
Arsen seharusnya menginap dengan Miwa di hotel tapi Maxime tak berhenti menelpon Arsen dan meminta mereka kembali ke mansion, alhasil jam sembilan malam Arsen dan Miwa baru saja sampai di halaman mansion.
Miwa berjalan dengan langkah cepat seraya menggulum senyum di wajahnya. Ia menaiki anak tangga dengan penuh energi untuk pergi ke kamar Maxime.
Sementara Arsen berjalan santai di belakangnya dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.
Miwa membuka kamar Maxime, Maxime yang sedang terlungkup di atas ranjang mendongak dan seketika Miwa berlari lalu meloncat ke atas punggung Maxime.
BRUKH
Maxime mendesis sementara Miwa terlihat tertawa.
"Kak Maxi ..." jeritanya dengan suara melengking.
"Apa?"
"Aku sudah bersama Kak Arsen ..." Miwa melingkarkan tangan nya di leher Maxime.
"Hmm ..."
Arsen berdehem di depan pintu dengan kedua tangan nya di masukan ke celana. Keduanya mendongak menatap Arsen.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Maxime.
Tidak menjawab, Arsen malah melenggang masuk ke dalam kamar Maxime dan duduk di ranjang.
"Kau pergi lah dari kamarku," titah Maxime.
"Kekasihku ada di sini," sahut Arsen membuat Miwa menyunggingkan senyumnya.
Maxime berdecak, masih dalam keadaan telungkup dengan Miwa menyenderkan punggungnya di tubuh Maxime pria itu berkata.
"Kau harus lebih kaya dari aku kalau mau menikahi Miwa."
"Hartamu hartaku juga, ingat itu," sahut Arsen membuat Miwa tertawa.
Maxime benar-benar tidak pernah berpikir ini semua akan terjadi, tidak ada pembagian harta antara Maxime dan Arsen. Keduanya bekerja sama memajukan perusahaan.
Maxime dengan segudang ide yang ia miliki dan Arsen yang menggerakan ide Maxime.
Arsen menarik ujung bibirnya tersenyum sementara Maxime hanya berdecak.
"Dimana Milan kak?" tanya Miwa.
"Di dapur sedang membuat popcorn bersama Oris," sahut Maxime.
"Popcorn?mau nonton kak?"
Maxime mengangguk.
"Dimana?" tanya Miwa.
"Di sini."
"Aku ikut nonton di sini juga ya, aku carikan film yang bagus."
Miwa beranjak menghampiri tv di kamar Maxime sementara pria itu hanya mendengus kasar. Menonton film berdua dengan Milan, satu selimut dengan gadis itu seraya memakan popcorn di atas tempat tidur gagal sudah karena kedatangan Miwa dan Arsen.
"Kau mau nonton juga?" tanya Maxime kepada Arsen.
"Tentu saja, dimanapun ada Miwa sekarang ada aku."
Maxime menghela nafas kasar seraya menggelengkan kepala, Arsen hanya menyunggingkan senyumnya.
Milan datang dengan nampan berisi popcorn dan dua minuman, sungguh ia tidak tahu kalau ada Arsen dan juga Miwa di kamar.
Milan mematung di depan pintu, Arsen menatapnya seraya melambaikan tangan. "Hai Milan ..."
Miwa berbalik mendengar Arsen berbicara lalu matanya menoleh ke arah Milan.
"Hai Milan ..." Miwa ikut melambaikan tangan dengan tersenyum.
"Loh kalian di sini ... Aku ..." Milan menatap dua gelas minuman di nampan nya. "Aku hanya bawa dua minuman. Aku ambil lagi ke bawah ya sebentar."
"Jangan!" ucap Maxime membuat Milan tak jadi membalikkan badan untuk pergi dari kamarnya.
Maxime menatap Arsen. "Kau bawa lah sendiri minuman mu!! jangan menyuruh Milan!!"
Arsen berdecak lalu beranjak dari kasur. "Biar aku saja Milan, duduk saja."
Milan mengangguk berjalan menyimpan nampan di meja.
"Milan film hororr bagaimana?" tanya Miwa.
"Miwa kau kan takut film horror," sambung Maxime. "Ganti saja yang lain."
"Ih kata siapa, sekarang aku berani," sahut Miwa.
Milan hanya tersenyum mendekati Miwa untuk mencari film horror yang menurut mereka bagus sementara Maxime hanya mendengus kasar.
*
Lampu sudah di matikan, kamar Maxime hanya terang dengan cahaya yang memancar dari tv saja. Mereka berempat duduk di atas kasur menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
Milan dan Miwa duduk di tengah dengan Maxime di sisi kiri dan Arsen di sisi kanan. Untunglah ranjangnya cukup luas untuk mereka berempat.
Miwa memegang toples bening berisi popcorn sementara Milan memegang kue kering. Maxime dan Arsen memegang segelas minuman di tangan nya.
Bukan untuk mereka, tapi untuk dua perempuan yang kini fokus dengan film. Miwa menyuapkan popcorn lalu mengambil minuman di tangan Arsen dan meneguknya sedikit, setelah selesai ia memberikan gelasnya lagi kepada Arsen.
Begitupula dengan Milan, ia sedang minum di bantu oleh Maxime yang memegang gelasnya. Dua pria itu tidak menonton film, malah sibuk melayani kekasih mereka masing-masing.
"Aaaaakkkhh ..." Jeritan dari Milan dan Miwa membuat Maxime dan Arsen terlonjak kaget sampai minuman di tangan nya tak sengaja tumpah sedikit ke baju mereka.
Kedua pria itu mendengus kasar mengusap-ngusap baju mereka untuk membersihkan minuman tersebut. Sabar.
Milan dan Miwa kembali fokus dengan film, karena mereka takut mereka menutupi setengah wajahnya dengan selimut.
Ingin sekali Maxime dan Arsen menghentikan film itu, tapi setiap kali mau menghentikan atau mengganti film kedua perempuan itu malah marah tidak terima.
"Sudah ganti saja," ucap Maxime.
"Film perang lebih seru," sahut Arsen.
"Tidak!" sahut Milan dan Miwa bersamaan membuat kedua pria itu menghembuskan nafas kasar.
Film masih berlanjut, film horror yang mereka tonton masih belum selesai. Maxime dan Arsen fokus ke tv, tapi suasana hening seketika. Tidak ada lagi suara jeritan dari kedua perempuan itu, malah barusan hantu di film itu terlihat jelas.
Perlahan kedua pria itu menoleh ke samping dan terlihat Miwa dan Milan sudah tertidur lelap dengan kepala saling menyender satu sama lain. Miwa masih memegang toples popcorn dan Milan masih memegang kue kering.
Perlahan Arsen dan Maxime menyimpan gelas di tangan mereka ke meja samping ranjang. Lalu mengambil popcorn dan juga kue kering di tangan Miwa dan Milan.
"Ar kau keluar saja, biarkan Miwa tidur di sini." Maxime berkata pelan.
"Kau tidur dimana?" Arsen balik bertanya.
"Di sinilah, ini kamarku."
"Kau mau bertiga bersama mereka?" tanya Arsen.
"Iya," sahut Maxime.
"Yasudah kalau begitu, aku juga tidur di sini."
"Ini kamarku!!" sahut Maxime.
"Tapi Miwa ada di sini."
"Aku tidak bisa jauh dengan Milan!!"
"Aku juga tidak bisa jauh dengan Miwa sekarang!!"
Maxime berdecak. "Kau jadi menyebalkan Ar!!"
"Kau yang menyebalkan, kalau menyuruh aku tidur di luar, kau juga harus tidur di luar!!"
Terdengar erangan dari Miwa, mungkin perempuan itu terganggu dengan suara Arsen dan Maxime.
Maxime menghela nafas kasar. "Yasudah kita keluar ..."
Kedua pria itu menarik selimut sampai dada untuk Milan dan Miwa lalu keluar dari kamar.
Mereka duduk di sofa seraya mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana nya masing-masing. Lalu menyalakan nya dengan pemantik api.
"Kapan Tessa pulang?" tanya Arsen.
"Besok," sahut Maxime lalu menghembuskan asap rokok ke udara.
"Dia tidak memintamu untuk menemaninya? tanya Arsen.
"Mom Liana dan Daddy Thomas masih di sana, semua orang di sana termasuk orang tua ku dan orang tuamu ..."
Bersambung