
Aberto menarik tangan Rhea ketika Rhea hendak pergi ke bandara untuk pergi ke Negara X. Rhea menghempaskan kasar tangan Aberto.
"Jangan halangi aku!!"
"Ini bukan ide yang baik, Rhea!!"
"Kenapa bukan? lalu ide baik itu seperti apa hah? diam sepertimu? dari awal kau memang tidak berniat membantu Felix, kau malah membiarkan dia mati Aberto!!"
"Dia mati karena kebodohannya sendiri, Rhea!!"
"Apa? kebodohan? hahaha ... kau lah yang bodoh, sudah tua bangka tidak bisa apa-apa!!"
"Rhea!!"
"Apa? kau mau marah denganku? mau menceraikanku? ceraikan saja aku tidak perduli!!"
Aberto yang geram menarik leher Rhea dengan kuat, Rhea hampir tercekik karena tangan suaminya. Mereka tidak tahu jika ada Magma yang diam-diam memperhatikan pertengkaran mereka, Magma terlihat sangat shock melihat Ayahnya yang tak pernah kasar dengan Ibunya kini bersikap kasar.
"Dengar ..." Aberto bicara penuh penekanan. "Kalau saja aku tidak memikirkan Magma ... aku sudah membunuhmu dari dulu Rhea!!"
"Cuih!!" Rhea meludahi suaminya, Aberto menghela nafas kasar lalu mengusap wajahnya tanpa melepaskan tangannya dari leher Rhea.
"Hahaha ... bunuh saja, kau pikir aku takut? kau memang bodoh ..."
Aberto mendorong tubuh Rhea sampai Rhea jatuh ke lantai, dengan wajah memerah Aberto menghela nafas berusaha mengatur emosinya, tapi ia tidak bisa. Amarahnya sudah berada di ujung tanduk, ia memercak pinggang memalingkan tubuhnya dari Rhea, kemudian mengusap wajahnya kasar.
Ia berniat untuk pergi dan enggan melanjutkan pertikaian ini, tapi sayangnya ucapan Rhea membuat emosinya meledak seketika.
"Apa kau yakin Magma anakmu!!" teriak Rhea.
Aberto langsung membalik, ia kembali mencengkram leher Rhea, memaksa perempuan itu berdiri dengan menarik lehernya.
"Diam kau Rhea!!" ucapnya penuh penekanan.
Nafas Rhea tersenggal, ia memukul-mukul tangan Aberto karena ia kesulitan bernafas.
"Ka-kau ... lelaki mandul!! kau pikir ... kau pikir aku tidak tau itu, A-Aberto!!" ucap Rhea terbata-bata.
"Magma dia bukan anak---"
BRUKH
Aberto mendorong tubuh Rhea sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimatnya, kepala Rhea terbentur ujung meja.
Magma yang melihat itu hendak berlari menghampiri Ibunya tapi tangannya di tarik dari belakang oleh Smith.
Smith menggelengkan kepala meminta Magma jangan mendekat.
"Mama ..." ucap Magma pelan.
"Ayo Tuan muda, kita pergi dari sini." Smith menarik tangan Magma, ia harus beberapa kali menarik-narik tangan Magma karena Magma sempat menolak.
*
Magma duduk di ranjang dengan pandangan kosong menatap jendela di depan nya, usianya baru sepuluh tahun tapi ia mengerti apa yang di katakan Ibunya tadi.
Aberto, Ayahnya yang selalu menenangkannya, apa benar bukan Ayah kandungnya. Hanya itu yang ada di pikiran Magma sekarang.
Kemudian Aberto datang menghampiri Magma, ia duduk di samping Magma lalu mengelus kepala anak itu.
"Kenapa melamun?" tanya nya.
Magma hanya menjawab dengan gelenggan kepala. Kemudian Magma melihat ada darah di bawah telinga Aberto, entah darah apa itu, walaupun bercak darahnya hanya sedikit tapi Magma khawatir dengan keadaan Ibunya.
"Apa Mama baik-baik saja?" tanya Magma.
Aberto sendiri benar-benar tidak tahu jika Magma melihat pertengkarannya tadi.
"Mama mu baik-baik saja, Magma."
"Mama seperti biasa, pergi ke rumah temannya," ucap Aberto dengan tersenyum.
"Ohh ..." Magma kembali menunduk.
Aberto tidak curiga apapun dengan anaknya itu karena memang Magma anak yang jarang bicara dan selalu terlihat murung.
Malam harinya ketika semua orang tidur, Magma diam-diam keluar dari kamarnya. Ia mengendap-ngendap ke kamar Aberto yang memang tidak kunci, Aberto terlihat tidur lelap seorang diri di ranjang, Magma mendekati laci samping ranjang, membuka laci itu satu persatu dengan perlahan, sesekali ia menoleh ke arah Aberto karena takut Ayahnya itu bangun.
Laci pertama hanya berisi buku-buku, laci kedua berisi berkas-berkas entah apa itu. Kemudian Magma membuka laci ketiga, ia menemukan sebuah ponsel. Magma sangat yakin itu ponsel Ibunya.
Rhea tidak pernah lupa membawa ponselnya ketika pergi, tapi kenapa ponsel itu kini ada di laci kamar Ayahnya.
Magma tidak berniat membawa ponsel itu, ia hanya penasaran karena melihat kedua orang tuanya bertengkar dan melihat darah di bawah telinga Aberto tadi.
Kemudian Magma keluar dari kamar Aberto. Ia menuruni anak tangga, bertanya ke beberapa penjaga apa Ibunya keluar dari mansion tadi siang. Dan jawaban mereka semua gelenggan kepala, yang artinya Rhea tidak keluar dari mansion, bahkan sebagian dari mereka mengatakan kalau Rhea masih berada di mansion.
Tapi dimana, dimana Ibunya kalau benar-benar ada di mansion. Magma menempelkan telpon rumah di telinganya, ia mencoba menanyakan Ibunya kepada Smith.
"Smith ..."
"Tuan muda ..."
"Smith, apa kau melihat Ibuku?"
"Tuan Aberto bilang Nyonya pergi ke rumah temannya Tuan muda ..."
Magma menghela nafas. "Baiklah, terimakasih."
Magma mengedarkan pandangannya, ada banyak ruangan di mansion nya, banyak anak tangga asing yang belum pernah di naiki oleh Magma, karena Magma memang tidak tahu dan tidak penasaran dengan ruangan-ruangan rahasia itu.
Magma menaiki satu anak tangga, di atasnya ada satu ruangan yang terkunci. Magma memainkan knop pintu nya berharap pintu itu terbuka tapi sayang tidak bisa.
Magma tidak tahu dimana kunci-kunci ruangan itu, ia harus menemukan Ibunya jika benar Ibunya ada di mansion.
Usianya memang sepuluh tahun tapi Magma cukup cerdas. Ia kembali menuruni anak tangga, berjalan ke salah satu ruangan tempat melihat cctv di seluruh mansion nya.
Di ruangan itu ada salah satu anak buah Ayahnya yang sedang berjaga. Magma pun mengetuk pintu, pria jangkung itu keluar dari ruangan.
"Tuan muda ..." ia membungkukan badannya.
"Smith memanggilmu, dia ada di depan," ucap Magma.
"Benarkah Tuan?"
Magma menganggukan kepalanya. Pria itu pun buru-buru turun ke bawah sampai lupa tidak mengunci ruangannya, ini kali pertama ia di panggil Smith. Selain Aberto, Smith juga cukup di segani oleh anak buah yang lain karena dia tangan kanan Aberto.
Magma segera masuk ke ruangan, ia duduk di kursi dan mulai mengotak-ngetik komputer di depan nya, ia mencari-cari ruangan tempat melihat orang tuanya bertengkar.
Ketika berhasil menemukan video cctv itu, layarnya di zoom agar semakin jelas dan Magma mulai menonton video itu.
Ia sontak melebarkan matanya ketika melihat pertengkaran Aberto dan Rhea. Setelah kepergiannya ke kamar bersama Smith, Aberto beberapa kali memukul Rhea.
Rhea terlihat melawan, bahkan sempat berhasil mencengkram tengkuk leher Aberto dengan tangannya yang berdarah, tapi sayang Aberto dengan mudah mendorong tubuh Rhea.
Dan darah yang ada di bawah telinga Aberto hasil dari tangan Rhea yang mengusap keningnya yang berdarah akibat beberapa kali terbentur meja dan lantai.
Hal terakhir yang Magma lihat, Aberto menembak dada Ibunya.
"Mama ..." gumamnya dengan nafas yang sesak ia harus melihat tubuh Ibunya terkulai tak berdaya di lantai.
Magma mencari video yang lain, video kemana Aberto membawa mayat Rhea yang di masukan ke koper yang besar. Jantungnya berdebar tak karuan, air mata berusaha ia tahan sekuat mungkin.
Koper itu di seret melewati jalan rahasia yang langsung tertuju ke halaman belakang mansion nya. Hanya itu hal terakhir yang bisa Magma lihat karena setelah itu tidak ada video yang lain, halaman belakang tidak ada cctv.
Bersambung