
Sepanjang pelajaran Milan hanya tidur, di saat guru sedang menjelaskan di depan pun telinga nya tertutup rapat membuat gadis itu tidak terganggu dengan suara guru di depan.
Tino beberapa kali membangunkan Milan tapi ciri khas tidur Milan itu seperti orang mati, sulit sekali di bangunkan.
Semalam ia tidak tidur nyenyak karena memikirkan cara agar bisa kabur dari Maxime.
"Milan ..." Tino yang duduk di samping Milan menyikut gadis itu tapi Milan tidak terbangun sama sekali.
"Milan, bangun ..." Tino mengguncang bahu Milan tapi tidak ada hasil sama sekali. Milan terlalu menyelami mimpi indah nya di pagi hari.
"Baik anak-anak, pembahasan ini akan ada ketika ulangan dan ujian nanti. Jadi bapak harap kalian banyak membaca agar ketika ulangan nanti kalian bisa mengerjakan soal-soal nya ..."
Guru fisika yang berada di depan papan tulis itu hendak berjalan ke kursi nya tapi mata nya mendapati Milan yang tertidur pulas di meja paling belakang.
"Milan ... Milan ..." Dengan perasaan panik Tino mengguncang kembali lebih keras bahu Milan melihat Guru Fisika nya berjalan mendekat ke arahnya.
Alvin dan yang lain terlihat panik karena gadis itu masih saja belum bangun. Mereka curiga Milan pingsan.
"Milan Kanaya ..." panggil Guru Fisika nya.
"MILAN KANAYA!!"
"YA, MAFIA KEJAM!!" sahut Milan seraya berteriak.
"Hahahaha."
Semua orang tertawa keras mendengar guru fisika nya di sebut mafia kejam oleh Milan.
Milan yang masih setengah sadar hanya melihat ke sekeliling teman nya yang tertawa, ia masih belum sadar kalau dirinya lah yang membuat mereka tertawa.
"Milan ... Milan ... mentang-mentang pelajaran fisika bikin otak mumet, guru nya sampe di bilang mafia kejam," ucap Shalma yang di sambut tawa kembali dari yang lain.
Guru fisika itu hanya berdecak seraya menggelengkan kepala.
"Di saat yang lain memahami pelajaran hari ini. Kamu malah enak-enakan tidur, Milan! Ini pembahasan untuk ujian kamu nanti!!" Guru fisika itu berucap dengan kesal.
Milan menunduk. "Maaf, Pak."
Ia tidur lelap karena bermimpi Maxime membunuh seseorang dan ia berteriak mafia kejam kepada Maxime di mimpi itu yang ternyata Milan malah berteriak kepada guru fisika nya.
"Baik, sekarang begini saja. Kamu jawab pertanyaan dari saya, kalau kamu gagal kamu harus ulangan lebih dulu dari yang lain."
Sontak Milan mendongak. "Loh, engga bisa gitu Pak. Saya kan belum belajar."
"Iya, karena kamu tidur!" Guru Fisika itu berucap penuh penekanan. Dan Milan hanya menekuk wajahnya kesal.
"Sekarang jawab, sebuah lampu memiliki spesifikasi 20 watt---"
"Tunggu Pak tunggu. Gimana kalau soalnya jangan tentang hitungan," potong Milan membuat Aken menahan tawa bisa-bisa nya Milan menawar soal yang akan di berikan guru fisika nya.
Guru fisika tersebut berdecak. "Yasudah. Alat untuk mengukur kuat arus listrik dan beda potensial listrik adalah?"
Milan mendesis seraya mengetuk-ngetuk kening dengan jari telunjuknya, ia sedang berpikir keras untuk mencari jawaban.
Lalu ia mendongak menatap guru fisika nya. "Boleh di kasih pilihan pak? A b c d gitu pak?"
"Tidak, Milan. Cepat jawab saja!!" sahut guru fisika tersebut.
Teman-teman nya saling berbisik ikut mencari jawaban.
"Jawabanya, Neraca ... Bener kan?"
PLAK
Guru tersebut memukul lengan Milan dengan gulungan buku. "Keluar kamu dari kelas dan kerjakan soal di meja bapak."
"Loh pak emang jawaban saya--"
"Salah Milan!" potong guru fisika tersebut. "Cepat keluar, bawa lembaran soal di meja!"
Dengan kesal Milan beranjak menuju meja guru, Shalma menjulurkan lidahnya. "Kasian deh wle!!"
Milan mengangkat kepalan tangan nya ke udara mengancam memukul Shalma karena gadis itu meledeknya.
"Pak lihat, Pak. Milan nih pak." Shalma mengadu kepada guru fisika yang masih berdiri di bangku belakang.
"Milan cepat!"
"Iya pak iya, sabar kali!!"
"Mil, nanti jawaban nya di foto ya biar kita bisa nyontek buat minggu depan!" teriak Faiz.
"Mau di pukul juga kamu, Faiz?!!" Guru fisika mengayunkan gulungan buku di tangan nya.
"Eh hehehe ... engga pak engga!"
Milan keluar dari kelas untuk mengerjakan soal ulangan yang harusnya untuk minggu depan. Ia berjalan ke lapangan dan duduk di salah satu kursi di sana dengan bola mata bergerak-gerak membaca soal di kertas tersebut.
Lalu ia menghela nafas. "Gimana ini, cara ngitungnya gatau. Soal yang lain juga gatau jawaban nya!!" Milan menggaruk kepala nya bingung.
Dan tiba-tiba seseorang mengambil kertas soal itu dari belakang. Milan menoleh ke belakang dan ternyata itu Maxime.
Maxime berjalan duduk di samping Milan seraya terus membaca soal-soal di kertas tersebut.
"Ini tidak terlalu banyak hitungan, hanya ada beberapa. Sisa nya kalau kau memperhatikan pembahasan yang di berikan guru mu, kau pasti bisa ..." Maxime menoleh ke arah Milan. "Sayang ..." lanjutnya seraya tersenyum.
Milan dengan kesal mengambil kembali lembaran soal nya. "Pergilah, aku tidak butuh bantuanmu!!"
"Kau akan di hukum lagi kalau soal ini salah dan kepala sekolah tidak akan meluluskan murid sepertimu!! jadi belajarlah yang benar!!" sahut Maxime.
"Jack teman mu juga, iya kan?" tanya Milan.
"Tentu saja," tuturnya. "Kerjakan tugasmu, sekolah ini milikku dan aku tidak akan meluluskan siswa yang nilai nya di bawah rata-rata!!"
"Minimal kau mendapatkan nilai 85 dari pelajaran yang banyak hitungan nya, mengerti?"
"Kau siapa mengatur nilai sekolahku!!" Milan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Maxime mencubit gemas pipi Milan. "Aku sudah menyiapkan hadiah kalau nilai Raport mu lebih banyak angka 80 nya nanti."
Milan menepis kasar tangan Maxime. "Bisakah kau pergi dan jangan mengangguku!! aku tidak butuh hadiah darimu, karena aku akan pergi dari hidupmu Maxime!!"
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum lalu mendekati wajah Milan. "Cobalah kalau bisa!!" Ia berkata penuh penekanan membuat nyali Milan sedikit menciut apalagi melihat mata Maxime yang seakan meremehkan niat Milan untuk pergi.
Bersambung