
Arsen berkeliling menanyakan rumah Aron kepada penduduk di desa dengan menunjukan foto Aron yang ia dapat dari Maxime.
"Apa kau kenal anak ini?" tanya nya kepada Ibu-Ibu yang pulang bekerja di kebun teh.
Mata Ibu itu menyipit memperhatikan foto di ponsel Arsen lalu menggeleng. "Tidak, saya tidak mengenalnya."
Arsen mengangguk. "Baik, terimakasih."
Arsen pun berjalan ke warung kecil pinggir jalan. Ada banyak orang di warung itu yang sedang main catur.
"Permisi ..."
Semua orang menoleh kepada Arsen.
"Boleh saya bertanya, apa kalian mengenal anak kecil ini?"
Mereka semua berkumpul melihat foto di ponsel yang Arsen pegang.
"Ini mah si Aron," celetuk salah satu pria di sana.
"Ya, namanya Aron. Kalian tahu dimana rumah nya?"
"Saya tau. Tuan, anda lurus saja terus belok ke kanan. Ada rumah warna hijau di sana, tidak terlalu besar."
Arsen mengikuti arah telunjuk pria tersebut lalu mengangguk. "Terimakasih, tunggu sebentar."
Arsen pun berjalan kembali ke mobilnya dan mengambil dua gepok uang lalu memberikan nya kepada pria tadi.
"Ini untukmu, kasih juga teman mu sekalian!"
Sontak mereka melebarkan mata melihat gepokan uang di tangan teman nya. Perempuan paruh baya penjaga warung pun berjalan tergopoh-gopoh hanya ingin memastikan benar yang di berikan Arsen itu uang palsu atau asli.
"I-ini benar Tuan?" tanya pria itu tak percaya.
Arsen mengangguk lalu kembali ke mobilnya. Ia pun pergi ke alamat yang di beritahu pria tadi.
Arsen menarik ujung bibirnya tersenyum. "Pantas saja Max betah tinggal di sini, penduduk desa cukup ramah!"
Di sepanjang jalan yang Arsen lalui kalau bukan kebun teh ya pepohonan yang menjulang tinggi. Arsen menghentikan mobilnya beberapa meter dari rumah hijau di depan. Ia hanya diam di mobil menunggu siapa yang keluar dari rumah tersebut.
Sepuluh menit kemudian ia melihat Aron berjalan dari arah depan seraya memegang pelastik bening berisi ikan kecil. Aron terlihat berlari kecil dengan tertawa riang melihat ikan di pelastiknya.
Anak kecil itu lalu berbelok ke rumah hijau. Rumah hijau itu benar-benar rumah Aron ternyata, para pria di warung kecil tidak membohongi Arsen.
Arsen masih memperhatikan Aron di mobil, pekarangan depan rumah itu di hiasi banyak tanaman.
Aron melepas sendal nya sebelum menginjak teras depan. Ia mengetuk pintu dan seorang perempuan paruh baya membuka pintu tersebut, ia tersenyum menyambut Aron.
Arsen segera membidikkan camera ponsel nya untuk memotret perempuan itu lalu mengirimkan nya kepada Maxime.
Lima belas menit berlalu setelah Aron dan perempuan itu masuk Arsen hendak pergi dari halaman tersebut tapi tidak jadi ketika Aron kembali keluar dari rumah seraya memainkan uang yang ia pegang. Aron terlihat berjalan ke mobil Arsen dan Arsen segera memakai topi, masker dan kacamata untuk menutupi identitas nya.
Aron terlihat bersenandung pelan. Lalu seorang perempuan paruh baya menghampiri Aron.
Mereka berbicara tepat di depan mobil Arsen. Arsen bisa mendengar pembicaraan mereka walaupun tidak terlalu jelas.
"Aron, Mama Zivania sedang apa?" tanya perempuan itu.
"Bikin cake sama puding, tante," sahut Aron. "Nih Aku mau beli gula dulu." Aron menggoyang-goyangkan uang di depan wajahnya seraya tersenyum.
Arsen pun segera mengirim pesan lagi kepada Maxime.
Nama Ibunya, Zivania.
"Yasudah, hati-hati Aron."
"Iya tante," sahut Aron lalu berjalan kembali ke warung yang ada di belakang mobil Arsen.
*
Maxime masih menemani Milan, malam nanti ia akan menemui si kampret Daffa yang berani menyuruh orang untuk memperk*sa Milan.
Milan masih tiduran di ranjang nya, entah obat apa yang di berikan para pria itu sampai membuat tubuh Milan terasa begitu lemas dan pusing walaupun sudah di beri obat dari Aliandra.
"Tidurlah, aku tidak akan meninggalkan mu ..." Maxime berkata seraya ikut tiduran di samping Milan dan memeluk gadis itu.
"Aku hari ini tidak sekolah," ucap Milan.
Maxime terkekeh pelan. "Sekolah mau bolos, sekarang tidak sekolah kau memikirkan sekolahmu!"
"Aku bosan," sahut Milan.
"Mau jalan-jalan kan tidak bisa, kau bilang lemas." Javier berkata lalu menci*m kening Milan.
"Apa petshop mu tidak buka?" tanya Milan.
Maxime menggeleng. "Belum, besok saja. Aku belum menemukan kucing jebakan di petshop."
"Kucing jebakan?" Milan mendongak menatap Maxime.
"Blacky sebelum mati kau jadikan alat untuk mengancam pelanggan bukan? sebut saja itu kucing jebakan karena sama-sama menjebak pelanggan ku ketika mengambil dua puluh vitamin dan makanan di petshop. Kau mendidiknya agar marah dengan pelanggan sayang ..."
Javier berkata seraya tersenyum mencubit gemas hidung Milan.
"I-itu ... itu agar petshop mu punya keuntungan yang banyak," sahut Milan malu karena ternyata Maxime mengetahui cara liciknya.
"Ah untung saja pelanggan itu gagal dengan cara licikmu! kalau tidak, aku harus mengobrol dengan mereka. Menyebalkan!"
#Bersambung