
Lima tahun kemudian ke enam bocil itu tumbuh menjadi anak yang sangat aktif, apalagi Laura, Lalita dan Nala yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu.
Wajah Winter dan Summer semakin mirip, orang yang tidak kenal mereka akan sulit membedakan. Hanya sikap mereka saja yang jelas sangat berbeda, sementara Lalita dan Laura kembar tidak identik, wajah mereka berbeda dan mudah di kenali.
Milan, Miwa maupun Tessa belum ada yang hamil lagi, walaupun Milan dan Maxime sudah berusaha mempunyai anak perempuan tapi masih belum ada tanda-tanda kehamilan dari perempuan itu.
Ngeeengggg ... ngeeengggg ... tinnn ... tinnn
Nathan dan Summer bermain mobil kecil di dinding.
"Itu mobil atau cicak!" ledek Aiden.
"Ih ini mobil tau," ucap Summer dengan memajukan bibirnya.
"Iya uncle, ini mobil," sambung Nathan.
"Mana ada mobil melaju di dinding, mobil itu di jalan. Yang di dinding itu cicak," sahut Aiden.
"Di bawah aja ah." Summer bermain mobil itu di lantai karena tak suka mobilnya di sebut cicak oleh Aiden.
"Huh dasar bocil!"
Ngeeeengggg ... ngeeengggg ...
"Lah, kenapa mobilnya jadi terbang." Aiden menggeleng melihat Summer dan Nathan yang sekarang membawa terbang mobil mainan nya.
"Palkil di sini ... palkil di sini ..." teriak Summer dan meletakan mobil mainan itu di kepala Winter yang sedang membaca buku. Winter bisa membaca walaupun masih terbata-bata.
"Huahahaha ..." Summer tergelak melihat di kepala Winter ada mobil mainan nya.
"Nathan, simpan di sana ..." Summer menunjuk kepala Winter. Dan Nathan pun menurut, ia juga menyimpan mobil mainan nya di kepala Winter.
Winter masih diam, tidak perduli dengan mainan di atas kepalanya. Ia masih membaca buku, walaupun di baca dalam hati saja.
Kemudian Laura, Lalita dan Nala berlari menuruni anak tangga.
"Jangan lari-lari!" teriak Miwa dari atas sana me menyusul tiga bocil perempuan tersebut.
"Astaga anak-anak ini," gumam Miwa.
"Mommy Iwa ... Mommy Iwa liat ini." Summer berjingkrak-jingkrak dengan antusiasnya melihat kedatangan Miwa dengan satu tangan menunjuk kepala Winter.
"Astaga, ini kakakmu lagi baca buku Summer." Miwa mengambil mobil mainan di kepala Winter. Winter dari tadi masih saja diam, tidak perduli dengan keadaan sekitarnya.
"Summel yang suluh aku palkil mobil di kepala Winter," ucap Nathan.
"Benar Summer?" tanya Miwa.
"Iya dong," sahut Summer dengan cengengesan membuat Miwa menggelengkan kepala.
Kemudian Miwa celengak-celinguk mencari keberadaan tiga bocil perempuan tadi.
"Loh, tadi mereka turun ke bawah. Sekarang kemana lagi astaga ..." Miwa menepuk jidat nya, kenapa para bocil itu cepat sekali menghilangnya.
Winter menutup bukunya kemudian turun dari sofa berjalan ke luar seorang diri. Itu tanda Winter kecil yang sudah muak di ganggu Summer dan Nathan.
"Winter mau kemana?" teriak Miwa yang di acuhkan oleh Winter.
"MILAN ANAKMU PERGI KELUAR!!" akhirnya Miwa berteriak kepada Milan yang ada di lantai dua.
"MILAN ANAKMU PELGI KELUAL ..." Summer dan Nathan mengikuti teriakan Miwa.
Miwa pun menatap mereka dengan mengerutkan dahinya. "Heh, jangan ikut-ikutan!"
"Hehehehe ..." Summer dan Nathan malah cengengesan.
Sementara itu Winter duduk di taman dengan mengayunkan kakinya yang tergantung. Ia hanya diam sampai akhirnya melihat seorang perempuan paruh baya yang menggendong seekor kucing di luar mansion.
Ia pun turun dari kursi dan berlari menuju gerbang.
"Tuan muda mau kemana? jangan keluar, nanti di marahin Mommy loh," ucap Satpam tersebut.
"Buka," titah Winter.
"Tapi mau kemana dulu?"
"Buka gelbang!"
Winter menatap dingin satpam tersebut sampai akhirnya satpam itu mengalah dan membukakan gerbang untuk Winter. Ia juga menjaga Winter dengan selalu berdiri di belakang anak itu.
"Itu kucingmu?" tanya Winter kepada perempuan itu.
Perempuan itu menatap kucing di tangannya lalu beralih menatap Winter dengan menganggukan kepala.
"Dia sakit," ucap Winter menatap kucing yang jamuran dan kurus. Karena kucingnya warna putih, Winter bisa melihat ada kutu di bulu kucing tersebut.
"Dia akan sembuh nanti," ucap perempuan tua itu.
"Kalau mati?" tanya Winter.
"Kalau mati ya di kubur lah," sahut Jonathan yang entah kapan berdiri di belakang Winter bersama satpam.
Winter menoleh ke belakang sesaat kemudian kembali berbicara dengan perempuan itu. Jonathan berdecak karena selalu di acuhkan oleh anak itu.
"Bawa dia ke doktel."
"Aku akan membawanya nanti."
"Sekalang ..."
Winter kembali menoleh ke arah Jonathan lalu menoleh perempuan tua tersebut.
"Dia menatapmu, itu artinya dia menginginkan kucing itu," ucap Jonathan kepada perempuan itu.
"Kau mau kucing ini, Nak?" tanya perempuan tua itu kepada Winter.
Winter pun menganggukan kepalanya.
"Ambilah ..." Perempuan itu memberikan kucing putihnya.
"Aku ambil kotak dulu ..." Winter berlari kembali masuk ke mansion nya.
*
"Wooahhh meong ... meong ... meong ... meong ..." Summer mendekati perempuan tua itu dengan mata berbinar melihat kucing putih yang di gendong perempuan tua itu..
"Meong ... meong ..." Summer terus bersuara demikian dengan menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri membuat perempuan tua itu tersenyum karena anak kecil di depannya terlihat lucu.
Tapi kemudian senyum perempuan tua itu memudar kala meneliti pakaian Summer. Wajahnya sama tapi ada yang beda.
"Kau, anak kecil yang tadi. Kenapa berbeda, tadi pakai baju hitam lebih pendiam, tapi yang ini ..."
Perempuan tua itu masih mengerutkan dahinya melihat anak kecil di depannya tertawa dengan mengelus-ngelus kepala kucing. Dan baju yang di pakainya berwarna merah.
"Jangan di pegang, dia jamulan Summel," ucap Winter berdiri di belakang Summer dengan memegang kotak.
Perempuan tua itu sontak melebarkan matanya. "Ohhh ... mereka kembar. Pantas saja berbeda."
"Biarin wle ..." Summer malah menjulurkan lidahnya.
"Aku mau gendong," pinta Summer kepada perempuan tua itu.
"Lebih baik masuk ke kotak itu saja. Dia sedang sakit."
"Tidak mau, mau gendong."
Summer langsung membawa kucing itu dengan paksa dari tangan perempuan itu dan membawanya berlari masuk ke mansion.
"Summel ..." teriak Winter berlari menyusul Summer.
Dua bocil itu saling mengejar. Dengan Summer yang membawa kucing dan Winter yang membawa kotak.
"Winter ..." teriak Laura berlari menyusul Winter. Laura satu-satunya anak yang sangat jelas berbicara huruf R di banding yang lain.
"Laula ..." teriak Lalita berlari menyusul Laura.
"Summel kembalikan!" teriak Winter.
"Nooooo ..." Summer berteriak.
Mereka berlari dari lorong ke lorong lain, mengelilingi kursi di ruang tamu, berlari ke kolam sampai berlari ke beberapa kamar.
Maxime langsung menangkap tubuh Summer dan menggendongnya ketika berpapasan dengan anak itu di salah satu lorong.
"Dad, kucing ..." Summer tersenyum.
Maxime menggeleng. "Dia sakit Summer."
Maxime membawa kain yang ada di laci dan membawa kucing itu dari tangan Summer dengan kain tersebut.
Winter, Laura dan Lalita berdiri di depan Maxime. Maxime menurunkan Summer.
"Dari mana kucing ini?" tanya Maxime. Kucing itu mengeong lemah.
"Dali depan dad," sahut Winter.
Maxime melihat kotak di tangan Winter. "Kotak itu untuk apa?"
"Kucing," sahut Winter.
Maxime menghela nafas. "Summer, Winter sudah bawa kotak. Kenapa kau gendong kucingnya."
"Aku mau main sama kucing itu ..."
"Daddy, kucingnya sakit," ucap Laura.
"Kasih obat Daddy," sambung Lalita.
Maxime menghela nafas. "Kita bawa ke dokter."
Bersambung
Visual ...
Winter L.De Willson.
Summer L.De Willson.