
"Saya, Daniel O'Brien, menerima engkau Tessa Aliana Zhafran, sebagai istri satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
"Saya, Tessa Aliana Zhafran, menerima engkau, Daniel O'Brien, sebagai suami satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."
Selepas janji itu di ucapkan, setelah pemasangan cincin pernikahan kini mereka sah menjadi suami istri di depan pendeta, keluarga dan para tamu undangan.
Tepuk tangan yang di sertai air mata haru terlihat membasahi kedua pipi Liana. Thomas sang Ayah, yang jarang terlihat menangis kini tak bisa membendung kebahagiaan untuk putrinya, akhirnya Tessa mau menikah setelah bertahun-tahun mereka selalu debat tentang Tessa yang memutuskan melajang seumur hidup, kini kalimat itu terpatahkan sudah, selepas kehadiran Daniel.
Para tamu mulai menyalami mereka, Keluarga William O'Brien kini tampak berbincang-bincang dengan Thomas dan Liana.
"Aku tidak menyangka, putraku yang tadinya gagal menikah dengan Miwa, sekarang sudah menikah dengan putrimu Tuan Thomas."
Thomas tersenyum. "Ya, itu lucunya. Ternyata putramu itu jodoh putriku."
"Padahal aku pikir setelah kalian keluar dari kediaman mansion De Willson, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi ternyata kalian menjadi besan kami sekarang," ucap Liana dengan terkekeh pelan.
"Ah iya, Nyonya Liana. Aku sangat senang Tessa menjadi menantuku," sahut Rani, Ibu Daniel.
Acara seperti biasa, berlangsung sampai malam. Karena banyaknya tamu undangan, dari rekan bisnis Maxime dan Arsen, juga rekan bisnis Daniel. Bahkan teman-teman Tessa dan Miwa semasa sekolah dulu juga ikut datang membawa anak dan suami mereka.
Mereka dengan ramah menyalami satu persatu tanpa terlihat lelah, padahal kaki Tessa sudah sangat pegal.
"Nanti malam, langsung tidur ya. Kaki ku sakit sekali," rengek Tessa kepada Daniel.
"Duduk dulu." Daniel membantu Tessa duduk. Ia juga duduk di samping Tessa.
"Tidak ada istirahat untuk nanti malam," ucap Daniel membuat Tessa melotot.
"Jangan g*la. Aku sudah sangat lelah."
"Melayani suami itu kewajiban sayang," sahut Daniel dengan tersenyum.
Tessa mendengus kasar kemudian memalingkan wajahnya. Maxime, Milan, Arsen dan Miwa naik ke altar menghampiri mereka.
"Sepertinya tidak ada malam pertama untukmu, kau kan sudah pernah melakukannya," ucap Arsen.
"Hah? apa? kapan?" Daniel menatap Arsen dan Maxime yang kini berdiri di depannya.
"Nah iya, kalian sudah malam pertama sebelum waktunya," sambung Miwa.
Daniel menghela nafas sementara Tessa hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku ini hanya menebak, bukan kah aku sudah menjelaskan. Lagi pula Tessa suka sekali pakai baju sexy, sampai itu nya kelihatan."
Tessa mendesis geram. "Tidak bisakah kita hentikan topik ini!"
"Tidak apa-apa Tessa, kau sudah menjadi bagian dari kami. Selamat menikmati malam pertamamu nanti." Miwa tersenyum kemudian menarik Arsen untuk turun dari Altar.
Maxime dan Milan pun ikut turun meninggalkan Daniel dan Tessa yang kini hening karena ucapan malam pertama dari Miwa tadi.
*
Keesokan harinya, Daniel dan Tessa keluar dari kamar, mereka menuruni anak tangga untuk sarapan bersama Maxime dan yang lain. Tapi ternyata, meja makan masih kosong.
Beberapa hidangan juga belum tersaji semua. Ara masih terlihat memasak bersama Oris di dapur.
Oris mendekati Ara yang sibuk memasak daging. "Eh, Aunty Ara. Coba lihat, masa pengantin baru bangun sepagi ini." Oris berkata dengan mata tertuju ke arah Daniel dan Tessa yang sedang meminum segelas air hangat.
"Mungkin Tessa sedang datang bulan, sudahlah Oris jangan membicarakan mereka."
"Iya juga, mungkin malam pertamanya gagal ya. Kasihan sekali Tuan Daniel." Oris menggelengkan kepala.
Oris mendongak ke lantai atas ketika mendengar pintu kamar Maxime terbuka. Terlihat Maxime keluar seorang diri dengan memakai kaos hitam polos dan celana pendek. Maxime menuruni anak tangga dan raut wajahnya berubah ketika melihat Daniel dan Tessa di meja makan. Ia heran pengantin baru itu bangun lebih dulu darinya.
"Kenapa sudah bangun?" tanya Maxime seraya menuangkan air ke gelas.
Daniel menghela nafas lalu menggelengkan kepala. Maxime hanya menatap mereka bergantian dengan bingung.
Maxime sendiri ikut menggelengkan kepala melihat Daniel dan Tessa malah saling diam satu sama lain, kemudian Maxime kembali ke kamarnya dengan membawa segelas air hangat untuk Milan.
Bersambung