The Devil's Touch

The Devil's Touch
#36



Malam hari Arsen sibuk dengan laptop nya, setelah memanggil satpam dan mencari informasi soal anak kecil yang mengirimi nya surat itu danlagi-lagi ia gagal, karena cctv di halaman depan perusahaan berhasil di sadap. Otomatis semua kegiatan pagi hari yang seharusnya terekam cctv pun di hapus.


Dan satpam pun tidak tahu kemana perginya anak kecil tersebut karena ketika surat itu di berikan kepada nya, ada seorang tamu yang mengajaknya berbicara dan ketika berbalik si anak kecil itu sudah hilang entah kemana.


Semua itu membuat Arsen sedikit frustasi, pasalnya bukan hanya Milan yang di ganggu. Tapi dua adik perempuan nya ikut di terror jadi bukan hanya Maxime yang pusing akan hal ini.


Setelah selesai mengurus pekerjaan yang tertunda Arsen menutup laptopnya. Ia menyenderkan punggung nya di sandaran kursi dengan menghela nafas.


Santai lah, Arsen. Aku belum mau bermain sekarang denganmu dan Maxime. Surat ini datang untuk menenangkan mu saja. Aku tau kau sedang kacau memikirkan dua adik perempuan mu itu bukan?


Itu adalah isi surat yang di berikan anak kecil tersebut. Arsen sudah memberitahu Maxime soal ini.


Pria itu menoleh ke arah sofa lalu mendapati Miwa yang tertidur pulas dengan selimut tebal tergeletak di lantai. Arsen mendengus sudah terhitung lima kali lebih dia membenarkan selimut untuk adiknya tetap saja Miwa menendang selimut itu.


Ia beranjak dan berjalan mengambil selimut lalu menyelimuti lagi tubuh Miwa. Arsen sudah menyuruhnya pulang tapi Miwa menolak dengan alasan ia bosan di mansion dan ingin pergi ke klab pun malas jika harus membawa bodyguard. Karena Maxime melarangnya pergi tanpa penjagaan ketat.


Dan Tessa, ah perempuan itu gemar sekali membuat sesuatu di dapur, dia tidak akan bosan berada di mansion bersama aunty Ara.


Setelah menyelimuti Miwa ponsel Arsen berdering, ia mengangkat panggilan dari Maxime.


"Hubungkan bersama Peter dan Jack."


"Oke," sahut Arsen lalu mematikan telpon nya.


Ia pun kembali ke meja nya dan membuka laptop. Maxime, Arsen, Peter dan Jack melakukan panggilan video bersama.


Peter berada di mansion Maxime sementara Jack tinggal di apartemen miliknya, pria itu hanya datang sesekali ketika Maxime membutuhkan nya saja. Seperti menjadi kepala sekolah SMA Ganesha misalnya.


"Ada apa?" tanya Jack.


"Darurat?" tanya Peter.


"Ada yang mengirimiku surat dan menerror Miwa," sahut Arsen.


"Benarkah?" Peter sedikit terkejut.


"Kau gagal lagi melacaknya?" tanya Maxime.


"Dia menyadap cctv di depan perusahaan. Aku akan memperkuat semua sistem agar tidak bisa di masuki dia lagi," sahut Arsen.


"Anak kecil itu memberikan surat nya kepada siapa?" tanya Jack.


"Satpam."


"Dia benar-benar bukan orang biasa," ucap Maxime.


"Hmm ... dia sangat rapih," sambung Peter.


"Apa kita tidak perlu membahas ini dengan Tuan Javier?" tanya Jack.


"Tidak," sahut Maxime. "Sudahlah, mereka sudah tua. Dari dulu sudah banyak menghabisi orang."


"Apa kalian tidak berpikir mungkin saja mudork ada yang masih hidup?" tanya Peter.


"Daddy bilang mereka semua mati, hanya nenek ku yang masih hidup karena dia adik pemimpin mudork," sahut Maxime.


Tiba-tiba mereka mendengar suara mengerang seorang perempuan.


"Apa itu Miwa?" tanya Maxime sedikit terkejut.


"Ya, dia menginap di sini," sahut Arsen lalu membalikkan camera nya menjadi camera belakang dan menggarahkan nya kepada Miwa yang terlihat sedang menggeliat tidak jelas ketika tidur.


"Dimana Tessa?" tanya Maxime.


"Aku lihat dia sudah tidur," sahut Peter.


Arsen membalikkan camera nya ke wajahnya lagi.


"Tunggu, aku dengar kau mengeluarkan seorang tahanan," ucap Jack.


"Siapa nama nya?" tanya Jack.


"Oris," sahut Maxime.


"Apa dia tidak terlibat dalam hal ini. Maksudku, dia kan orang baru," ucap Jack membuat Maxime dan yang lain berpikir seketika.


"Dia orang yang ceroboh," sahut Arsen. "Tapi aku tidak terlalu yakin dia pelaku nya."


"Bisa saja, semua manusia punya topeng kejahatan," kata Jack seraya mengangkat bahu nya.


"Aku setuju dengan Jack," sambung Peter.


"Aku juga tidak terlalu yakin kalau dia pelaku nya." Maxime berpikir hal yang sama dengan Arsen.


"Tapi kau awasi saja lah dulu anak itu Peter," lanjut Maxime.


"Oke, siap."


"Sudah, kita bahas nanti lagi. Dia juga tidak akan muncul setiap hari, dia pasti punya rencana, tapi tetap bantu aku menjaga Miwa dan Tessa," ucap Maxime yang di jawab anggukan dan Ibu jari dari Peter dan Jack.


"Jaga adikku, Ar!" titah Maxime kepada Arsen.


"Tidak perlu menyuruh pun aku menjaga nya!" sahut Arsen.


Semua panggilan video pun di matikan. Maxime menutup laptop nya beranjak dari kursi membuka pintu kamar.


Terlihat Milan sudah tertidur lelap dengan tidur menyamping, wajar ini sudah hampir tengah malam. Maxime melakukan panggilan video setelah memastikan Milan tidur pulas agar gadis itu tidak mendengar apa yang dirinya dan yang lain bicarakan.


Maxime perlahan naik ke kasurnya dan tidur di belakang tubuh Milan. Dengan hati-hati ia mengangkat kepala Milan dan menidurkan di atas lengan nya.


Ranjang begitu sempit membuat keduanya tidur harus berdempetan. Maxime sempat berpikir untuk merenovasi petshop, tapi ternyata tidur di ranjang yang sempit bersama Milan cukup menyenangkan.


Apalagi ketika Maxime memeluk Milan tanpa jarak.


Pria itu mengelus lembut kepala Milan lalu berbisik di telinga nya.


"Milan ..."


"Milan kau sudah tidur ..."


"Kau benar-benar tidur little cat ..."


Maxime terkekeh pelan, bisikan itu tepat di telinga Milan tapi gadis itu tidak bangun sama sekali. Milan benar-benar tidur seperti orang mati.


Maxime semakin merapatkan tubuh mereka satu sama lain, kepala Maxime berada di atas kepala Milan sampai pipi mereka saling bersentuhan.


"Aku mencintaimu," katanya seraya tersenyum tipis.


Tidak ada jawaban selain deru nafas Milan yang terdengar.


"Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa pergi dari hidupku, karena dari awal kau yang memutuskan masuk."


Maxime mengingat kala dimana kali pertama ia mengusir Milan, ia tersenyum tipis. Padahal dulu ia sudah menyuruh Milan untuk pergi tapi gadis itu yang menolak dan meminta tinggal di petshop nya.


Maxime memegang tangan Milan lalu menc*um nya, selepas itu ia memberikan cium*n bertubi-tubi di kepala dan pipi Milan.


Maxime terkekeh lagi, entah harus dengan apa ia menganggu Milan gadis itu masih saja tertidur. Bahkan sekarang Maxime memeluk erat tubuh gemas seperti memeluk sebuah boneka.


Dia punya ide, Maxime mengambil ponsel di saku lalu membuka camera hp nya. Ia selfie berdua dengan Milan yang tertidur.


Pria itu tersenyum melihat hasil fotonya lalu kembali memasukan ponselnya ke saku.


"Selamat malam putri tidur," bisik Maxime lalu ikut tidur di samping Milan.


Bersambung