The Devil's Touch

The Devil's Touch
#222



Xander terbaring lemah tak berdaya di ruang ICU. Beberapa alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya, mereka masih menunggu di luar. Sky terus berjalan bolak-balik menunggu kabar dari adiknya dengan gelisah.


"Tenang Mom ..." Maxime mengelus pundak Ibunya menenangkan.


"Sayang ..." Javier pun ikut menenangkan Sky dengan menggenggam tangan nya.


"Apa masih lama," gumam Sekretaris Han.


Kemudian Aliandra keluar dari ruangan dengan wajah lesu.


"Bagaimana Al?" tanya Sky.


"Dia ingin berbicara dengan Maxime ..."


Mereka pun langsung menoleh ke arah Maxime. "Aku masuk dulu, Mom ..."


Maxime berjalan perlahan mendekati kakeknya yang terlihat lemah. Di sampingnya ada monitor pendeteksi jantung. Xander menoleh.


"Maxi ..." lirihnya.


"Grandpa ..." Maxime mengenggam tangan dingin Xander dengan duduk di samping brankar.


"Winter ..."


"Winter dan Summer di mansion, banyak yang menjaga mereka, Grandpa," potong Maxime.


"Anak itu ... akan menjadi penerus?" tanya Xander dengan suara lemah.


Maxime menghela nafas lalu menggeleng perlahan. "Aku berharap tidak, Grandpa ... aku berharap ada kehidupan normal untuk kedua putraku ..."


"Ajarkan mereka bela diri. Setidaknya untuk melindungi diri sendiri Maxi ..."


Maxime mengangguk. "Grandpa tidak perlu khawatir dengan mereka. Yang terpenting grandpa harus sehat ..." Maxime mengenggam erat tangan Xander.


Kemudian Xander tersenyum. "Grandpa bahagia ... Grandpa akan bertemu dengan Grandma Alexa ..."


Maxime menatap sendu kedua bola mata kakeknya yang terlihat berkaca-kaca dengan senyuman di wajahnya. Xander yang mencintai Alexa sepanjang hidupnya selalu membuat haru orang-orang.


"Grandma juga pasti bahagia bisa bertemu dengan grandpa. Tapi, jangan pergi sekarang grandpa ... putraku masih bayi, mereka pasti senang jika masih bisa melihatmu ketika mereka sudah dewasa ..."


"Grandpa berharap putramu tidak seperti grandpa besar nanti, grandpa harap mereka tidak merasakan di tinggalkan wanita ..."


"Grandpa ..."


"Maxi ..." potong Xander. "Aku menyayangimu dan putramu ..."


Tiba-tiba monitor di samping berbunyi nyaring diikuti garis lurus di layar tersebut. Sontak Maxime melebarkan matanya.


"Grandpa ... grandpa, bangun ..." Maxime menggoyah-goyahkan bahu Xander.


Pintu terbuka dengan keras, Sky berdiri di sana melebarkan mata kala melihat monitor di samping.


"Daddy ..." teriak Sky berlari memeluk Xander dengan menangis keras.


"Mom ..." Maxime menarik Ibunya ketika ada Aliandra datang dengan membawa alat pacu jantung.


Sky menangis di pelukan putranya, yang lain terlihat lesu berdiri di dekat pintu. Aliandra berusa mengembalikan detak jantung Xander dengan alat pacu jantung tersebut, sesekali ia melihat ke arah monitor. Tidak ada perubahan sama sekali, garisnya tetap lurus.


Maxime menghela nafas dengan mata berkaca-kaca, berharap sang Kakek kembali membuka matanya tapi yang ia dapatkan malah gelenggan kepala dari Aliandra. Yang berarti Xander benar-benar telah tiada.


Javier pun berjalan mengusap bahu Sky yang masih menangis di pelukan Maxime.


"Catat jam kematian nya," ucap Aliandra kepada salah satu perawat.


Xander meninggal di usianya yang ke 82 tahun karena penyakit jantung. Sky tak kuasa menahan tangis, mengingat bagaimana dulu ia di selamatkan oleh Xander ketika hampir bunuh diri karena Javier, bagaimana Xander memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus kepada Sky. Bahkan Xander sangat menyayangi Maxime dan Miwa.


Kenangan itu juga membawa dirinya mengingat wajah Alexa. Ia membayangkan Xander yang tersenyum bahagia karena bertemu dengan Ibunya, sebagaimana cinta Xander yang begitu besar sampai tidak mau menikah lagi sepanjang hidupnya.


Mereka mengadakan upacara pemakaman di sebuah gereja. Banyak rekan-rekan bisnis yang datang memberi bela sungkawa, mereka yang menjadi istri para pengusaha langsung memeluk Sky yang masih terlihat menangis.


Miwa pun menangis di pelukan Arsen. Daniel terlihat merangkul Tessa yang sedang menangis memandang foto Xander. Maxime duduk di kursi memandang foto Xander dengan wajah sendu, ada Milan di sampingnya yang menemani.


Maxi ... aku menyayangimu dan putramu ...


Kata-kata itu terngiang-ngiang di pikiran Maxime. Membuat pria itu berkaca-kaca, kemudian Milan menggenggam tangan suaminya. Maxime pun menoleh ke arah Milan.


Maxime tersenyum kemudian memeluk istrinya itu dengan erat, hanya untuk menahan tangisnya.


"Glandpa, mau pelmen." pinta Maxime kecil.


"Boleh, tapi jangan bilang Daddy dan Mommy mu ya." Xander memberikan permen dari sakunya kepada Maxime.


"Glandpa, kenapa glandpa tidak tidur di kamar glandma. Daddy tidur sama Mommy."


"Grandma Rania, bukan istri Grandpa. Grandma Rania itu Ibunya Daddy mu."


"Isteli Grandpa siapa?" tanya Maxime kecil seraya sibuk membuka permen di tangannya.


"Grandma Alexa ... tapi Grandma Alexa sudah ada di atas sana." Xander menunjuk langit.


"Glandpa mau pergi ke atas juga?" Maxime kecil mendongak menatap langit.


"Mau, nanti grandpa pasti bahagia ketemu sama Grandma Alexa. Nanti Grandpa cerita soal Maxi di atas sana ke Grandma Alexa ... Grandma pasti senang punya cucu seperti Maxi ..."


"Heheheh ..."


Pertahanan Maxime runtuh seketika mengingat perkacakapan dirinya saat kecil bersama Xander, tangisnya yang di tahan sekuat mungkin hancur sudah, membuat pria itu terisak di pelukan istrinya. Milan hanya mengelus-ngelus punggung Maxime menenangkan.


Bersambung