The Devil's Touch

The Devil's Touch
#197



Ketika mereka kembali ke mansion, mereka langsung menuju kamar Milan karena memang dari sore sampai malam, Miwa dan Tessa berada di kamar Milan untuk menonton film bersama.


Perlahan Maxime mendorong pintu kamar Milan, mengintip sedikit dengan Daniel dan Arsen di belakangnya. Kemudian ia menghela nafas dan langsung membuka pintunya lebar ketika melihat para istri sudah tertidur lelap.


Begitupula dengan Daniel yang hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Aku sampai ikut membakar sate ini demi istriku, dia malah enak-enakan tidur."


Arsen menyikut Daniel. "Jangan banyak bicara, dia sedang ngidam!!"


Maxime menatap satu persatu sampah di ranjang dan lantai kamarnya, sampah cemilan ada dimana-mana, bahkan ada apel yang sudah di makan setengah di tangan Tessa. Dari tadi sore tiga perempuan itu banyak membawa makanan ke kamar seraya menonton film.


Biasanya kamarnya selalu bersih, Milan tidak jorok sama sekali. Bahkan Miwa dan Tessa juga selalu menjaga kebersihan.


"Apa-apaan ini ... sampahnya banyak sekali," ucap Daniel pelan menatap semua sampai itu dengan melongo.


"Kenapa mereka jadi jorok seperti ini," sambung Arsen.


"Sepertinya bukan mereka yang jorok," sahut Maxime.


"Lalu siapa?" tanya Arsen.


"Anak kita." Maxime langsung keluar dari kamarnya setelah berkata demikian.


Arsen dan Daniel pun ikut keluar, Maxime turun ke bawah sementara Arsen dan Daniel duduk di sofa dekat kamar Milan.


Kemudian Maxime kembali naik dengan membawa vacum cleaner dan alat pel.


"Itu untuk apa?" tanya Daniel.


"Untuk apa lagi, bersihkan kamarku. Kau mau mereka sakit karena tidak menjaga kebersihan."


"Kau punguti sampahnya," titah Maxime kepada Daniel.


"Kau bersihkan sisa nya," titah Maxime kepada Arsen dan memberikan vacuum cleaner tersebut.


Arsen pun beranjak dari duduknya dan mengambil vacum cleaner itu.


"Aku yang mengepel. Ayo."


Mereka bertiga pun pelan-pelan membereskan kamar Maxime, dari Daniel yang memunguti bungkus makanan, Arsen yang memvacum lantai dan Maxime yang mengepel.


Sepanjang mereka membereskan kamar, para istri mereka tidak terganggu sama sekali, mereka masih tidur terlelap.


Daniel menyemprotkan pengharum ruangan di kamar Maxime. Lalu menghela nafas.


"Akhirnya selesai juga ..."


Maxime dan Arsen keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan mereka. Kemudian Maxime berjalan menghampiri ranjang, Milan tidur di tengah-tengah Miwa dan Tessa.


Ia tersenyum mengelus kepala Milan lalu menarik selimut, menyelimuti istri dan kedua adiknya sampai leher mereka.


Daniel duduk di ranjang karena merasa sedikit lelah, tapi Arsen buru-buru menarik tangan Daniel.


"Untuk apa kau duduk, ayo cepat keluar," ucap Arsen dengan pelan.


Para suami pun keluar dari kamarnya. Mereka langsung melempar tubuh mereka yang kelelahan di sofa depan kamar Milan.


"Aku baru ingat, kenapa kita tidak menyuruh Oris saja," ucap Daniel.


"Aku tidak mengizinkan orang lain mengurus anakku bahkan ketika mereka masih di dalam perut ibunya," ucap Maxime.


"Ya, siapa yang bisa memastikan mereka aman kalau bukan kita, semenjak Miwa hamil aku sedikit khawatir kalau ada orang lain yang mengurusi dia. Aku bahkan tidak percaya Oris ..." sambung Arsen.


"Suami siaga." Daniel mengacungkan jempolnya dengan tersenyum.


Kemudian mereka bertiga terlelap di atas sofa, tanpa selimut. Hanya bantal sofa yang mereka peluk.


Pagi harinya, hal biasa kembali terjadi. Mereka bertiga muntah banyak. Maxime memijit leher Milan dari belakang.


"Tidak apa-apa sayang, muntahkan saja."


Hoeekk.


"Ayo sayang, muntahkan lagi saja."


Hooeek.


"Terus sayang ..."


"Kau ini terus-terus, kenapa malah menyuruhku terus muntah!" kesal Milan lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci mulutnya.


"Kalau sudah muntah, perutmu akan terasa lebih baik sayang."


Milan membersihkan mulutnya dengan tissue, membuang tissue itu ke tempat sampah lalu keluar dari kamar mandi. Maxime hanya menggaruk kepalanya, apa ucapannya salah barusan.


Arsen pun sedang memijit leher istrinya, di kamar mandi Miwa. Satu tangan nya memegang segelas teh hangat.


"Bee, minum dulu."


Hoeek.


"Bee, perutmu akan membaik kalau sudah minum teh hangat ini."


Hoeek.


"Bee, minum dulu sedikit." Arsen menyodorkan teh hangat di tangannya.


Miwa menatap Arsen dengan tatapan tajam. "Kau ini dari tadi minum-minum terus, kau tidak lihat aku sedang muntah, Boo!!"


"I-iya, tapi perutmu akan membaik kalau sudah minum teh hangat ini."


Miwa berjalan ke wastafel, mencuci mulutnya dan mengeringkan nya dengan tissue. Ia keluar dari kamar mandi setelah membuang tissue itu ke tempat sampah. Arsen hanya bisa menghela nafas.


Daniel pun tidak jauh beda, ia memijit leher belakang Tessa.


"Ayo sayang semangat ... tidak apa-apa, kau masih bisa makan banyak lagi nanti."


Hoeekk.


"Iya sayang, tidak apa-apa, aku disini menemanimu, oke."


Hoeek.


"Semangat sayang, aku bantu pijit ya. Kau calon ibu hebat." Daniel terus memijit leher belakang Tessa.


Tessa menepis tangan Daniel. "Kau ini berisik sekali dari tadi!!"


"Sayang, aku sedang menyemangatimu ..."


"Untuk apa kau menyemangati orang yang sedang muntah?"


"A-aku tidak tau, aku hanya bingung harus melakukan apa. Oh iya ..." Daniel memasukan tangannya ke saku celana lalu mengeluarkan permen dari sakunya.


"Ini, makan permen. Biasanya kalau makan permen tidak akan mual lagi."


Tessa hanya berdecak, membersihkan mulutnya di wastafel dan keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan mulutnya dengan tissue.


Daniel hanya melongo melihat kepergian Tessa begitu saja, ia menatap permen di telapak tangannya. Lalu memilih membuka permen tersebut dan langsung melahapnya.


"Beruntung aku punya satu istri!" gumam Daniel lalu ikut keluar dari kamar mandi.


Bersambung