya nya.


"Ada apa aunty?"


"Coba kau lihat ponselmu," titah Ara.


Arsen pun dengan cepat mengambil ponsel di sakunya dan ada notif masuk tentang berita terbaru hari ini.


Ketika ia membukanya sebuah artikel bertuliskan 'Identitas asli Maxime Louis De Willson terbongkar, pemimpin Yakuza itu memperk*sa seorang gadis.


Arsen sontak melebarkan mata, ia segera berlari menuju kamar Maxime. Arsen menggedor keras pintu kamar Maxime.


Maxime membuka dengan bathrobe di tubuhnya.


"Max apa kau ..."


"Aku sudah lihat video nya," sahut Maxime.


Kepala Arsen bergerak melihat Milan terduduk di atas ranjang dengan memeluk tubuhnya sendiri dan terisak.


"Bagaimana ini? Daddy Javier pasti sudah melihatnya!!"


"Aku tau, biarkan saja mereka ke sini. Suruh Peter datang aku akan menitipkan Milan dengan nya sementara waktu, dia tidak boleh melihat aku bertengkar dengan Ayahku. Aku tidak mau dia trauma lagi setelah melihat kematian Daffa."


Arsen menghela nafas lalu mengangguk. Pria itu pergi untuk menelpon Peter. Dan Maxime kembali ke kamar meminta Milan memakai bajunya.


Sementara itu di kamar lain Miwa ternganga melihat tersebarnya video kakaknya yang mengakui memperk*sa Milan. Ya, walaupun dalam keadaan tidak sadar tetap saja orang-orang banyak yang protes meminta Maxime di hukum.


"Kenapa jadi seperti ini," gumam nya.


Perempuan itu pun menggeleng. "Tidak, Dad tidak boleh menghukum kak Maxi!!"


Tessa sendiri, hanya bisa mengamuk sendirian di kamar. Menyapu semua benda di meja dengan tangan nya kala melihat video itu.


Beberapa menit kemudian Peter datang ke mansion. Maxime menggenggam tangan Milan menuruni anak tangga, gadis itu hanya bisa menunduk dengan mata sembab. Milan tidak mau berdebat lagi dengan Maxime karena tahu ia tidak akan menang.


"Jaga Milan untuk sementara waktu, jangan biarkan dia sendirian!" titah nya kepada Peter.


"Siap, ayo Milan." Tangan peter terulur hendak menarik tangan Milan tapi segera di tepis oleh Maxime.


"Jangan menyentuhnya!!" Maxime memberikan peringatan.


Peter berdecak lalu pergi dari mansion di ikuti Milan di belakangnya.


"Max, kau harus bersembunyi dari Daddy Javier," ucap Arsen.


"Sudahlah, biarkan saja mereka datang."


Tepat ketika mobil Peter keluar rombongan Keenan dan Athes and the geng datang untuk membantu Maxime.


Di sepanjang jalan Milan hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong, hanya ia sendiri yang tidak tahu soal berita yang beredar. Karena Milan tidak membuka ponsel dan juga tidak ada tv yang menyala di mansion.


Di sepanjang jalan Milan di buat kebingungan dengan jalanan yang penuh aksi protes dari orang-orang, mereka berteriak.


"SEGERAKAN HUKUMAN UNTUK MAXIME!!"


"KAMI INGIN MENONTON HUKUMAN UNTUK MAXIME!!"


"Ada apa ini?" Milan menoleh ke arah Peter di sampingnya.


"Ka-kau ... kau tidak tau berita yang beredar?" tanya nya.


Milan menggeleng membuat Peter menghela nafas. Itu artinya Milan tidak tahu dirinya jadi perbincangan hangat orang-orang sekarang.


Dan lagi video yang di tayang kan di televisi yang ada di gedung-gedung tinggi dan beberapa stasiun serta tempat yang lain sudah mati karena berhasil di sadap oleh anak buah yakuza yang lain.


Alhasil, Milan hanya bisa mendengar mereka meneriaki nama Maxime saja. Milan sangat bingung hukuman apa yang mereka pinta untuk Maxime.


Tiba-tiba ada mobil hitam yang menghadang mobil Peter. Peter menyipitkan mata siapa gerangan yang memberhentikan mobilnya. Dan ternyata itu Jack.


Jack mengetuk jendela mobil Peter, pria itu menurunkan jendela nya sedikit.


"Ada apa?"


"Max menyuruhmu kembali ke mansion."


"Dia menyuruhku membawa Milan," sahut Peter.


"Biarkan Milan bersamaku, kau pulang saja ke mansion ada hal darurat terjadi di sana." kata Jack padahal itu semua bohong.


Setelah itu mereka bertukar posisi, Peter keluar membawa mobil Jack. Dan Jack masuk ke mobil Peter dan membawa Milan pergi.


Bersambung