The Devil's Touch

The Devil's Touch
#35



"Sayang dimana Maxi?" tanya Sky setengah berlari menghampiri suaminya.


"Sudah pulang," sahut Javier.


"Apa? pulang? dia bahkan belum sampai tiga puluh menit berada di sini, masa sudah pulang lagi."


Javier mengangkat kedua bahu nya seraya berjalan melewati istrinya. "Tidak tau lah, itu kebiasaan anakmu."


Sky hanya bisa mendengus, mungkin dalam satu tahun bisa di hitung berapa kali Maxime mengunjungi orang tua nya, anak itu benar-benar menghabiskan waktu nya di petshop. Ah apalagi sekarang ada Milan di petshop pria itu ingin cepat-cepat pulang.


Mobil Maxime parkir di depan petshop, ia membuka pintu lalu melempar kunci mobil kepada Arsen yang tengah duduk bersantai seraya memainkan ponselnya.


Sebelum berbicara dengan Arsen ia menyimpan beberapa vitamin kucing di etalase yang ia beli selepas pulang dari mansion Javier.


Setelah selesai Maxime duduk di depan Arsen. "Dimana Milan?" tanya nya.


Arsen menunjuk pintu kamar mandi tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel.


Maxime duduk menyenderkan punggung di kursi.


"Apa kau sudah melacak nomor kemarin?" tanya Maxime.


Arsen menyimpan ponsel nya di meja. "Sudah, tapi gagal."


Maxime menautkan kedua alisnya. "Gagal?"


Arsen mengangguk. "Sepertinya dia bukan orang biasa, maksudku ada kemungkinan dia sama seperti kita. Dia melakukan semua nya dengan sangat rapih. Termasuk merusak cctv di perbatasan kota sebelum masuk ke perdesaan ini."


"Kau tahu soal Milan di bekap seseorang?"


Arsen mengangguk. "Dia tadi cerita. Dan aku langsung meminta Peter melihat cctv di perbatasan kota, ternyata semuanya rusak."


Maxime menggosok dagu nya seraya memikirkan siapa gerangan yang menerror orang-orang terdekatnya sekarang.


Dan pintu kamar mandi pun terbuka, memperlihatkan Milan yang baru saja selesai mandi dengan handuk di kepala nya.


"Kau sudah pulang," ucap Milan.


Maxime menoleh sesaat ke arah Milan lalu beralih menatap Arsen dan memberi kode agar Arsen pulang dari petshop nya.


Arsen pun mendengus dengan malas lalu beranjak dari duduknya.


"Aku pergi dulu, Milan."


Milan mengangguk. "Hati-hati."


Suara mesin mobil menyala dari luar dan Arsen pun pergi dari petshop Maxime untuk kembali ke kantor.


Kalau petshop tempat favorit Maxime, maka kantor tempat favorit Arsen. Walaupun tidak ada hal penting pria itu akan diam di meja nya seraya main game atau menonton film.


Dua pria ini memang jarang sekali mengunjungi mansion tempat dimana orang tua nya tinggal satu atap. Mereka lebih suka ketenangan di banding harus berkumpul bersama para uncle yang ada di mansion Javier yang selalu ribut dan berisik tidak jelas.


Maxime beranjak dari duduknya menghampiri Milan perlahan lalu memegang pinggang Milan dengan kedua tangan nya seraya berbisik.


"Merindukanku, Nona?"


Milan sedikit terkejut dengan suara berat Maxime yang tepat di telinga nya. Sedikit geli.


Gadis itu pun mendorong tubuh Maxime. "Tidak, aku tidak merindukanmu."


Maxime terkekeh seraya mengelus gemas rambut Milan.


"Mana tugasmu?"


"Tugas?" Milan menaikkan satu alisnya, Maxime mengangguk.


"Saat aku di kantor polisi, kau mengerjakan tugasmu, kan?"


"Dih mana ada, kau kan yang janji akan memberitau rumusnya tapi kau pergi jadi aku tidak mengerjakan tugasku."


Maxime berdecak dengan menggeleng kecil. "Kau ini ya ..." pria itu memainkan pipi Milan dengan sangat gemas.


"Ah lepaskan!" Milan menepis tangan Maxime dari pipinya seraya cemberut.


"Baiklah, bawa tugasmu kemari."


Mereka pun mengerjakan tugas sekolah Milan bersama dengan Maxime yang mengajari Milan seperti seorang guru.


*


Arsen keluar dari lift dan ketika membuka pintu ruangan ia melihat Miwa yang entah dari kapan perempuan itu sudah duduk di sofa dengan menyilangkan kaki nya.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Arsen seraya duduk di depan Miwa.


"Aku bosan di mansion kak," sahut Miwa.


"Peter membantuku, Kak."


"Lalu Tessa? dia tidak ikut ke sini juga?"


"Dia membantu Aunty Ara membuat cake, kakak tau sendiri aku tidak suka membuat sesuatu di dapur."


Arsen mengeluarkan ponselnya dari saku, menyilangkan kaki dan bermain game.


"Lalu kau di sini mau apa?"


Miwa beranjak dari duduknya dan kini duduk d samping Arsen seraya menyenderkan kepala nya di dada pria itu.


"Melihatmu bermain game saja lah."


"Cih, itu semakin membosankan. Bangunlah dan lakukan sesuatu."


Arsen mendorong pelan kepala Miwa membuat perempuan itu menekuk wajahnya.


"Ishh Kak Arsen ini ... sama-sama menyebalkan seperti Kak Maxi."


"Dia jauh lebih menyebalkan dari pada aku!" sahut Arsen dengan mata fokus ke ponsel nya.


Suara pintu terbuka, seorang perempuan mengantarkan makan siang seperti biasa untuk Arsen. Miwa segera menggeser memberi jarak duduk bersama Arsen.


Lalu Arsen dan Miwa menoleh ke arahnya. "Apa ada salad buah?" tanya Miwa.


"Maaf Nona, hanya ada salad sayur." ucap perempuan itu dengan sopan.


Miwa mengerucutkan bibirnya.


"Tolong buatkan dia salad buah," ucap Arsen yang di sahut anggukan dari perempuan itu.


Sebelum keluar perempuan itu menaruh semua makanan yang ada di troli ke meja.


Sembari menunggu makanan yang di inginkan, Miwa melahap makanan yang ada di meja lebih dahulu.


"Kak sebelum berangkat ke sini ada yang menelponku terus-menerus. Tapi ketika aku angkat dia malah mematikan panggilan nya." Miwa berkata seraya melahap spageti.


Arsen langsung menoleh kepada Miwa dengan sedikit terkejut. "Benarkah?"


Miwa mengangguk tanpa menghentikan makan nya.


"Berikan kakak nomornya."


Miwa memberikan ponsel nya dari dalam tas kepada Arsen. Arsen langsung membuka kontak panggilan dan pindah ke meja utama lalu membuka laptop nya untuk melacak nomor tersebut.


Dan hasilnya tetap sama seperti ia melacak nomor-nomor sebelumnya. Gagal, tidak ada jejak apapun dari nomor tersebut.


Ia menghela nafas dan memijit kepala nya seraya mendongak ke langit-langit ruangan.


"Kak Arsen kenapa?" tanya Miwa.


"Tidak, makan saja makananmu."


Miwa memandangi Arsen dengan penasaran. Apa yang terjadi, tapi sekalipun bertanya lagi pasti tidak akan di jawab oleh pria itu. Karena Arsen maupun Maxime tidak pernah membahas hal membahayakan apapun kepada Miwa dan Tessa.


Mereka hanya akan meminta Miwa dan Tessa untuk menurut kepada mereka tanpa memberikan penjelasan apapun.


Dua pria itu mempunyai sikap yang sama seperti Javier yang ketika para anak buah mudork datang ke mansion, Javier akan menemui mereka setelah Sky tertidur pulas.


Pelayan pun datang memberikan salad buah kepada Miwa. Ketika hendak pergi ia menghampiri Arsen terlebih dahulu.


"Tuan satpam di depan memberikan surat ini untuk anda."


Perempuan itu menaruh surat di meja Arsen.


"Surat? dari siapa?" tanya Arsen.


"Dia bilang anak kecil yang memberikan surat ini."


"Apa anak itu sudah pergi?!" tanya Arsen berharap anak kecil itu masih ada di depan kantor.


"Sepertinya sudah Tuan, karena surat ini di antar pagi tadi. Dan maaf aku baru ingat sekarang soal surat ini, Tuan."


Pagi tadi Arsen berada di petshop Maxime, apa mungkin seseorang yang menerror Miwa ada di dekat perusahaan nya pagi tadi.


"Suruh satpam datang ke sini!" perintah Arsen.


"Baik, Tuan." Perempuan itu pun membungkukan badan sopan lalu keluar dari ruangan.


Bersambung