
Seluruh siswa sempat upacara sebelum kelas di mulai dan di kesempatan itu pula Mr Rian memperkenalkan Miwa sebagai Guru BP/BK di SMA Ganesha.
Sorak senang para siswa laki-laki pun terdengar begitu keras sementara siswi perempuan hanya berdecak tidak suka.
Miwa sempat menolak menjadi guru di SMA Ganesha, ia ingin di perusahaan De Willson walaupun hanya menjadi karyawan biasa. Tapi Maxime memaksa perempuan itu untuk bekerja di SMA Ganesha agar tidak menganggu Arsen selama bekerja.
Selesai upacara Milan dan Shalma di panggil ke ruang BK. Mereka duduk berhadapan dengan dirinya. Milan dan Shalma sama-sama membuang muka tidak mau menatap satu sama lain, bahkan mereka duduk berjauhan.
"Dia kan adiknya Tuan Maxime itu, kenapa dia di sini. Dia kan sudah kaya, untuk apa bekerja di sini," batin Shalma.
"Hei ... hei ... hei ..." Miwa menggeplak meja beberapa kali. Milan dan Shalma pun perlahan menatapnya.
Miwa mendengus seraya menggeleng. "Apa permasalahan kalian?"
"Tidak ada," sahut Shalma ketus.
"Aku dengar kau mempermasalahkan kakak ku, punya hak apa kau ikut campur?!" tanya Miwa lebih ketus dari Shalma.
Shalma sontak mengerutkan dahi nya menatap Miwa dan Milan bergantian. Kenapa Miwa seakan membela Milan.
"Ibu--"
"Panggil aku Miss," potong Miwa seraya tangan bersedekap dada.
Milan menggosok hidungnya menyembunyikan senyuman nya melihat Shalma yang terlihat kesal.
"Oke Miss, begini. Ini kan di sekolah, secara tidak langsung dia ..." Shalma menatap Milan. "Dia mempermalukan SMA Ganesha Miss, sekolah kita jadi bahan gosipan orang-orang karena tersebarnya video dia sedang---"
"Sekolah ini milik De Willson," potong Miwa penuh penekanan. "Para guru kalau mau protes bisa di keluarkan dari sekolah, kau yang bukan guru banyak omong sekali!!"
"Dan siapa yang bilang Milan tidak akan di nikahi? mereka akan menikah!!" lanjut Miwa.
Di balik jendela para lelaki sedang grasak-grusuk sendiri, saling dorong dan saling menghimpit hanya untuk melihat Miwa.
"Geser dong!!"
"Oyy kau lah geser!!"
"Awas anj*ng aku mau liat juga!!"
Miwa, Milan dan Shalma menoleh ke arah jendela lalu mendengus. Di saat bersamaan ponsel Milan bergetar, pesan masuk dari Maxime. Ia membuka pesan tersebut.
Sayang kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Miwa dengan kesal beranjak dari duduknya dan membuka pintu dengan kasar lalu berteriak.
"DIAMM!!"
Sontak mereka semua mematung di tempat seraya menatap Miwa yang terlihat begitu kesal.
"Ini jam pelajaran!! kenapa kalian di sini?!! masuk kelas!!" titahnya.
"Buuuu---"
"Miss, panggil aku Miss," potong Miwa.
"Miss foto bareng yuk."
"Miss lapar tidak? saya ambilkan sarapan di kantin ya?"
Milan hanya bisa menggeleng melihat Miwa yang malah sibuk di goda siswa laki-laki.
Mereka tidak menunggu persetujuan dari Miwa, para siswa lelaki itu segera mendempet agar bisa berselfie dengan Miwa. Miwa dengan muka malas hanya bisa berdecak dengan kelakuan siswa remaja ini.
Di sisi lain, Arsen sedang menonton Miwa di laptop nya. Ia masih serius melihat Miwa yang sedang kesal dengan siswa laki-laki sampai akhirnya ia melebarkan matanya kala melihat siswa itu berkumpul mendekati Miwa untuk bisa selfie dengan perempuan itu.
Dan Maxime sendiri terlihat sedang menanda tangani beberapa berkas di kursi kebesaran nya.
Arsen mencoba mengirim pesan kepada Milan diam-diam. Jari-jemarinya bergerak di atas keyboard dan kembali menatap Miwa di laptop kala pesan nya sudah di kirim kepada Milan.
Ponsel Milan bergetar satu pesan kembali masuk.
"Arsen," gumam nya.
Maxime bilang tolong jaga Miwa agar tidak dekat dengan siswa lelaki di sekolahmu. Dia sangat posesif.
Milan memasukan ponselnya kembali ke saku dan beranjak dari duduknya membuat Shalma heran.
"HEI KALIAN!!" bentak Milan. Semua orang menoleh ke arah Milan.
"MASUK KELAS ATAU AKU ADUKAN MR RIAN!!"
"Kau ini kenapa Milan, cemburu karena tidak di ajak selfie?" tanya salah satu lelaki di sana.
"Cih, untuk apa juga cemburu!" Milan memutar bola matanya malas.
"Sudah-sudah, cepat masuk kalian atau Miss hukum satu-satu!" sambung Miwa.
"Huuuuuuuhhhh ..." Semua orang serempak menyuraki Milan. Milan hanya berdecih mendengar mereka menyuraki dirinya.
Setelah kepergian para siswa lelaki itu Miwa mendengus. "Mereka menyebalkan tapi aku serasa menjadi artis papan atas di sini hahaha."
Miwa dan Milan berbalik kembali ke ruangan tapi mereka melebarkan mata ternyata Shalma sudah tidak ada di dalam. Anak itu entah kapan perginya.
Miwa menggeleng lalu menoleh ke arah Milan. "Kau, masuk kelas juga sana!!"
"Malas ah, bolos aja kali ya," sahut Milan seraya hendak berjalan pergi tapi dengan cepat Miwa menarik kerah belakang seragam Milan.
"Jangan cari gara-gara Milan!! kalau kau bolos, uang bulananku dari kakak ku pasti di potong."
Milan menepis tangan Miwa dari kerah bajunya lalu berbalik menatap Miwa.
"Loh kenapa bisa begitu?"
"Aku di sini untuk menjagamu kau tau itu!!"
Milan melebarkan mata nya, tak habis pikir dengan Maxime yang menjadikan Miwa sebagai satpam nya agar ia tidak bisa bolos sekolah.
#Bersambung
Maaf kemarin lg sakit jadi ga up hehe