The Devil's Touch

The Devil's Touch
#72



"Ini salahmu, kucing itu kabur kan sekarang!" kesal Milan kepada Aron.


Milan dan Aron duduk di meja makan sementara Maxime sedang mengeluarkan wortel dari kantung hitam yang Aron bawa di pantry. Anak itu pernah berjanji untuk membawakan Maxime wortel hasil panen Ayahnya karena Maxime memberikan makanan gratis untuk kelinci Aron.


Bukan hanya wortel ada beberapa puding dan juga cake yang anak kecil itu bawa. Maxime menata cake itu di piring. Sementara Aron dan Milan malah berdebat.


"Loh, aku kan ke sini mau kasih wortel buat paman."


"Tapi kan tidak harus berteriak juga!"


"Paman kan sudah punya kucing hitam kenapa masih kejar kucing oren!" mata Aron menoleh ka kandang kucing yang kosong.


"Loh, kucing hitam nya kemana?"


"Tidak ada, sudah mati!" sahut Milan. "Kucing hitam mati, kucing oren kabur. Ini salahmu!"


"Kenapa aku yang salah huh!" Aron menekuk wajahnya.


"Kucing oren itu pengganti Blacky!"


"Kakak saja yang jadi kucing gantiin Blacky ... kakak jadi kucing garong saja!" Aron berkata dengan wajah nyolot tidak suka dengan Milan.


Milan sontak melebarkan mata tidak terima di suruh jadi kucing garong sementara Maxime yang sibuk menata cake di pantry terkekeh pelan.


"Kau---" Milan menunjuk wajah Aron dengan kesal.


"Sudah-sudah ..." potong Maxime membawa sepiring cake dan puding lalu menaruh nya di meja. Setelah itu Maxime berjalan ke meja kasir untuk membawa kursi kasir di depan.


"Wle ..." Aron menjulurkan lidahnya meledek.


"Ehh malah semakin menjadi-jadi ya dasar anak kecil!"


"Wle ... kucing garong ... wle ..." Aron terus meledek Milan.


Milan yang tidak terima pun membekap mulut Aron. "Diam!" titah Milan.


"Emmmphh!!" Aron berusaha melepaskan tangan Milan dari mulutnya.


"Diam atau aku tidak akan melepaskanmu!"


Krekk


"Aauuuwww ..." Sontak Milan menarik tangan nya kala Aron mengigit telapak tangan nya. Mereka lebih mirip adik kakak yang bertengkar. Apalagi Milan masih terbilang remaja.


"Wahahahah ..." Aron tertawa puas seraya menunjuk wajah Milan.


"Sudah astagaa ..." Maxime menyimpan kursi kasir itu di tengah-tengah Milan dan Aron. Lalu duduk untuk meleraikan keduanya.


"Kau ... kemari kau ..." tangan Milan berusaha meraih Aron tapi terhalang oleh Maxime yang duduk di tengah.


"Hahaha." Aron masih tertawa puas.


Maxime menggeleng lalu mendengus. "Milan duduk ..." titahnya.


Aron malah semakin menjadi-jadi dengan berdiri di atas kursi. Kedua tangan nya berada di samping telinga bergerak-gerak seperti kucing gajah dengan terus menjulurkan lidahnya meledek.


"Wle ... Wlee ... kucing garong ... wle ..."


"Aron duduk, nanti jatuh," ucap Maxime kepada Aron.


"Milan sudah cukup." Maxime terus menghalangi tangan Milan.


"Wahahaha ini kucing garong peliharaan paman ya."


"Berhenti bilang aku kucing garong!" hardik Milan.


Maxime dengan kesal akhirnya berdiri menggendong Aron menjauhkan nya dari Milan. Aron semakin tertawa seakan dirinya menang karena merasa Maxime membela nya.


Milan mengejar Maxime seraya terus berteriak dan Maxime terus berjalan menjauhi Milan dengan mengelilingi meja makan.


"Maxime turunkan anak itu!!"


"Sudah, cukup. Ini hanya anak kecil Milan!" sahut Maxime seraya terus berjalan dengan langkah cepat menjauhi Milan.


Milan mengejar dari belakang dan Aron di gendongan Maxime terus tertawa terbahak-bahak seraya sesekali menjulurkan lidahnya kepada Milan yang berlari mengejarnya dari belakang.


Mendengar tawa Aron, Maxime malah ikut tertawa. Mereka saling mengejar satu sama lain.


"Kucing garong ... kucing garong ..." tubuh Aron meloncat-loncat pelan di gendongan Maxime.


"Hei sudah cukup," ucap Maxime kepada Aron seraya tertawa.


"Ayo paman lari ... lari ..." Maxime berlari mengelilingi meja makan dan Milan pun ikut berlari di belakangnya.


Milan memutar balik tubuhnya sampai akhirnya bisa menangkap Maxime dan Aron dari depan.


"Yahhhh ... kita tertangkap," keluh Maxime dengan wajah kecewa kala Milan memeluk Maxime dan Aron dari depan.


Kaki Aron yang menggantung menendang-nendang wajah Milan tapi langsung di tahan oleh Maxime.


"Hei jangan seperti itu!"


Sementara Milan mendesis kesal menutupi wajahnya dengan satu tangan karena Aron sempat berhasil menendangnya.


"Kau baik-baik saja hm?" Maxime bertanya dengan lembut seraya mengelus kepala Milan dengan Aron masih di gendongan nya.


Milan mengangguk samar lalu menatap Aron dengan tatapan permusuhan. Aron pun melakukan hal yang sama.


"Sudah-sudah ... lebih baik kita makan cake dan puding saja."


Maxime menarik tangan Milan setelah itu mendudukan Aron perlahan di kursi dan Milan kembali duduk dengan kesal di kursi nya. Maxime kembali duduk di tengah-tengah mereka.


"Ini hanya untuk Paman, kakak itu tidak boleh makan!" Aron menutupi dua piring di meja dengan kedua tangan nya. Sementara mata nya menatap tajam Milan.


"Makan saja sendiri, aku juga tidak mau makanan darimu huh!" sahut Milan dengan tangan bersedekap dada.


Maxime menoleh bergantian Milan dan Aron lalu merangkul pundak keduanya. "Sudah, kita makan sama-sama saja oke?"


"Tapi paman, kucing garong itu kan makan tulang ikan."


Milan langsung mendelik kepada Aron. Maxime berdecak. "Sudah astagaa ... kalian ini ..."


#Bersambung