
PRANG
Maxime melempar guci hiasan ke kaki Milan sampai pecahan belingnya hampir mengenai kaki Milan. Milan yang terlonjak kaget pun mundur ke belakang.
Mereka yang mendengar sesuatu pecah di kamar Maxime sontak berlari ke kamar pria itu. Arsen, Miwa dan Tessa lari tergesa-gesa.
Milan mundur ke belakang dengan gemetar kala Maxime mendekat ke arahnya. Pria itu pun menarik tengkuk Milan dengan kasar sampai wajah mereka sangat berdekatan.
Maxime menatap tajam Milan. "Berani sekali kau berusaha kabur lagi dariku!!" ucap Maxime dengan geram ketika tadi ia mendapati Milan hendak meloncat dari balkon kamarnya.
Bukan karena masalah kabur ia sangat marah, tapi bagaimana jika Milan mengalami cidera parah akibat mencoba meloncat dari balkon. Atau parahnya bagaimana jika gadis ini sampai mati. Entah akan segila apa Maxime kalau Milan pergi tak bernyawa.
"MAXIME!!" Arsen mengedor-gedor pintu kamar tapi Maxime mengacuhkan nya.
"Kak Maxi!!" teriak Miwa. "Kak ada apa?!!"
Maxime sempat menoleh kepintu kemudian kembali menatap Milan yang kini sedang gemetar ketakutan melihat kemarahan Maxime.
"A-aku harus sekolah ..."
"Owh sekolah?" Maxime menaikkan satu alisnya. "Sepagi ini? kenapa tidak membangunkan ku? kau mau berangkat sekolah dengan meloncat dari balkon hm?"
"Ma-Maxime aku ..." Maxime mendorong tubuh Milan ke ranjang.
"Aku benar-benar bisa kasar denganmu Milan, kalau sikapmu terus seperti ini!!" teriak Maxime.
Arsen, Miwa dan Tessa saling menoleh mendengar teriakan Maxime. Arsen akhirnya mencoba mendobrak pintu kamar Maxime.
"KAU PIKIR HANYA KAU SAJA YANG BISA KASAR HAH?!!" teriak Milan.
PLAK
Maxime menampar pipi Milan dan di saat bersamaan pintu terbuka lebar, Arsen dan yang lain membulatkan mata melihat Maxime menampar Milan.
"MAX!!" teriak Arsen keras lalu mendorong tubuh Maxime agar menjauh dari Milan dan Miwa sendiri menghampiri Milan yang kini sedang terisak memegang pipinya. Tessa hanya berdiri di dekat pintu seraya menutup mulut dengan tangan nya, ia masih shock.
"Anj*ng kau Max!!" Arsen terlihat begitu kesal. "Kenapa kau menamparnya!!"
"Milan kau baik-baik saja?" Miwa meraup wajah Milan dengan lembut mencoba melihat pipi gadis itu, terlihat sudah merah akibat tamparan keras dari Maxime.
Dada Maxime naik turun, ia mencoba menetralkan emosinya, sungguh ia benar-benar tidak sengaja. Emosi nya meledak begitu saja melihat Milan hendak meloncat dari balkon.
"SIAL*N!! DIA PEREMPUAN DAN KAU MENAMPARNYA!!" Arsen mencengkram kuat kerah Maxime. "KAU TAHU KITA DI DIDIK UNTUK TIDAK KASAR DENGAN PEREMPUAN!! KAU TAHU ATURAN KAKEKMU SIAL*N, BANGS*T!!"
BUGH
Arsen memukul wajah Maxime sampai pria itu jatuh ke lantai. Maxime terbatuk memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Tak sampai di situ, Arsen menarik Maxime lagi untuk bangun dan tangan nya menggayun di udara untuk memukul Maxime lagi tapi Miwa berteriak.
Kepalan tangan Arsen pun mematung di udara, ia menggertak kan giginya marah lalu mendorong tubuh Maxime.
Maxime mencoba untuk berdiri perlahan, tak perduli dengan pukulan dari Arsen ia berjalan menghampiri Milan lalu bersimpuh di kaki gadis itu.
"Maaf ..." lirihnya. "Maafkan aku ... aku tidak sengaja ..."
Miwa masih memeluk Milan dengan sendu menatap kakaknya yang kini bersimpuh di kaki Milan. Seumur hidupnya ia tidak pernah di tampar oleh Maxime, tapi kini ia melihat kakaknya menampar Milan.
Ternyata Maxime lebih posesif kepada Milan dari pada dirinya, menurutnya itu bagus jika Milan bisa mencintai kakaknya, tapi terlihat buruk karena Milan selalu mencoba untuk pergi.
Milan memalingkan wajahnya dari Maxime. "Cukup kak, biarkan Milan berada di kamarku sementara waktu."
*
Milan berada di kamar Miwa, perempuan itu sedang mengompres pipi Milan yang sedikit bengkak.
"Milan ... aku mau tanya sesuatu."
"Apa?" tanya Milan.
"Kau ..." Miwa menggantung kalimatnya, menyimpan handuk kecil bekas kompresan itu di wadah.
"Kau benar-benar ingin pergi dari kakak ku?"
Milan mengangguk.
"Kenapa?" tanya Miwa. "Apa karena dia seorang mafia?"
Milan menghela nafas sebelum menjawab. "Dia baik dan merawatku ketika kami tinggal di petshop, terkadang aku berpikir kami suami istri yang sudah menikah. Aku menyukai dia sebagai Maxime penjaga petshop, tapi rasa suka ku hilang ketika aku tau dia seorang mafia. Aku mencoba untuk pergi dari Maxime perlahan-lahan, karena aku takut dia memperk*sa ku ... dia hampir memperk*sa ku hari itu."
Miwa melebarkan mata. "Mem-memperk*sa?" Miwa sedikit terkejut dengan pengakuan dari Milan.
"Di sisi lain aku juga ingat kebaikan dia, dia menjaga dan merawat ku Miwa. Tapi ... Daffa mati di bunuh olehnya, itu membuatku sangat membenci dia dan semakin ingin pergi dari Maxime!!"
"Alasan Daffa mati?" tanya Miwa.
"Dia menyuruh orang untuk memperk*sa ku," sahut Milan membuat Miwa menghela nafas.
"Jelas saja kakak ku membunuhnya," batin Miwa.
"Sepertinya aku harus membantu kak Maxi," batin Miwa kembali.
Bersambung