The Devil's Touch

The Devil's Touch
#190



Milan membuka kertas di tangannya dengan perlahan, surat kelulusan yang di berikan Mr Rian kepadanya.


"Lama!" Maxime merebut kertas tersebut lalu membukanya, di situ tertulis nama Milan Kanaya dan dinyatakan lulus dari SMA Ganesha. Tapi raut wajah Maxime datar, pria itu menghembuskan nafas membuat Milan bingung.


"Kenapa? lulus kan?"


Maxime menutup kertas itu dengan kasar lalu menatap Milan kemudian menggelengkan kepalanya membuat Milan setengah terkejut.


"Aku lulus kan?"


Maxime menggeleng lagi.


"Jangan bohong ..." terlihat raut wajah kecewa dari Milan.


"Tidak apa-apa sayang, kau masih bisa menghabiskan seluruh uangku walaupun kau bod*h sampai tidak lulus." Maxime menepuk-nepuk pundak Milan seolah-olah menenangkan.


"Ihhh ... aku mau lihat, memalukan kalau aku tidak lulus!"


Maxime menjauhkan kertas tersebut, Milan terus melompat-lompat kecil untuk mengambil kertas di tangan Maxime. Maxime tertawa karena Milan tidak bisa meraih tangannya, sampai akhirnya Maxime menggendong tubuh Milan dari depan dan membawanya ke kantin sekolah.


Milan terus berteriak meminta di turunkan karena sepanjang koridor mereka menjadi tatapan siswa yang lain.


"Sudah diam, mereka hanya iri," ucap Maxime lalu mengecup pundak Milan.


Kaki Milan yang tergantung terus bergerak-gerak meminta diturunkan tapi Maxime enggan menurunkan istrinya itu.


"TUAN MAXIME ..."


"TUANN ..."


"TUAN MAXIME HAI ..."


"TUAN KITA BERTEMU LAGI ..."


Maxime membalik dan mendapati Aken dan yang lain melambaikan tangan ke arahnya. Kemudian ia berdecak dan kembali berjalan ke kantin mengacuhkan mereka semua.


Aken dan yang lain pun ikut menyusul Maxime yang sedang menggendong Milan ke kantin. Mereka duduk bersama di satu meja, Maxime memesan makanan sementara Aken dan yang lain sibuk melihat wajah Milan yang terlihat sedih.


"Kau kenapa Milan?" tanya Tino.


Milan menggeleng kecil.


"Pasti pertengkaran antara suami istri kan?" ucap Faiz.


"Jangan bilang karena tidak di kasih jatah lagi jadi kau dan Tuan Maxime marahan," tebak Aken.


"Ish, bukan itu!"


"Lalu?" tanya Alvin.


"Apa di kelas kita ada yang tidak lulus?" tanya Milan setengah berbisik takut terdengar oleh siswa yang lain yang sedang makan di kantin.


Kemudian mereka semua kompak menggelengkan kepala.


"Aku serius!"


"Ta-tapi, suamiku bilang---" Milan menoleh ke arah Maxime yang sedang berjalan ke arah mereka setelah memesan makanan.


Maxime duduk di samping istrinya bergabung dengan yang lain. Ia mengusap kepala Milan lalu mengecek ponselnya karena ada pesan masuk dari Arsen.


"Kau bilang, aku tidak lulus. Ih kau bohong ya!" Milan berkata setengah berteriak kepada Maxime.


Maxime hanya menyungingkan senyumnya. "Kau pesimis sekali dari awal sampai berpikir tidak bisa lulus sayang."


Milan mencebikkan bibirnya. "Aku hampir gila kalau tidak lulus!"


"Apa yang membuatmu gila? kau sudah jadi istri orang kaya, tidak perlu memikirkan beban hidup selanjutnya Milan," ucap Aken.


"Ya, mau beli apa saja tinggal ambil tanpa lihat harga," sambung Faiz.


"Heh, kalian mau kuliah kemana?" tanya Maxime.


Faiz dan yang lain pun saling menoleh lalu menggelengkan kepala.


"Kami masih bingung mau ambil jurusan apa Tuan. Masih harus berbicara dengan keluarga dulu," ucap Tino.


Maxime mengangguk-ngangguk. "Baiklah, kalau sudah tau mau mengambil jurusan apa nanti kasih tahu Milan, aku akan menentukan dimana kampus yang bagus untuk kalian."


"Benar Tuan?" mata Alvin membinar senang.


"Kalau jadi aktor film bisa tidak?" tanya Aken penuh harap.


"Bisa, cocok jadi peran pembantu," sahut Maxime membuat yang lain meledakkan tawa nya, kecuali Aken yang tampak menekuk wajahnya.


Seorang pelayan di kantin itu datang dan menyimpan semangkuk salad di depan Milan membuat Milan mengerutkan dahinya.


"Punyaku?" tanyanya kepada Maxime.


"Ya, sayang. Mulai sekarang harus lebih banyak makan yang sehat, persiapkan rahim mu untuk mengandung nanti."


Sontak ucapan Maxime membuat Tino dan Faiz tersedak minumannya sendiri. Sementara Alvin dan Aken hanya bisa melebarkan matanya.


"T-tuan ... Milan kan masih kecil," ucap Alvin.


"Yang kecil umurnya saja," sahut Maxime.


"Waaahhh ..." Aken menggelengkan kepalanya menatap Milan. "Masih kecil sudah disuruh mengandung anak kecil. Hebat Milan." Aken memberikan jempol kepada Milan.


Milan berdecak. "Belum tentu langsung hamil juga tau."


"Bisa, kalau sering membuatnya," sahut Maxime membuat Milan mencubit pelan paha pria itu karena berbicara seperti itu di depan Aken dan yang lain.


Aken dan yang lain hanya saling menoleh lalu Faiz berdehem. "Sepertinya arah pembicaraan Tuan Maxime sudah melewati batas."


"Bukan melewati batas, kalian saja yang masih kecil!" sahut Maxime.


Tino bergumam. "Kita di bilang anak kecil, tapi Milan di bilang hanya umurnya saja yang kecil. Tuan Maxime ini ck ck ck."


Bersambung