The Devil's Touch

The Devil's Touch
#209



Maxime sedang membereskan tempat tidur sementara Milan sedang mematut dirinya di depan cermin.


"Badanku kenapa jelek sekali ya," gumam Milan membuat Maxime menoleh ke arahnya.


"Badan siapa yang jelek?" tanya Maxime seraya berjalan ke arah Milan lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Badanku, kurus sekali. Badan Miwa dan Tessa bagus ..."


"Mereka suka olahraga sayang, makannya badannya bagus."


"Jadi kau setuju badanku jelek." Milan melepaskan tangan Maxime yang memeluknya lalu berbalik menatap pria itu dengan wajah kesal.


"A-aku hanya bilang badan mereka bagus karena olahraga."


Aku tidak bilang badanmu jelek.


"Iya itu artinya kau setuju kalau badanku jelek. Iya kan!"


Kenapa dia jadi sensi seperti ini, biasanya tidak pernah memikirkan soal penampilan.


"Sayang ..." Maxime memegang kedua pundak istrinya. "Badanmu juga bagus, tidak gemuk."


"Kalau aku gemuk berarti tidak bagus?" tanya Milan. "Aku nanti kalau melahirkan badanku pasti berubah, jadi gemuk tau ..."


"Iya, tapi tetap cantik kok." Maxime mencubit dagu Milan.


"Aku tidak percaya, kau bohong." Milan menghempaskan tangan Maxime dari pundaknya lalu berjalan duduk di sofa.


Maxime menghela nafas, Milan belum pernah seperti ini sebelumnya. Gadis itu tidak pernah memikirkan soal tubuhnya yang selalu kurus walaupun sudah makan banyak. Tapi kali ini, seakan ada sesuatu yang membuat gadis itu kesal dengan tubuhnya sendiri.


Maxime berjalan menghampiri Milan. Ia duduk di samping Milan dan sontak Milan bergerak membelakangi Maxime dengan tangan bersedekap dada.


Melihat itu Maxime malah tersenyum gemas. Ia langsung memeluk istrinya, walaupun beberapa kali Milan menolak di peluk tapi Maxime enggan melepaskan pelukannya.


"Bumil ini lucu sekali sih ..." ucapnya dengan terkekeh pelan lalu mengecup pundak kiri Milan.


Milan masih bungkam tak mau bersuara sedikitpun.


"Hei anak kecil ..." panggil Maxime. "Jangan marah-marah, anak kecil di perutmu ikut marah nanti."


"Biarkan saja," sahut Milan.


Maxime akhirnya menarik pundak Milan agar gadis itu mau kembali menatapnya.


"Kenapa sih hm?" tanya Maxime menatap kedua bola mata istrinya intens.


Milan menghela nafas sesaat dengan menekuk wajahnya kemudian ia langsung memeluk Maxime. Maxime yang tidak mengerti dengan sikap istrinya itu hanya bisa mengelus kepala Milan.


"Ada apa?" tanyanya dengan lembut.


"Kau ini bicara apa hei." Maxime mencubit hidung Milan.


"Aku serius, kalau aku nanti gemuk dan jelek apa kau akan selingkuh? mencari perempuan yang tubuhnya bagus seperti Miwa misalnya ..."


Maxime menggelengkan kepalanya dengan memeluk gadis itu. "Tidak sayang ... untuk apa aku selingkuh? aku tidak perduli dengan penampilanmu, penampilan itu masih bisa di perbaiki. Kalau kau terganggu dengan penampilanmu sendiri, kau bisa perawatan, iya kan. Miwa mengerti banyak soal perawatan tubuh, kau bisa belajar dari dia kalau mau."


"Jadi kau tidak akan mencari perempuan yang lebih cantik kan?" tanya Milan.


"Tidak. Uangku banyak, lebih baik dipakai untuk mempercantik istriku ini," ucap Maxime lalu mengecup kening Milan.


Milan tersenyum senang lalu memeluk Maxime dengan erat.


*


Seharian ini Milan terus lengket dengan Maxime, tidak mau jauh sedikitpun. Bahkan ketika Maxime pergi ke kamar mandi gadis itu mengikuti suaminya.


Ketika Maxime keluar dari kamar untuk mengambil air minum, Milan meminta di gendong seperti anak koala dari depan.


Maxime pun tidak menolak, ia menggendong istrinya dari depan, menuruni anak tangga lalu pergi ke dapur.


Maxime kembali naik ke balkon untuk mengurus pekerjaannya yang belum selesai, perusahaannya akan mengeluarkan mobil terbaru yang akan keluar bulan ini, Milan masih saja memeluk Maxime bahkan ketika pria itu sedang bekerja sekalipun.


Ia sedikit kesulitan ketika harus duduk dengan Milan di pangkuannya, juga laptop di atas pahanya. Beberapa kali laptopnya hampir jatuh karena Milan tidak bisa diam.


"Sayang, duduk di sofa," ucap Maxime.


Milan menggeleng. "Mau di sini ..." rengeknya dengan manja mengeratkan pelukannya.


Maxime hanya bisa menghela nafas kemudian kembali sibuk dengan laptopnya. Lima menit, sepuluhmenit sampai setengah jam berlalu ia merasa tidak ada lagi pergerakan dari istrinya.


Ketika ia mencoba melihat Milan, ternyata gadis itu sudah tertidur. Maxime terkekeh pelan, perlahan ia menyimpan laptopnya di meja. Kemudian ia menyenderkan punggungnya di sofa dengan santai, biarkan saja istrinya tidur di pelukannya, toh Maxime sendiri ikut tidur di balkon.


*


Sore harinya, Milan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Maxime sudah menunggu di sofa kamar untuk mengeringkan rambut Milan.


Milan langsung menghampiri Maxime dan duduk membelakanginya, Maxime dengan telaten mengeringkan rambut Milan.


"Malam ini ada festival ice cream," ucap Milan.


"Mau pergi ke sana?" tanya Maxime.


Milan mengangguk dengan semangat. Maxime pun tersenyum. "Oke, nanti malam kita pergi ..."


Bersambung