
Milan tiduran di ranjang UKS dan Maxime duduk di sampingnya seraya mengelus puncak kepala gadis itu.
"Aku melihatmu melamun tadi, kau kenapa hm?"
Milan menggeleng. "Tidak, aku hanya malas belajar dan ingin kabur tapi tidak bisa karena kau jadi satpam sekarang."
Maxime terkekeh kecil lalu mencubit gemas pipi Milan.
"Kau tidak akan lulus kalau terus kabur seperti itu!"
Milan tersenyum lalu pandangan nya turun ke tangan kanan Maxime, ada jam tangan hitam di pergelangan tangan nya.
Milan terus menatapnya seakan ingin sekali memasikan apa benar ada lambang sayap burung garuda dan bola api merah di balik jam tangan tersebut.
Maxime yang sadar dengan mata Milan yang terus menatap jam tangan miliknya pun bertanya.
"Kenapa kau melihat jam tanganku?"
Milan sontak mendongak. "A-aku ... tidak, jam tanganmu bagus. Aku suka."
"Aku akan membelikan jam tangan baru untukmu nanti," sahut Maxime seraya tersenyum.
"Boleh tidak aku mencoba nya?" pinta Milan.
Hening, Maxime tidak menjawab beberapa detik dan hanya menatap Milan seakan heran mengapa gadis ini tiba-tiba tertarik dengan jam tangan nya.
"Boleh tidak?" tanya Milan lagi.
"Eumm ... ini terlalu besar untukmu, aku akan mencari yang persis seperti ini dengan ukuran untuk tangan perempuan."
Karena tidak mau membuat Maxime curiga Milan memilih tersenyum dan menganggukan kepala nya.
*
Sementara itu di kantor Miwa terbangun perlahan, meregangkan otot-otot nya dan melihat ke sekeliling kamar.
"Kenapa aku di sini," gumam nya.
Lalu ia beranjak dari ranjang membuka pintu kamar dan terlihat Arsen yang tidur terlelap di sofa. Miwa berbalik kembali mengambil selimut dan berjalan menyelimuti Arsen.
Miwa masih di dekat Arsen dan duduk di samping pria itu. Di tatapnya lekat wajah Arsen seraya tersenyum.
"Kak Maxi bilang aku harus menikah dengan pria yang berani menghadapi kak Maxi. Dan hanya Kak Arsen yang berani," gumam nya seraya terus menatap intens Arsen yang tertidur.
Miwa membungkukan badan nya agar lebih dekat dengan wajah Arsen. Tangan nya terulur mengelus kening Arsen.
"Kak, hubungan sodara di antara kita sudah selesai sekarang, aku datang ke sini bukan untuk bekerja. Tapi untuk mendekatimu, maaf aku tidak akan menganggapmu kakak ku lagi!"
"Jangan gila Miwa!"
Miwa sontak menarik tubuhnya menjauh kala Arsen tiba-tiba menjawab perkataan nya dengan mata tertutup.
Perlahan mata Arsen terbuka, ia pun menarik tubuhnya bangun dan duduk berhadapan dengan Miwa yang sedang memasang wajah kagetnya.
"Ka-kakak ..."
"Kau bilang apa tadi?!" tanya Arsen.
"A-aku ..."
Pletak
"Akkhh!!"
Arsen menyentil kening Miwa membuat perempuan itu menggosok keningnya seraya mendesis sakit.
Arsen beranjak dari duduknya hendak keluar dari kantor untuk menjauhi Miwa tapi perempuan itu berteriak.
"Aku serius dengan ucapanku, Kak."
Arsen berbalik menatap Miwa datar. "Kau adikku, Miwa," sahut Arsen lalu keluar dari kantor tak perduli dengan Miwa yang terus berteriak memanggilnya.
*
Maxime dan Milan berada di dalam mobil setelah pulang sekolah, Milan menunggu di halte dekat sekolah agar tidak terlihat oleh murid yang lain.
Yang Milan tahu, mobil yang di pakai mereka sekarang mobil hasil Maxime meminjam kepada Arsen.
Mereka hendak kembali ke petshop, sesekali Maxime menoleh seraya tersenyum ke arah Milan.
"Oh iya, aku mau tanya soal paman-paman hari itu."
"Paman?" Maxime menaikkan satu alisnya.
Milan mengangguk. "Paman yang bertemu denganku di hari pertama aku ada di petshop mu."
"Kenapa?" tanya Maxime.
"Mereka keluargamu?" tanya Milan.
"Bisa di bilang seperti itu."
Milan hanya menganggukan kepala dan tersenyum tipis, ia tidak mau banyak bertanya terlalu jauh.
"Kenapa belok ke sini?" Milan heran harusnya belok ke kiri untuk masuk ke pedesaan tapi Maxime malah membelokkan mobilnya ke kanan.
"Kita ke pantai," sahut Maxime menoleh kepada Milan seraya tersenyum
Maxime memarkirkan mobilnya di pinggir pantai, mereka berdua keluar dari mobil dengan Milan memakai seragam sekolah dan Maxime memakai seragam satpam nya.
"Kemari," pinta Maxime agar Milan mendekat.
Pria itu pun menggendong Milan ke atas kap mobil.
"Aku sudah lama tidak ke pantai," ucap Milan seraya mengedarkan pandangan nya ke suasana lautan dengan ombak sedang. Rambut panjangnya bergerak dengan hempasan angin.
Beberapa orang yang berlalu lalang memandangi mereka melihat seorang satpam berpacaran dengan gadis SMA itu yang mereka pikirkan.
"Mereka terus memperhatikan kita," bisik Milan kepada Maxime.
"Biarkan saja, mereka hanya iri," sahut Maxime seraya berbisik.
Keduanya tersenyum lalu berlari saling mengejar ke pesisir pantai, saling melempar pasir dan bermain air bersama. Untuk sementara waktu Milan melupakan soal identitas Maxime yang seharusnya ia cari tahu.
Maxime memeluk Milan dari belakang seraya menggelitik tubuh gadis itu, mereka tertawa dan terus saling mengejar.
Sampai akhirnya Maxime berhasil memeluk Milan dari depan. Ia menc*um kening gadis itu lalu berbisik.
"I love you ..."
Milan tersenyum tidak berniat membalas ucapan Maxime.
"Kau masih belum mencinta*ku Hmm?"
"Aku masih butuh waktu," sahut Milan.
"Ah baiklah, aku akan menunggu sampai kau benar-benar mengatakan kalimat itu," ucap Maxime seraya membelai rambut Milan.
"Tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama dan katakan di waktu yang tepat hmm." lanjut Maxime.
Ponsel Maxime bergetar, ia melihat nama Daddy Javier di layar ponselnya.
"Aku mengangkat telpon dulu," ucap Maxime kepada Milan.
Milan mengangguk dan memilih bermain pasir sendirian.
"Max dimana?"
"Pantai," sahut Maxime.
"Bisa kau datang ke mansion sekarang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa? aku sudah bilang nanti malam aku ke mansion mu Dad," sahut Maxime.
"Cepat sekarang saja Maxime! Dad sudah menelpon Arsen dan Miwa!"
Maxime menghela nafas kasar seraya melihat Milan yang masih asik bermain pasir. Sekarang kemana ia harus menitipkan Milan, Arsen juga harus datang ke mansion.
"Oke aku kesitu sekarang!" sahut Maxime.
Maxime memutuskan panggilan nya dan sekarang ia menelpon salah satu uncle nya, Keenan.
"Ada apa? mau kirim uang lagi?" tanya Keenan di seberang sana seraya terkekeh pelan.
Maxime berdecak. "Tidak, aku butuh bantuanmu, uncle!"
"Bantuan apa?"
"Datang ke petshop dan jaga Milan di sana aku harus bertemu Dad sekarang."
"Dapat bonus tidak?" tanya Keenan.
Maxime menghela nafas kesal. "Iya, cepat!!"
"Haha ... siap, aku kesana sekarang!"
"Kau saja, jangan bawa yang lain dan jangan berbicara aneh-aneh kepada Milan!!"
"Siap Tuan kaya raya," sahut Keenan.
Maxime mematikan telpon nya lalu berjalan menghampiri Milan.
"Milan."
Milan yang sedang duduk di atas pasir mendongak. "Ya?"
"Kita pulang sekarang, aku ada urusan mendadak hari ini. Kapan-kapan kita ke sini lagi hm?"
"O-ohh ... oke."
Milan beranjak berjalan ke mobil bersama Maxime, ada hal yang membuat Milan curiga. Urusan mendadak apa yang di katakan Maxime, Milan jadi penasaran. Tapi lagi-lagi ia hanya diam, jangan sampai Maxime tahu ia sedang menyelidiki identitas nya.
*
"Milan aku harus pergi sekarang, kau masuk dulu nanti ada paman ku yang akan datang menemanimu," ucap Maxime.
"Sebenarnya aku tidak apa-apa kalau harus sendirian di petshop," sahut Milan.
Maxime menggeleng. "Aku takut terjadi sesuatu denganmu, pamanku sedang dalam perjalanan ke sini."
Milan terpaksa menganggu. "Baiklah."
Gadis itu pun keluar dari mobil, melambaikan tangan kepada Maxime yang kembali melajukan mobilnya entah kemana.
Setelah melihat mobil Maxime jauh dari petshop ia segera membuka pintu dan berlari tergesa-gesa ke kamar.
Milan mengobrak-ngabrik kamar tersebut, membuka laci, menarik seprei, membuka lemari baju untuk mencari sesuatu yang kemungkinan di miliki Maxime jika benar dia Maxime seorang mafia.
Milan menghela nafas, seakan sia-sia mencari benda tersebut karena tidak ada apa-apa di kamarnya.
Pistol, Milan yakin Maxime memiliki benda tersebut tapi dimana pria itu menyimpan nya.
"Apa jangan-jangan aku terlalu berlebihan, apa mungkin bukan Maxime yang di maksud pemimpin yakuza dan Antraxs itu," gumam Milan.
Sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar dari pintu depan. Keenan sudah berdiri di balik pintu dan Milan pun beranjak untuk menyambut pria tua itu.
Bersambung