The Devil's Touch

The Devil's Touch
#229



Winter dan Summer berada di satu mobil dengan Summer duduk di balik kemudi. Sebelum pergi ke bandara Summer hendak berpamitan dulu dengan keluarga nya. Walaupun sebelum berangkat ke pantai Summer sudah mengatakan kepada Maxime kalau ia akan kembali ke negara X (Negara tempat kelahiran Xander).


Tapi Summer merasa rindu kembali dengan sang Ibu, Milan. Sampai ingin memeluknya lagi sebelum kembali ke Negara X.


"Aku mungkin pulang tahun depan lagi ke sini, kalian harus rajin mengunjungiku," ucap Summer tersenyum kepada Winter.


"Anak durhaka, kau lah yang seharusnya sering mengunjungi mom dan Dad," sahut Winter.


"Aku tidak bisa lama-lama di sini kalau pulang."


"Masalahnya apa? kau mau sejam di sini dan kembali ke Negara X juga tidak ada masalah, tidak akan kehabisan tiket juga. Pesawat itu milik keluarga kita!"


Summer terkekeh. "Ya, kau benar juga."


"Heh, teman perempuanku di kampus sepertinya menemukan instagram mu."


"Lalu?" tanya Winter.


"Dia bilang aku terlihat cool di foto itu, cih menyebalkan! gantilah username mu itu dengan namamu sendiri!"


"Malas!" sahut Winter yang mempunyai instagram pribadi dengan menggunakan nama Summer.


Summer berdecak sementara Winter menarik ujung bibirnya tersenyum. Winter lebih banyak berbicara jika bersama Summer saja, bahkan bersama Maxime lelaki itu juga irit berbicara.


*


Sesampainya di mansion, mobil mereka di sambut oleh dua lelaki kembar yang baru berusia sepuluh tahun. Noah dan Kai.


Harapan Maxime anak keduanya perempuan gagal sudah, karena yang lahir kembar laki-laki lagi.


"Kak ..." Noah cengengesan di depan pintu dengan memegang gagang pintu.


"Apa?" tanya Summer dengan mengacak-ngacak gemas kepala Noah sementara Winter masuk lebih dulu di ikuti Kai.


"Kak beliin PS dong hehe ..."


Summer mengerutkan dahinya. "Memang Dad tidak kasih?"


Noah menggeleng. "Aku tidak peringkat pertama di sekolah." Seketika wajah Noah terlihat cemberut.


"Bagus. Bagus tidak di kasih!" ucap Summer menepuk pundak Noah lalu melengos ke dalam mansion.


"Kakkk ..." teriak Noah tidak terima.


Sementara itu hal yang sama terjadi kepada Kai dan Winter. Kai meminta di ajarkan mengemudi mobil.


"Ayolah kak ... Aku mau belajar mobil."


"Kak, aku sudah besar ya."


Winter diam tidak menjawab satu kata pun. Ia pergi ke dapur untuk menuangkan segelas air.


"Kai!" teriak Maxime menuruni anak tangga bersama Milan.


Kai membalik menatap Ayahnya.


"Berhentilah merengek belajar mobil, kau ini belum cukup umur!"


"Iya Kai, tunggu sampai usiamu delapan belas tahun, oke," sambung Milan lalu duduk di minibar bersama Winter.


Kai terlihat menekuk wajahnya. Maxime langsung menarik tangan Kai untuk duduk bersama Milan dan Winter.


Noah berdiri di dekat mereka dengan menekuk wajahnya. Winter menyereput segelas air itu lalu menoleh bergantian wajah Noah dan Kai yang sama-sama muram.


"Tidak bisakah satu minggu lagi di sini?" tanya Milan.


"Tidak bisa Mom, aku harus kuliah kan," sahut Summer.


"Ini yang dad tidak suka kalau anak Dad kuliah di luar Negeri!" ucap Maxime.


"Dad tidak suka melihat anak sendiri sukses dengan pendidikan?" tanya Summer menarik kursi dan duduk di samping Milan.


"Ibumu merengek terus setiap saat Summer, dia selalu merindukanmu."


Summer tersenyum kepada Milan. "Mom terbaik ..." ucapnya dengan mengelus tangan Milan.


Noah dan Kai masih saja sama-sama memasang wajah masam. Membuat Maxime menggelengkan kepala melihatnya.


"Noah kau dapat PS kalau peringkat pertama, Kai kau juga ..."


"Dad, jangan terlalu di tekan begitu lah. Aku juga waktu TK banyak bermain di sekolah tapi lihat, aku pintar sekarang," ucap Summer.


"Masalahnya mereka bukan Tk," sambung Winter.


"Ya, mereka bukan TK lagi," ucap Maxime.


"Sudahlah, sayang. Belajar mobil di usia mereka tidak mungkin, tapi membelikan PS tidak masalah," ucap Milan.


"Tidak sayang, mereka harus usaha untuk mendapatkan sesuatu. Aku tidak mau mereka bodoh seperti--"


"Seperti siapa?" potong Milan dengan mata melotot membuat Summer terkekeh dan Winter tersenyum samar.


"Heheh yang jelas bukan sepertimu," ucap Maxime memeluk istrinya itu.


Dua puluh tahun berlalu keluarga Maxime baik-baik saja tanpa ada yang menganggu. Tanpa ada penyerangan apapun, mereka terlihat keluarga normal seperti orang-orang pada umumnya.


Maxime bersyukur dan selalu berharap tidak ada lagi penerus mafia selanjutnya. Baik Winter maupun Summer tidak pernah membunuh siapapun selama dua puluh tahun ini.


Berbeda dengan dirinya dulu yang saat SMA pernah membunuh salah satu temannya. Tangan putra kembarnya itu masih bersih dari mengambil nyawa seseorang.


Winter dan Summer tetap di ajarkan menembak dan bela diri. Tapi semoga mereka tidak pernah menembak siapapun, hanya itu yang Maxime harapkan. Terkecuali jika mereka ada di situasi darurat yang mengharuskan mereka untuk melindungi nyawa mereka sendiri.


*


Sementara itu Magma yang kini berusia tiga puluh tahun sedang tersenyum memandang wajah Winter dan Summer di account instagram milik Summer.


Terlihat pria yang berwajah sama namun memiliki senyuman yang berbeda itu membuat keinginan Magma untuk balas dendam semakin tinggi.


"Masuk," ucap Magma ketika mendengar seseorang mengetuk pintu.


Lail masuk dan membungkukan badan sesaat. "Summer akan pergi ke bandara hari ini Tuan. Kemungkinan ada keluarganya yang ikut mengantar juga."


Magma tersenyum sinis. "Kau tau apa yang harus kau lakukan Lail?"


"Baik, Tuan ..." Lail membungkukan badan lalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Magma yang menggenggam ponselnya dengan erat dan penuh amarah.


#Bersambung


harusnya tamat kemarin tapi kemarin sibuk jdi ga sempet up 🙏🏻