The Devil's Touch

The Devil's Touch
#91



Entah berapa lama ia menangis sampai matanya sembab dan sekarang gadis itu hanya meringkuk di atas ranjang.


Tangan nya mencari-cari nama Melisa di kontak. Lalu ia mencoba menelpon nya.


"Kakak ..." ucap Milan lemah.


"Ada apa? aku sedang belajar!"


"Kak, aku bisa minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Tolong datang ke kantor polisi dan bilang kalau aku di culik."


Sebenarnya sia-sia meminta bantuan kepada polisi, tapi Milan setidaknya mencoba untuk berusaha walaupun tidak mungkin berhasil.


"Penculikan darimana? kau kan tinggal bersama om-om kaya raya itu!! mama sudah bilang!! jangan buat drama dengan penculikan!!"


"Tapi kak--"


tut


Melisa mematikan panggilan nya membuat Milan menghembuskan nafas kecewa.


Pikiran nya tiba-tiba mengingat wajah Cantika. Perempuan yang ia temui di supermarket malam itu. Ia pun segera mencari nama Cantika di kontak nya dan mencoba meminta bantuan kepada perempuan itu.


"Hallo, siapa ini?" ucap Cantika alias Miwa di mansion nya.


"Cantika ..."


"Milan?"


"Ya, aku Milan."


Milan pun beranjak duduk di ranjangnya. "Aku butuh bantuan kakakmu itu ... bisa tidak?" Milan berkata seraya menatap pintu, khawatir Maxime tiba-tiba masuk.


Seingatnya Cantika pernah mengatakan kalau kakaknya sulit di kalahkan. Ia tidak tahu saja kalau kakak nya yang sulit di kalahkan itu Maxime.


"Kau kenapa Milan?" tanya Miwa.


"Aku di kurung," sahut Milan.


"Oleh pria kriminal mu itu?" tanya Miwa.


"Iya ... tolong bantu aku Cantika."


"Oke ... oke ... sebentar aku coba telpon kakak ku dulu. Nanti aku menelpon mu lagi, oke. Kau bertahan sebentar." Miwa terdengar khawatir dengan keadaan Milan.


Perempuan itu pun mematikan panggilan nya dan mencoba menelpon kakaknya ... Maxime.


Maxime yang sedang membuat makanan untuk Milan menoleh ke ponsel yang tergeletak di meja makan karena ponselnya berdering.


Ia yang sedang memotong bawang pun menyimpan pisau nya dan mengangkat panggilan dari adiknya.


"Kakak ... kakak dimana?" tanya Miwa.


"Petshop, ada apa?"


"Kak bisa bantu temanku--"


tut


Miwa mendengus menatap ponselnya dengan kesal, belum selesai bicara Maxime malah mematikan panggilan nya. Ucapan nya kepada Milan hari itu bahwa Kakak nya tidak suka ikut campur urusan orang lain itu fakta.


Tapi Maxime sendiri tidak tahu kalau teman yang di maksud Miwa adalah Milan, gadis yang ia kurung di kamar.


Miwa kembali menelpon Milan dan Maxime kembali sibuk dengan peralatan masaknya.


"Milan ..." suara Miwa terdengar pelan. "Maafkan aku ... kakak ku sedang sibuk sepertinya. Dia tidak bisa membantumu."


Milan menghembuskan nafas kecewa.


"Begini saja Milan, kau punya parfum tidak?" tanya Miwa.


"Aku punya," sahut Milan. "Oh iya, aku mengerti semprot mata nya dengan parfum. Benar kan?" tanya Milan.


"Yap! benar!" jawab Miwa. "Pakai parfum itu dan kau kabur dari dia!!"


"Tapi pintu depan di kunci," sahut Milan membuat Miwa menghembuskan nafas.


"Pintu kayu?" tanya Miwa.


"Bukan. kaca," sahut Milan.


"Ide bagus," sahut Milan.


"Begini, aku akan menjemputmu setelah kau keluar dari rumah itu, oke."


"Oke, terimakasih Cantika."


"Sama-sama."


Milan pun mematikan panggilan nya, di laci ia mencari-cari parfum miliknya.


"Ini dia ..." Milan tersenyum senang tapi sedetik kemudian jantung nya kembali memburu.


Ia menghela nafas, tidak boleh gagal keluar dari petshop ini.


Beberapa menit ia menunggu sampai akhirnya ia mendengar suara Maxime yang sedang memasukan kunci pintu.


Ketika pintu terbuka Milan segera menyemprot mata Maxime menggunakan parfum,


PRANG


Nampan di tangan nya jatuh bersamaan dengan itu Maxime menjerit dengan suara seraknya.


"MILANNNN!!"


Milan mendorong tubuh Maxime dengan cepat dan mengunci pintu kamar. Ia berlari mengambil kursi kasir dan melemparnya ke pintu depan yang terbuat dari kaca.


Di dalam kamar dengan mengerjap-ngerjapkan mata Maxime berusaha untuk menarik-narik knop pintu.


"MILAN JANGAN KABUR KAU!!" Maxime begitu marah sampai suaranya membuat Milan yang berusaha menghancurkan pintu bergidik ngeri.


"MILANNNN!!"


PRANGG


Suara itu membuat keduanya terbelalak kaget. "Milan ..." gumam Maxime yang sadar itu suara pecahan pintu kaca nya.


"MILAN!!"


Maxime berusaha sekuat tenaga untuk menarik-narik knop pintu nya. Dan karena sulit, ia pun mencari-cari sesuatu di laci dan kolong kasur. Sampai akhirnya ia mendapatkan obeng.


Terpaksa ia melepas knop pintu itu menggunakan obeng dan akhirnya berhasil.


Ketika ia keluar dari kamar, ia melebarkan mata melihat pintu nya hancur di tambah lagi Milan sudah tidak ada di sana.


Ia menggeram kesal dengan tangan mengepal. Maxime berlari keluar petshop.


Sementara itu Milan berada di mobil pick up sayur. Tadi ada seseorang yang hendak pergi ke perkotaan untuk mengirim sayur ke pasar. Alhasil Milan meminta bantuan mereka.


Milan duduk dengan memegang lengan nya yang terluka karena tergores pecahan kaca tadi. Bahkan lengan nya mengeluarkan banyak darah, Milan meringis kesakitan dengan sesekali menoleh ke belakang khawatir tiba-tiba ada mobil Maxime lagi dari belakang.


Dia sudah mengirim pesan kepada Cantika agar menjemputmu di supermarket tempat pertama kali mereka bertemu malam itu.


Miwa sudah berdiri di samping mobilnya dengan gelisah menunggu Milan. Ketika ada mobil pick up berhenti di supermarket, ia segera menghampiri Milan.


"Milan ..." Miwa terlihat panik. "lenganmu berdarah."


Milan turun dari mobil pick up di bantu Miwa.


"Mas, terimakasih ya." Milan berkata kepada supir yang di depan.


"Sama-sama."


Mobil pick up pun kembali melaju meninggalkan Miwa dan Milan.


Miwa membantu Milan masuk ke mobilnya. "Tunggu di sini, aku ambil p3k dulu."


"Jangan," sahut Milan.


"Aku ingin kau membawaku pergi dulu." lanjut Milan.


Melihat Milan yang ketakutan Miwa pun tidak tega. Akhirnya ia mengangguk.


Miwa menutup pintu mobil dan mengitari mobil nya lalu masuk ke balik kemudi.


"Milan, untuk sementara waktu kau tinggal di mansion kakak ku saja dulu oke."


Milan mengangguk pasrah seraya memegang tangan nya yang terluka.


"Iya, Cantika. Terimakasih."


Bersambung