The Devil's Touch

The Devil's Touch
#44



Milan dan Maxime kembali ke kantin setelah melihat hasil ulangan di papan mading, tapi kali ini tidak hanya mereka berdua. Alvin, Faiz, Aken dan Tino juga ikut duduk satu meja dengan mereka berdua.


Awalnya Maxime menolak tapi Milan meminta agar tidak terjadi nya rumor aneh di sekolah biarkan geng ikan lele ini ikut bergabung.


Di saat mereka semua makan Maxime hanya meminum jus mangga saja sambil memperhatikan Milan makan bakso dengan lahap nya.


"Apa tidak ada makanan yang lebih sehat dari pada itu, Milan?"


Mereka semua mendongak ke arah Maxime, Tino menatap Maxime heran kenapa Pak Muklis satu ini terlihat perhatian kepada Milan.


"Ti-tidak pak Muklis, ini enak banget. Kalau engga percaya, coba aja." Milan mendorong mangkuk bakso nya tapi Maxime mendorong kembali mangkuk itu.


"Kau saja, tapi jangan terlalu sering," sahut Maxime lalu kembali meminum jus nya lagi dengan sedotan.


"Pak Muklis, emang engga lapar? kok engga makan?" tanya Aken.


Hening, Maxime tidak menjawab. Ia hanya fokus menatap Milan. Bahkan keberadaan Aken dan yang lain di anggap seperti udara yang tidak terlihat.


Aken mengikuti pandangan Maxime ke wajah Milan lalu mengernyitkan dahi, seakan di otaknya ingin bertanya kenapa Pak Muklis ini terus memperhatikan Milan. Ah tapi percuma, tadi saja tidak menjawab.


Faiz menyikut Aken. "Pak Muklis kenapa, kayanya dia suka sama Milan," bisik Faiz dan Aken hanya mengangkat kedua bahu nya sebagai jawaban.


Selesai makan tak lama kemudian bel masuk berbunyi, semua orang yang berada di kantin, lapangan dan lorong sekolah yang sedang mengobrol pun berlari masuk ke kelas masing-masing. Karena kalau keliatan oleh Mr Rian masih di luar ketika jam istirahat sudah selesai maka mereka akan di hukum.


Milan dan yang lain pun bergegas pergi dari kantin, tapi baru saja beberapa langkah mereka berlari Milan ingat soal surat itu, dia mau menunjukan nya kepada Maxime tapi lupa dan ketika berbalik, Maxime sudah tidak ada di kantin.


Milan hendak pergi ke post satpam tapi mengurungkan niat nya kala Mr Rian berteriak tak jauh dark tempatnya berdiri.


"MILAN KANAYA, MAU KEMANA LAGI KAMU? CEPAT MASUK KELAS!!"


"Sebentar pak." Milan celengak-celinguk mencari Maxime siapa tau pria itu masih ada di sekitar kantin tapi ternyata tidak ada.


"MILAN!!" teriak Mr Rian memperingati Milan agar cepat masuk ke kelasnya.


"Iya Pak, Iya. Astaga sabar kali!" sahut Milan dengan kesal lalu bergegas kembali ke kelasnya.


Milan kembali duduk di kursi mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas untuk jam pelajaran berikutnya tapi ternyata ada surat yang lain di dalam tas tersebut.


"Apalagi ini," gumam nya seraya mengambil surat tersebut lalu membuka nya.


Jangan memberitahu Maxime jika kau ingin tahu yang sebenarnya Milan. Apa kau tidak penasaran mengapa dia mengubah nama Maxime menjadi Muklis? Dia berusaha menutupi identitas sebenarnya, ketika di desa tempatnya tinggal, ia menggunakan nama Maxime karena orang-orang di desa tidak akan mencari tahu identitas asli dia sebenarnya.Tapi di sekolahmu? sekolahmu sudah masuk perkotaan dimana para pengusaha tinggi saling bersaing untuk menjatuhkan satu sama lain. Satu-satu nya petunjuk untukmu buka jam tangan di pergelangan Maxime dan ketik link yang aku tulis ini di internet.


Dahi Milan mengkerut seolah sedang berusaha berpikir apa maksud dari surat ini. Di bawah kalimat panjang itu ada link yang harus ia buka di internet.


Karena rasa penasaran sudah memenuhi tubuhnya, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku dan mengetik link yang sama dengan link yang di tulis di kertas.


Untung saja belum ada guru yang masuk membuat Milan bisa menonton video yang di arahkan dari link itu.


"Baik, kita sudah bersama Tuan Javier De Willson pemilik De Willson group salah satu perusahaan terbesar dunia. Tuan Javier ini juga seorang Mafia hebat di negara kita yang tentu nya sulit di kalahkan. Tapi tenang saja, tidak perlu takut. Walaupun kejam Tuan Javier tidak akan berurusan dengan orang-orang yang tidak menganggu keluarganya, benar begitu Tuan?"


Javier terlihat tersenyum seraya mengganggukan kepala.


"Sebelum kita mengulik lebih dalam soal De Willson group, bolehkah saya bertanya soal keturunan anda, Tuan?"


"Silahkan," sahut Javier.


"Dimana keberadaan Tuan Maxime?"


"Putraku tidak mau privasi hidupnya terganggu, dia punya kehidupan lain yang membuatnya senang. Tapi dia sangat bekerja keras untuk kemajuan perusahaan sekarang."


"Tapi apa ada ciri-ciri tertentu dari Tuan Maxime, maksudku nama Maxime mungkin tidak satu, Tuan. Apalagi selama ini kita tidak pernah melihat wajahnya."


"Lambang anak buah Yakuza berada di belakang leher mereka dengan tatto sayap burung garuda di sana dan lambang Antraxs ada di pergelangan tangan dengan tatto bola api merah. Sementara pemimpin nya mempunyai kedua tatto tersebut di pergelangan tangan, sayap burung garuda dengan bola api merah di atasnya hanya di miliki oleh putraku, Maxime Louis De Willson sebagai lambang pemimpin kedua kelompok mafia dan pemimpin perusahaan De Willson group sekarang."


Seorang guru masuk membuat Milan kaget dan buru-buru mematikan ponselnya, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Milan tidak tahu apa yang di maksud anak Tuan Javier tersebut adalah Maxime yang ia kenal, Maxime si penjaga petshop atau Maxime yang lain.


"Yakuza, Antraxs. Sayap burung garuda, bola api merah dan pemilik De Willson group apa itu benar Maxime," batin Milan ragu tapi sedikit cemas bagaimana kalau itu benar Maxime yang ia kenal.


Bagaimana jika benar Maxime seorang mafia, apa yang harus ia lakukan nanti.


*


Sementara itu Maxime kembali ke post satpam duduk santai di kursi seraya merokok. Ponselnya mati dan dia lupa bawa charger.


Pak Asep terlihat sedang berjalan ke post satpam dengan satu kakinya yang di seret karena luka akibat tusukan pisau kecil di lututnya.


Pak Asep mendesis menahan sakit lalu berusaha untuk duduk di kursi, Maxime yang melihat tidak niat membantu karena masih kesal dengan sikap Pak Asep yang berani memperbesar layar ponsel untuk melihat jelas bagian bawah rok Miwa.


"Muklis, kau lihat orang yang melempar pisau kecil ke arahku tadi pagi tidak?" tanya Pak Asep yang di jawab gelenggan kecil dari Maxime.


"Ah, aneh sekali. Ada yang melemparku dan tepat sasaran. Bukankah itu aneh, tidak mungkin ada manusia yang bisa melempar secepat kilat dan tepat sasaran seperti itu. Atau ada ... ada devil di sekolah ini, Muklis? Ya, kayanya ada iblis jahat di sekolah ini!"


"Iblis itu sangat membencimu!" sahut Maxime dengan penuh penekanan dan tatapan tajam kepada Pak Asep, membuat Pak Asep bergidik ngeri melihat wajah Maxime seperti itu.


Bersambung


Arsen & Maxime



Bonus, Daddy Javier udah Tua😁 Badan nya makin berisi aja ya 😂