The Devil's Touch

The Devil's Touch
#84



Maxime dan Milan harus menuruni puluhan anak tangga untuk sampai ke air terjun. Suara percikan air jatuh semakin terdengar. Maxime menggenggam tangan Milan dengan sesekali bertanya.


"Cape tidak?"


Milan menggeleng. "Tidak," jawabnya. Tapi pelipisnya basah dengan keringat. Sesekali Milan menyeka keringatnya.


"Aku gendong ya?"


"Tidak usah, aku jalan saja," sahut Milan lagi.


"Kau sudah sangat kelelahan sepertinya." Maxime menyeka kening Milan.


"Sedikit," sahut Milan pelan. Maxime pun tersenyum lalu ia berjongkok di anak tangga.


"Cepat naik."


"Tidak perlu aku bisa jalan sendiri!" Milan membantah dan Maxime pun menoleh ke belakang lalu menarik tangan gadis itu.


"Ayo cepat ..."


Milan menghembuskan nafas dan akhirnya menurut saja. Maxime perlahan berdiri dengan menggendong Milan dari belakang.


Setelah itu ia pun berlari cepat menuruni anak tangga seraya tertawa dan Milan sendiri menjerit panik.


"Maxime ... Maxime ... pelan-pelan ..."


Mendengar suara Milan yang ketakutan Maxime malah makin semangat untuk tidak berhenti. Milan khawatir Maxime tersandung batu atau tersandung kaki nya sendiri dan mengakibatkan keduanya jatuh.


"Maxime stop ..." teriak Milan.


"Ya sayang, sebentar lagi sampai," sahut Maxime dengan terkekeh.


Dan akhirnya mereka berhenti di depan air terjun, berdiri di atas bebatuan. Milan yang masih di gendongan Maxime, mata nya begitu kagum mendapati suasana air terjun yang begitu indah.


Apalagi hanya mereka berdua di sana, Milan bisa puas menikmati air terjun tanpa gangguan dari yang lain.


Maxime pun menatap air terjun dengan nafas terengah-engah akibat berlari kencang menggendong Milan.


"Kau suka tidak?" tanya nya dengan dada naik turun kelelahan.


Milan mengangguk cepat. "Suka," jawabnya. "Aku mau turun ..."


Milan pun turun dari gendongan Maxime, ia berjalan agar lebih dekat dengan air terjun di depan sana.


Dengan peluh di keningnya Maxime tersenyum melihat Milan melentangkan kedua tangan nya seraya menengadah menatap langit. Cipratan air terjun mengenai wajahnya, ia tersenyum seraya menghirup udara segar yang menyejukkan pernafasan.


"Milan ..." panggil Maxime.


Milan membalik dan Maxime sudah membidikkan camera ponsel nya ke wajah gadis itu.


Milan yang jarang sekali foto hanya bisa tersenyum kaku ke arah camera dengan latar belakang air terjun.


Maxime tersenyum melihat hasil foto nya, walaupun Milan hanya berdiri tegak seperti sedang upacara hari senin gadis itu tetap cantik di mata nya.


Milan berlari kecil menghampiri Maxime seraya mengulurkan tangan hendak mengambil ponsel pria itu. "Sini, biar aku fotokan juga."


Maxime menepis pelan tangan Milan. "Tidak, kau saja."


"Tapi---"


"Ih aku tidak mau foto lagi," keluh Milan.


"Ayo sayang ... duduk di sini."


Milan pun akhirnya menurut. Tapi tiba-tiba ada anak kucing menghampiri kaki Maxime. Keduanya menunduk melihat kucing putih dengan mata biru yang sedang mendusel-dusel di kaki Maxime.


"Kau mau ikut foto juga ..." Maxime membawa anak kucing tersebut dan memberikan nya kepada Milan. "Pegang dia sayang ..."


Anak kucing itu mengeong di genggaman Milan.


"Oke, lihat sini ..."


Milan pun melihat ke arah camera. Maxime pun berhitung sampai tiga dan ia kembali melihat hasil foto nya. Milan dan kucing putih tampak cantik.


Maxime berjalan menghampiri Milan dan menunjukan hasil foto di ponsel nya. "Lihat, kau sangat cantik."


"Aku tidak bisa bergaya," sahut Milan yang merasa kurang puas dengan hasil foto nya.


"Tidak perlu, tersenyum sudah cukup untuk di simpan di ponselku." Maxime menjawab dengan mengacak-ngacak gemas rambut Milan.


Si kucing masih saja mengeong. "Kucing nya mau di bawa?" tanya Maxime.


"Boleh?" Milan balik bertanya.


Maxime mengangguk. "Bawa saja, biarkan main dengan Bunny agar besar nanti mereka akrab dan tidak suka bertengkar."


Milan tersenyum seraya mengangguk.


"Ayo ke sana." Maxime menunjuk air terjun di depan. Mengajak Milan main air di bawah air terjun langsung.


Milan mengikuti arah telunjuk Maxime lalu kembali melihat kucing di tangan nya. "Tapi kucing ini bagaimana? nanti dia kabur."


"Tunggu di sini ..." sahut Maxime.


Pria itu pun berjalan mencari-cari ranting pohon. Kemudian ia mengambil anak kucing tersebut.


Ia membuat pagar dari ranting kayu di sekeliling kucing tersebut agar tidak bisa kabur. Anak kucing yang belum di berinama itu masih sangat kecil, terlihat mungkin umurnya baru satu bulan. Belum bisa meloncat atau berlari.


"Sudah ..." ucap Maxime lalu menarik tangan Milan membawa nya ke air terjun. Si kucing terus mengeong karena tidak bisa kemana-mana.


Milan sempat melambaikan tangan seraya tersenyum kepada kucing putih itu. Maxime dan Milan bermain air bersama di bawah guyuran air terjun. Mereka terlihat seperti sedang mandi bersama.


Maxime sesekali menarik Milan yang mencoba kabur karena tidak berani berdiri langsung di bawah guyuran air terjun. Menurut Milan badan nya terasa di tusuk-tusuk.


"Maxime aku tidak mau!"


"Ayo sayang ke sini ..." Maxime terus menarik tangan Milan sampai akhirnya ketika berhasil ia langsung menci*m Milan di bawah derasnya air terjun.


Tapi itu hanya terjadi tidak sampai lima detik karena Milan langsung mendorong dada Maxime. Ia kesulitan bernafas.


Maxime sendiri malah tertawa melihat wajah kesal Milan. Apalagi dada nya naik turun.


Maxime yang di anggap dingin oleh semua orang pun kini berubah ceria ketika bersama Milan.


Bersambung