The Devil's Touch

The Devil's Touch
Lingkungan Yang Asing.



Sudah beberapa hari berlalu semenjak kejadian malam itu. Elena jauh lebih tenang dan bersifat profesional dari sebelumnya, wanita itu juga sudah memberi kabar pada sang ayah jika dia baik-baik saja. Dan sang ayah pun tidak merasa keberatan dengan keputusan Elena pria paruh baya itu malah memaklumi sikap Elena yang ingin menenangkan diri dari pertengkaran keluarga mereka. Kapan pun Elena akan kembali dia akan menyambutnya dengan hati lapang.


Kartel Sianola, sebuah organisasi gelap yang paling ditakuti di Italia. Organisasi gelap yang di dirikan oleh Maximilian, pria itu penguasa dari segala penguasa. 'The Don' itulah julukannya. Seorang pemimpin dari segala pemimpin, perintahnya tak terbantahkan.


Disini, disebuah mansion berwarna putih yang mendominasi menjadi tujuan Elena dan Maximilian. Elena menatap bangunan asing yang begitu megah di depan sana, ada rasa penasaran yang begitu mencuat di lubuk hatinya.


Gerbang yang menjulang tinggi di depan sana secara otomatis terbuka saat mobil Maximilian berada di depan. Pintu mobil dibuka, wanita itu mengikuti langkah Maximilian dengan rasa penasarannya yang melambung tinggi. Bangunan-bangunan asing disekitarnya menjadi pusat perhatian. Sepi dan suram itulah yang dirasakan Elena, bulu kuduknya meremang saat melewati ruangan ruangan yang tertutup dibalik pintu putih.


"Sir, berada dimana kita sekarang?" tanya Elena. Wanita itu berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan Maximilian. Kaki jenjang pria itu membuat Elena kesusahan untuk menyamakan langkahnya.


"Markas." Maximilian menghentikan langkahnya di depan lorong berwarna putih. Disentuhnya lukisan bergambar bunga tulip itu. Lantai tiba-tiba bergetar, lantai yang semula berupa keramik itu terbuka dan menampilkan beberapa anak tangga yang mengarah kebawah.


Elena terlihat kebingungan, namun tak berselang lama dari itu raut wajahnya berubah. Wow, sebuah ruangan bawah tanah. Dia tak menyangka jika Maximilian akan menyembunyikan para anggotanya diruangan bawah tanah. Menarik itulah yang dipikirkannya.


"Dari mana kau mendapatkan ide seperti itu, Sir?" Elena mengagumi cara kerja otak Maximilian yang menurutnya luar biasa. Baru kali ini dia melihat seseorang menyimpan anggotanya diruangan rahasia.


"Ikuti saja kemana aku pergi, jangan banyak bertanya! Bicara jika diperlukan, ingat itu." Maximilian merasa jengah dengan sikap Elena, wanita itu selalu saja berbicara sedari tadi. Itu membuatnya kesal.


Elena langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Wanita itu merasa tidak enak, apa dia sudah terlalu banyak bicara?


"Maaf Sir." toh, dia hanya bertanya karena rasa keingin tahuannya yang tinggi tetapi reaksi yang ditunjukan bossnya benar-benar berlebihan. Menyebalkan, tapi dia harus tetap bersikap profesional, ingat hanya dua tahun dia bekerja dengan pria itu. Hanya dua tahun, jadi dia hanya perlu bersabar untuk dua tahun ini.


Elena menuruni anak tangga dengan perlahan, bola mata birunya bergerak liar kesekitar. Ternyata ada banyak orang berpakaian serba hitam dibawah sana, mereka semua terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang berlatih menembak, memanah, dll.


"Selamat datang Master." salah satu dari mereka yang melihat kedatangan Maximilian dengan segera berlari untuk menyambut bossnya. Topi hitam serta jas yang digunakan Maximilian membuat pria itu menyadarinya, tak ada orang lain yang menggunakan topi hitam dengan ukiran naga berwarna emas selain sang master.


"Hm, dimana Guido?" Maximilian berdehem singkat. Pria itu melihat anak buahnya dengan tatapan menelisik. Auaranya yang tak biasa membuat pria itu merasa terintimidasi.


"Guido berada diruang senjata, Master. Apa anda memerlukan bantuan?" pria itu mencoba untuk bersikap tenang, meski merasa terintimidasi dengan tatapan sang Master.


"Aku ingin bertemu dengan Guido, Made. Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengannya."


"Baik Master, apa perlu saya antarkan?" 'Made Man' adalah pangkat terendah dalam keluarga mafia. Mereka disebut dengan sesuai pangkatnya, yang terendah harus menghormati yang berada di atasnya dan begitupun seterusnya.


Pintu ruangan dibuka, Elena bisa melihat banyaknya senjata yang tertata rapi disana, dari yang biasa saja hingga mematikan. Ada banyak sekali pertanyaan yang berada di otaknya, tapi dia enggan untuk bertanya. Karena melihat reaksi bossnya tadi.


"Wow, siapa wanita yang kau bawa itu Master? Apa dia kekasihmu?" Guido tersenyum tipis. Dia tak lagi terkejut dengan pintu yang dibuka tanpa mengetuk, itu sudah pasti kebiasaan sang Master. Pria itu cukup terkejut dengan wanita yang berada dibelakang master nya namun dengan mudah pria itu mengembalikan raut wajahnya.


"Dia akan bergabung dengan anggotamu dan bantu dia untuk mempersiapkan diri." ucap Maximilian dingin. Nada bicaranya terdengar serius dan tatapan matanya mampu mengintimidasi setiap lawan bicaranya.


Guido menolehkan wajahnya kesamping, tak ingin bersitatap dengan sang master. Dia tahu tatapan mata sang master bagai pisau yang siap menghunus rongga matanya.


"Aku tidak membutuhkan anggota baru Master. Sayang sekali wanita secantik dirinya jika harus mati." Elena mengepalkan sebelah tangannya saat mendengar ucapan Guido yang terkesan mengejek dirinya. Brengsek! Dia tidak selemah itu.


"Jangan membantah ucapanku Guido! Lakukan apa yang aku perintahkan." tatapan matanya berkilat marah. Dia tidak suka jika orang yang dipilihnya diremehkan.


"Aku akan mengujinya selama satu minggu, jika dia berhasil aku akan merekrutnya." Guido melihat Elena dengan tatapan menelisik. Dia jadi ingin tahu seberapa hebat wanita yang dibawa oleh master.


"Caporegime!" teriak Maximilian. Sudah cukup, kesabarannya sudah habis untuk menghadapi sikap kekanak-kanakan Guido.


Capo adalah seseorang berpangkat tinggi dari keluarga mafia yang mengepalai 'Kru' tentara dan memiliki status dan pengaruh sosial yang signifikan dalam organisasi.


Elena menyentuh pundak Maximilian. "Aku menerimanya!" ucapnya dengan dingin. Dia paling benci diremehkan, seumur hidup dia menjadi seorang pembunuh bayaran tidak pernah ada yang meremehkan kemampuannya.


"Menarik." Guido terkekeh singkat. Dia merasa terpesona dengan sikap Elena, wanita yang dibawa sang master terlihat berani dan tidak lemah, dia suka itu. Untuk menjadi anggotanya dia tidak membutuhkan seseorang yang lemah.


"Maaf Master, sepertinya aku telah salah menilainya. Aku akan menerimanya dan jika dalam satu minggu tidak ada kemajuan aku tidak akan merekrutnya."


"Hm. Aku rasa kau merindukan kelinci kesayanganku Guido." Maximilian tersenyum sinis. Wajah pucat Guido terlihat menarik dimatanya.


Guido menelan ludahnya kasar. Bulu kuduknya meremang seketika. Oh No! Dia tidak mau bersama dengan kelinci gila milik sang master. Siapa gerangan gila yang menamai hewan ganas itu dengan sebutan kelinci kecuali bossnya.


Elena terlihat binggung melihat pembicaraan kedua pria itu. Memangnya apa yang salah? apa yang harus ditakutkan dari hewan lucu itu.


"Aku akan menerimanya Master anda tidak perlu khawatir, aku yakin dalam waktu seminggu kemampuan wanita itu akan semakin sempurna." ucap Guido cepat. Pria itu berusaha untuk terlihat tenang, meski jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.