
Malam harinya seperti biasa, Miwa dan Tessa masuk ke kamar Milan untuk berbincang dengan cemilan di atas kasur, mereka baru selesai menonton film. Karena bingung mau menonton film apalagi, alhasil yang mereka lakukan hanya makan dan membicarakan tentang beberapa buah-buahan.
"Jadi kau tidak pernah coba semangka warna kuning Milan?" tanya Miwa.
Milan menggelengkan kepala dengan snack di tangannya.
"Yang aku tau warna merah saja," ucap Milan lalu memasukan cemilan ke mulutnya.
"Kalau buah naga warna putih?" tanya Tessa.
"Pernah lah," sahut Milan.
"Aku lebih suka warna merah," ucap Miwa.
"Ya, aku juga," sambung Tessa.
"Kau pernah coba Natto tidak? makanan jepang yang dari kacang kedelai ..." tanya Miwa.
"Ih aku tidak berani mencobanya, aku lihat di youtube banyak orang yang tidak suka dengan bau nya." Milan sampai bergidik membayangkan dirinya makan Natto.
"Kau harus mencobanya beberapa kali, baru nanti kau akan suka Milan," ucap Tessa lalu mengigit apel di tangannya.
"Aneh, kenapa orang jepang suka makanan seperti itu ya ..."
"Untuk mereka itu enak dan bergizi," ucap Miwa menjelaskan.
Pembahasan mereka terus meloncat-loncat, dari membahas buah-buahan, makanan jepang, aktor korea yang tampan, membahas masa sekolah dulu sampai berakhir membahas strawberry.
"Aku jadi ingin makan strawberry," ucap Miwa.
"Ya, aku juga ..." sambung Milan.
"Eh sepertinya enak kalau strawberry yang langsung dari kebun nya, lebih fresh dari pada yang ada di mall."
"Ya, kau benar Tessa ..." ucap Miwa.
"Bagaimana kalau kita suruh Ayah-ayah mereka yang mencarikan," ucap Miwa seraya mengelus-ngelus perutnya.
"Tapi ini sudah malam, kebun strawberry ada dimana?" tanya Milan.
Mereka pun menghembuskan nafas, untuk sekarang Miwa menyesal kenapa Ayahnya tidak membuat kebun strawberry yang luas agar memudahkan dirinya makan strawberry langsung.
Milan dan Tessa terlibat berpikir, sampai akhirnya Milan mengingat sesuatu. Sontak mata Milan pun berbinar.
"Aku tau ..." ucap Milan membuat Miwa dan Tessa menoleh kepadanya.
"Aken pernah membawaku ke kebun strawberry milik Tuan Gulnaro ..."
"Gulnaro?" ucap Tessa dan Miwa bersamaan.
"Ya, dia pemilik kebun strawberry yang hasil panennya selalu di kirim ke pasar dan banyak mall di kota, tapi jaraknya cukup jauh dari perkotaan dan kesana juga tidak bisa bawa mobil karena rumahnya masuk gang kecil."
"Apa strawberry nya enak milik si Gulnaro itu?" tanya Tessa.
Milan memberikan jempolnya dengan anggukan kepala sebagai jawaban. "Strawberry nya manis dan besar ..."
"Oke, kita panggil saja para Ayah itu kemari," ucap Tessa dengan semangat lalu turun dari ranjangnya berlari keluar kamar Milan untuk memanggil Maxime, Arsen dan Daniel.
*
Maxime, Arsen dan Daniel berdiri di depan mereka dengan wajah datar. Tadi Tessa datang dan mengatakan ingin makan strawberry, bukan strawberry yang membuat wajah mereka datar, seandainya strawberry itu bisa di beli di mall, mereka akan dengan senang hati membelikannya, tapi harus pergi ke kebun strawberry langsung malam-malam seperti ini? Ah, mereka hanya bisa menghela nafas.
Sekarang Milan sedang menjelaskan jalan menuju rumah Tuan Gulnaro. Ia menjelaskan panjang lebar dengan tangannya yang bergerak-gerak sesuai arah jalan yang di jelaskan.
"Jadi nanti ada gapura kecil terus di atasnya ada tulisan, Desa Alami. Nah, kalian masuk ke sana terus kalian lurus terusssssss ... jangan belok-belok, terus nanti ada pertigaan kalian belok kanan, dari sana kalian lurusssss lagi ... lalu belok ke kiri dan sekali lagi belok ke kanan ... sampai deh ... bagaimana, mengerti?"
Maxime menatap Daniel dan Arsen di sampingnya.
"Kalian mengerti kan apa yang di sampaikan istriku?"
"Kau suaminya mengerti tidak?" Daniel balik bertanya.
Dan jawaban dari Maxime pun gelenggan kepala membuat Milan, Tessa dan Miwa mendengus kasar.
"Ayolah ... yang mau bukan kita, tapi anak kalian," ucap Tessa mengelus-ngelus perutnya.
"Bagaimana kalau strawberry dari mall saja?" tanya Arsen.
"Ih, kan kita sudah bilang tidak mau," ucap Miwa menekuk wajahnya dengan tangan bersedekap dada.
"Sayang, padahal aku alergi strawberry kenapa mereka mau strawberry?" tanya Maxime menatap perut istrinya.
Milan mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tau, mereka mau kok."
Daniel menggosok hidungnya seraya berbicara pelan. "Aku curiga yang mau itu Ibu nya bukan anaknya."
Arsen menoleh ke arah Daniel lalu menganggukan kepala. Para istri itu menatap mereka penuh tanda tanya, Arsen dan Daniel kenapa berbicara memakai bahasa tubuh mereka.
Maxime menghela nafas. "Baiklah, kita pergi sekarang ..."
Maxime keluar dari kamarnya, mau tak mau Arsen dan Daniel pun ikut keluar. Para istri tersenyum bahagia.
Maxime hendak masuk ke mobilnya tapi perkataan Daniel membuat Maxime tak jadi membuka pintu mobil.
"Milan bilang tidak bisa pakai mobil, karena masuk gang kecil. Rumahnya jauh dari jalan besar, kita harus pakai motor."
"Yasudah, ayo." Maxime naik ke motor harley nya tapi lagi-lagi Daniel berkata.
"Motor itu terlalu besar untuk di bawa ke gang kecil. Pakai motor itu saja." Daniel menunjuk motor scoopy milik salah satu anak buah Maxime.
"Yang benar saja!" ucap Arsen.
"Aku benar, motor itu lebih cocok di bawa ke gang kecil," sahut Daniel.
"Ayolah cepat, aku ingin semuanya cepat berakhir. Aku ingin memetik strawberry sial*n itu sekarang juga," ucap Maxime turun dari motor harley nya dan naik ke motor scoopy berwarna cream.
Maxime memasang helmnya, Daniel mengambil helm di motor harley yang lain begitupula dengan Arsen.
Setelah memakai helm, Daniel langsung naik ke motor scoopy itu dan duduk di belakang Maxime, Arsen pun duduk di belakang Daniel.
"Hei-hei, kenapa kalian duduk di sini?" tanya Maxime.
"Sudahlah, bonceng tiga saja," ucap Arsen.
"Ya, susah kalau tiga motor. Bagaimana kalau ada yang nyasar nanti," ucap Daniel.
"Jangan g*la sial*n turun!!" titah Maxime bergerak-gerak tak nyaman karena Daniel melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Sudahlah Maxime, kau mau mereka mengamuk karena kita terlalu lama," ucap Daniel.
Maxime pun akhirnya hanya bisa mengalah. Kemudian Maxime membelokkan motornya perlahan dengan Daniel dan Arsen yang enggan turun.
Ketika motor itu keluar dari gerbang, satpam di halaman mansion sempat membungkukan badan sambil menahan senyumnya, ini kali pertama ia melihat Maxime memakai motor scoopy membonceng Daniel dan Arsen.
Biasanya motor harley, motor kebesaran Maxime yang membuat perawakan tubuhnya semakin terlihat menyeramkan di mata orang lain, tapi motor scoopy yang di naiki Maxime membuat pria itu malah terlihat lucu apalagi harus naik bertiga seperti terong-terongan.
Bersambung