
"Kenapa kau memperk*sa ku Maxime!!" teriak Milan seraya terisak pedih menutupi tubuh dengan selimut tebal.
Maxime mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Aku tidak sadar ... aku benar-benar tidak sadar Milan, aku minta maaf ..." pria itu hendak meraih tangan Milan untuk meminta maaf tapi Milan segera menepisnya.
Nafas Milan terlihat memburu dengan rasa marah, kecewa dan sedih di waktu bersamaan. Ia pernah hampir beberapa kali di perk*sa oleh seseorang dan Maxime lah yang menyelamatkan dirinya, tapi sekarang justru pria yang menyelamatkan nya ini yang memperk*sa nya.
Milan berbicara dengan gemetar. "A-aku ... aku kecewa denganmu ... Brengs*k!!" teriaknya.
"Milan semalam aku benar-benar tidak sadar!!"
"Itu bukan alasan Maxime!!
"Kau memperk*saku!!" teriak Milan kembali.
"Ya, aku memperk*sa mu dalam keadaan tidak sadar!!"
Itu adalah video perdebatan mereka yang kini sedang di tonton jutaan orang di negara M. Sosial media penuh dengan hastag #YakuzaMati #YakuzaBerakhir.
Video itu pun di putar di televisi yang berada di bandara, stasiun kreta, gedung-gedung tinggi pun memutar video pertengkaran Maxime dan Milan.
Hastag Yakuza mati itu di buat karena mereka berpikir Maxime akan mati karena melanggar aturan keras Yakuza untuk tidak memperk*sa perempuan.
Dan ini juga kali pertama identitas Maxime sebagai pemimpin Yakuza terbongkar sudah. Seseorang yang menyebar video tersebut memajang foto Maxime, Javier, Sky dan Miwa dengan tulisan keluarga besar De Willson.
Para petinggi perusahaan yang menjadi musuh perusahaan De Willson pun seakan mendapat keuntungan dari tersebar nya video tersebut, mereka turun ke jalanan berteriak memanggil nama Javier De Willson.
"HUKUM ANAKMU ..."
"MUDORK MATI KARENA MELANGGAR ATURAN, ANAKMU TIDAK ADA BEDANYA DENGAN MUDORK. JADILAH PEMIMPIN YANG ADIL TUAN JAVIER DE WILLSON ..."
"KAMI TUNGGU KAU MENGHUKUM MAXIME!!"
"KAMI BERHARAP KAU TIDAK MELINDUNGI ANAKMU YANG BERSALAH JAVIER DE WILLSON!!"
"PENGGAL KEPALANYA!! TEMBAK DIA!!"
Sorak ramai memenuhi jalanan, wajah-wajah penduduk yang tampak kesal dan marah memadati jalanan membuat jalanan macet seketika. Suara klakson dan suara sorak dari orang-orang menggema secara bersamaan.
Aksi protes mereka pun jadi tontonan orang-orang yang berada di rumah.
Javier memegang ponselnya dengan kuat menonton semua video yang tersebar, rahangnya mengeras, wajahnya merah dengan amarah.
"Maxime ..." ucapnya penuh penekanan. "Aaaarrgghhhh!!" Ia berteriak dengan melempar ponsel di tangan nya.
Javier keluar menuruni anak tangga, terlihat beberapa orang berkumpul di ruang keluarga dengan Sky di peluk oleh Xander.
Mereka semua menonton bersama berita di tv tentang Maxime Louis De Willson.
Melihat Javier turun dengan amarah, Sky langsung berlari memeluk suaminya. "Jangan hukum anakku ... ini pasti salah paham," lirihnya dengan terisak.
Javier mematung dengan mata berkaca-kaca, ia harus adil dengan aturan yang di buat kakek nya dulu.
Thomas dan Sekretaris Han pun menghampiri Javier, yang lain tampak ketakutan. Takut Javier benar-benar menghukum Maxime.
"Jav, tenangkan dirimu ... Sky benar, mungkin ini hanya salah paham!!" ucap Sekretaris Han.
Javier menoleh kepada Sekretaris Han. "Kalau ternyata ini bukan salah paham? kalau ternyata Max benar-benar MEMPERK*SA NYA BAGAIMANA HAN?!!
Javier takut ini bukan salah paham, mengingat Milan tidak mencintai putranya.
"Seandainya itu benar, tolong jangan hukum Maxi ... dia putramu, putra kita ..."
"Video nya sudah tersebar, mereka semua sudah tau ... Aku harus menepati janjiku ..." sahut Javier dengan lemah.
Pria itu pun menghela nafas berat, kenapa ini harus terjadi kepada putra nya sendiri.
"Max ..." Thomas yang hendak berbicara di acuhkan Javier, pria itu mendorong Sky. Untung saja Sekretaris Han segera menangkapnya.
Javier berjalan cepat keluar dari mansion tidak perduli dengan panggilan dari Sky yang berteriak dalam tangisnya.
Xander mengusap wajahnya kasar, Rania yang menangis berusaha di tenangkan oleh Liana.
"JANGAN HUKUM ANAKKU BRENGS*K!!" Sky meraung-raung dalam tangisnya.
Sekretaris Han mencoba menelpon putra nya Arsen.
"Javier menuju mansion, sembunyikan Maxime!!"
"Aku mengerti Dad," sahut Arsen.
Javier mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, di perjalanan ia menekan klakson dengan keras kala orang-orang memadati jalanan yang hendak ia lewati.
Semua menyisi memberikan jalan, tapi ketika tahu itu mobil Javier De Willson sontak semua orang bersorak.
"HHHUUUUU PEMIMPIN TIDAK TAU DIRI!!"
"BERKHIANAT DENGAN ATURANNYA SENDIRI!!"
"YAKUZA ANJ*NG!!"
"MAFIA LAKN*T!!"
Sumpah serapah turut di lontarkan selama mereka masih bisa melihat mobil Javier, Javier mencengkram stir dengan kuat. Menginjak pedal gas membuat laju mobil semakin cepat.
Keenan, Philip dan Athes and the geng sudah lebih dulu sampai ke mansion Maxime. Mereka semua berjajar di depan gerbang siap menghadang kedatangan Javier ke mansion Maxime.
Sementara itu di sebuah gedung tinggi seorang pria yang sedang menonton aksi protes orang-orang di bawah. Ia tersenyum dengan sesekali meneguk alcohol di tangan nya.
Ponselnya berdering dan ia mengangkat panggilan dari Ibunya.
"Dia akan mati?" tanya Zivania.
"Sebentar lagi Mom, sebentar lagi dia akan mati," sahutnya dengan menoleh ke belakang. Di kamar ada seseorang yang sedang di ikat dan meronta-ronta meminta di lepaskan, gadis itu Milan.
"Gadis ini tidak bisa mengatakan apapun, karena dia bersamaku," lanjutnya dengan tersenyum penuh kemenangan lalu kembali meneguk Alcohol nya.
"Bagus Jack, kau memang bisa di andalkan!! Oh iya, Aron terus merengek ingin bermain denganmu ..."
"Ah anak itu ... suruh dia menunggu ku saja Mom."
Jack yang memfitnah Oris mulai muak karena Maxime masih saja diam dan tidak bertindak apapun.
Alhasil ia harus mengganti rencana dengan Milan yang berada di genggaman nya sekarang.
Bersambung