The Devil's Touch

The Devil's Touch
#129



Liana dan Thomas menemani di ruangan, sisanya keluar semua. Maxime, Miwa, Arsen, Daniel, Sky, Javier, Sekretaris Han dan Kara hanya duduk di kursi seraya berbincang-bincang.


"Kenapa dia bisa sakit?" tanya Sky.


"Kelelahan saja mungkin Mom," sahut Miwa.


"Kelelahan? memangnya dia ngapain di mansion. Bukan nya hanya melukis dan melukis saja," sahut Javier.


"Dia juga jarang keluar," sambung Sekretaris Han.


"Ya itu, karena jarang keluar jadi dia sakit. Terlalu banyak diam di kamar juga tidak baik, dia tidak olahraga dan makan sedikit," ucap Arsen yang berusaha menutupi alasan Tessa masuk Rumah Sakit.


Maxime hanya duduk bersedekap dada seraya menyenderkan punggungnya di kursi, ia tidak tahu harus mengatakan apa.


Pandangan Sky tertuju pada Daniel yang duduk di samping kiri Miwa.


"Daniel ..."


Daniel menoleh kepada Sky. "Ya tante?"


"Kau ..." Sky menggantung kalimatnya lalu menoleh kepada Maxime yang sedang menunduk seraya memijit pelipisnya. Maxime masih memikirkan perasaan Tessa kepadanya, dia tidak mungkin membalas perasaan Tessa. Tapi karena hal ini Tessa jadi sakit.


"Kau serius dengan Miwa?" Sky bertanya tapi matanya malah menatap Maxime, ia menunggu jawaban dari Maxime. Seharusnya jika mereka benar-benar akan bertunangan Maxime pasti akan ikut campur dalam pertunangan Miwa.


Karena yang paling sulit itu restu dari Maxime bukan dirinya maupun Javier.


"Ya, tante. Saya serius." Jawaban Daniel mendapat delikan tak suka dari Arsen.


Sekretaris Han yang melihat putra nya itu hanya bisa menghela nafas seraya menggelengkan kepala.


"Kau kenapa?" bisik Kara kepada Sekretaris Han.


"Tidak," sahut Sekretaris Han.


"Maxime ..." akhirnya Sky memanggil putranya itu.


"Sudahlah sayang, ini Rumah Sakit. Untuk apa membahas pertunangan di sini," bisik Javier kepada Sky.


Miwa menatap bergantian Arsen dan Daniel yang duduk di sampingnya.


"Tidak bisakah kalian jangan bertengkar di sini!"


"Dia ingin bertengkar, aku tidak." Daniel menjawab dengan gelenggan kepala.


Maxime mendongak menatap Ibunya. "Mom bahas nanti saja soal Arsen dan Miwa."


"Hah? kenapa Arsen dan Miwa?" tanya Kara.


"Ma-maksudku Arsen dan Daniel." Maxime kembali menunduk tapi.


"Hah?" mereka berseru semua seraya menoleh ke arah Maxime kini.


Maxime kembali mendongak seraya berdecak. "Maksudku Miwa dan Daniel ... Ya, Miwa dan Daniel. Ah sudahlah, kepala ku mau pecah rasanya!!" kesal Maxime.


Maxime beranjak dari duduknya pergi entah kemana meninggalkan mereka yang hanya bisa menganga dengan kepergian Maxime.


Pikiran Maxime sedang kalut sekarang, memikirkan Tessa yang sakit dan Milan yang juga sudah tahu kalau Tessa menyukai dirinya.


Ternyata memikirkan soal perasaan jauh lebih rumit dari pada memikirkan soal pengkhianat seperti Jack dulu.


Ketika Jack berkhianat Maxime selalu terlihat santai seakan tidak ada apa-apa dan tidak takut apapun. Tapi masalah ini sangat berbeda, masalah yang melibatkan perasaan begitu sulit di atasi.


Maxime naik ke rooftop, memandang jalanan kota dari atas sana seraya menyalakan rokok dengan pemantik api. Rambutnya tertiup angin, udara masih terasa segar walaupun jalanan sudah mulai padat dengan motor dan mobil.


Yang memenuhi otaknya ada dua perempuan sekarang. Tessa sebagai adik yang ia sayangi dan Milan kekasihnya.


Ia sangat kenal Tessa, ini bukan kali pertama Tessa sakit jika apa yang ia inginkan tidak tercapai. Dia selalu seperti itu dari kecil, semua hal harus terwujud, kalau tidak ia akan sakit.


Maxime mengacak-ngacak rambutnya frustasi, Tessa mungkin akan mengerti jika ia mencoba menasehati perempuan itu untuk tetap menganggapnya sebagai seorang kakak.


Tapi masalahnya, bagaimana jika nanti Tessa tahu hubungan Arsen dan Miwa. Semuanya akan menjadi rumit.


Maxime tak tahan lagi, ia membutuhkan Milan sekarang untuk menenangkan pikirannya. Alhasil ia mencoba mengirim pesan kepada gadis itu.







Maxime kembali memasukan ponselnya ke saku dan kembali berjalan menghampiri yang lain.


Maxime membuka pintu ruangan Tessa. Mereka sedang mengajak Tessa mengobrol seraya bersenda gurau.


"Kak Maxi ..." panggil Tessa.


Maxime tersenyum tipis. "Bagaimana? kau masih demam?"


Maxime menghampiri dan mengecek kening Tessa.


"Sudah sedikit menurun," ucap Maxime.


"Maxime, Miwa pergi kemana?" tanya Sky.


"Tidak tau Mom, biarkan saja ..."


"Tessa, Arsen bilang kau makan selalu sedikit. Itu benar?" tanya Kara dengan mata mengintimidasi.


"Aku diet, Mommy Kara ..."


"Siapa yang menyuruhmu diet? kau ini sudah kurus begini Tessa." Liana terlihat sedikit kesal untung saja langsung di tenangkan oleh Thomas.


"Dia ini lagi sakit, jangan di marahi ..."


"Ya tapi, liat putrimu ini. Dari dulu kebiasaan diet nya tidak pernah hilang. Mau sekurus apa." Liana mendengus sementara Tessa hanya menekuk wajahnya.


"Sudahlah Liana," sambung Sky.


"Maxime, kau pulang saja. Sudah ada kami di sini," ucap Thomas.


Sebelum menjawab Maxime melirik ke arah Tessa, perempuan itu menggelengkan kepala meminta Maxime untuk tidak pergi.


"Aku di sini saja ..."


*


Sementara itu di lorong Rumah Sakit, tiga orang manusia sedang saling mengejar dengan langkah penuh energi.


"MIWA!!" teriak Arsen.


"DANIEL!!" teriak Miwa kepada Daniel.


Daniel yang berjalan paling depan mempercepat langkahnya. Sungguh, ia sudah malas ikut campur dalam permainan yang di buat Maxime dan Miwa.


"DANIEL ..." teriak Miwa lagi.


Miwa sendiri tidak terima Daniel pergi karena masih ingin membuat Arsen cemburu.


"MIWA ..." teriak Arsen dari belakang.


Arsen lalu menarik tangan Miwa dan menyudutkan nya ke dinding.


"Kau mau kemana hah?!"


"Apa urusanmu?!" Miwa balik bertanya dengan ketus.


"Kakak tidak suka kau pergi dengan Daniel!!"


"Kau siapa melarangku? kekasihku juga bukan!! Hanya sekedar kakak angkat jangan banyak mengatur!!"


Arsen mendengus, menarik nafas sesaat lalu mengatakan jujur.


"Aku mencintaimu ..."


Miwa melebarkan matanya mendengar perkataan Arsen. Hatinya seakan ingin meloncat keluar saking bahagia nya. Tapi, ia harus menjadi perempuan mahal seperti yang di katakan Maxime.


Miwa berdehem sesaat. "Kak Arsen bilang begitu karena tidak mau aku pergi dengan Daniel. Iya kan?"


"Tidak Miwa!! Begini, mulai sekarang jangan saling anggap adik dan kakak lagi, oke."


Miwa diam sesaat lalu mendorong tubuh Arsen dan kembali berteriak seraya melangkahkan kakinya.


"DANIEL ..."


Arsen mendesis geram kembali menarik tangan Miwa dan kali ini pria itu langsung menci*m Miwa di lorong Rumah Sakit.


Miwa seakan membeku di tempat kala Arsen melepas cium*n nya.


"Sudah? kau percaya sekarang? jadi hentikan omong kosong soal pertunangan itu atau kakak akan membunuh Daniel!!"


Miwa menelan saliva nya susah payah. "A-aku ke kamar mandi dulu."


Perempuan itu pun berbalik arah untuk pergi ke kamar mandi. Arsen hanya mengusap wajahnya kasar melihat kepergian Miwa.


Siapa yang tidak gugup melakukan hal itu dengan perempuan yang sudah ia anggap adiknya selama puluhan tahun.


Bersambung