
Ada minibar di dapur, Arsen duduk di sana dengan memegang segelas wine. Sepulangnya dari mansion Javier ia kembali ke mansion Maxime.
Sedari tadi Arsen hanya memperhatikan Oris yang memasak, membuat dessert dan sekarang sedang mencuci piring. Menurut Arsen, Oris sama menyebalkan nya dengan uncle Philip dan yang lain.
Dia dari tadi terus bernyanyi dan menari sambil memasak. Berceloteh tidak jelas sendirian, tidak ada hal aneh yang membuktikan Oris bersalah atas kasus yang menerror keluarga De Willson.
Tapi, Arsen tetap harus berhati-hati. Seperti sekarang Oris menyodorkan chocolate caramel kepada Arsen dan Arsen menolak untuk memakan nya.
"Kau saja, aku tidak terlalu suka makanan manis." Arsen berkata seraya mendorong dessert itu kepada Oris.
"Ah yasudah, aku saja yang makan kalau begitu." Oris mengambil sendok dan memakan dessert buatan nya sendiri.
Arsen kembali meneguk wine nya seraya terus memperhatikan Oris yang kini duduk di depan Arsen seraya melahap dessert nya rakus.
Kalau ada racun untuk membunuh Arsen, tidak mungkin Oris memakan nya sendiri bukan.
"Kau sering ke pasar?" tanya Arsen setelah menyimpan gelasnya di meja.
Oris mengangguk sambil mengunyah. "Aku membeli bahan makanan di sana, lagipula di sana juga sayuran nya segar dan murah".
"Selain pedagang, dengan siapa kau bicara di pasar?"
"Tukang ojeg," sahut Oris.
"Aku serius," ucap Arsen.
"Memang benar, tukang ojeg sering menawari ku tumpangan dan aku menolaknya."
"Selain itu?" tanya Arsen lagi.
"Selain itu---"
"Kakak ..." potong Miwa yang berjalan menghampiri Arsen seraya berteriak. Arsen menepuk jidat nya seraya menghembuskan nafas. Miwa datang di waktu yang tidak tepat.
Miwa langsung merangkul Arsen seraya berdiri di samping Arsen.
"Hei kak, sedang apa?" tanya Miwa dengan tersenyum manis.
Arsen melepas rangkulan tangan Miwa. "Kenapa tidak pergi bekerja?"
"Bagaimana bisa, bosku saja ada di sini," sahut Miwa lalu duduk di kursi samping Arsen. Arsen hanya bisa memijit keningnya, Miwa benar-benar seperti ekor yang terus mengikut kemana pun ia pergi.
"Kau makan apa Oris?" tanya Miwa kini menoleh kepada Oris.
"Mau nona?" Oris mendorong dessert sisa setengah itu.
Miwa mengambil sendok di ujung meja tapi ketika hendak menyendok dessert tersebut tangan nya di tahan Oris.
"Biarkan Oris yang menghabiskan!"
"Loh, kenapa? Aku minta sedikit masa tidak boleh!" sahut Miwa.
Oris hanya menoleh bergantian mereka berdua. Ia bingung, kenapa tidak boleh apa karena dessert ini bekas di makan olehnya.
Arsen menepis tangan Miwa dari dessert Oris. "Kakak bilang jangan!"
Arsen kembali meneguk wine nya.
"Tapi aku mau yang manis-manis sekarang."
"Di mansion Daddy Javier kau sudah makan banyak. Apa belum kenyang?" tanya Arsen.
Miwa kembali mencoba menyendok dessert tersebut tapi lagi-lagi Oris menahan nya.
"Kakak bilang jangan!"
"Kakkk ..." Miwa terlihat kesal.
"Biar kakak yang buat ..." Arsen beranjak dari duduknya berjalan mendekati dapur dengan menggulung lengan kemeja nya sampai siku.
Dan itu membuat Miwa tersenyum senang, ini bukan kali pertama Arsen memasak untuknya dan Tessa.
Tapi menurut Miwa kali ini berbeda. Karena Arsen memasak untuk Miwa yang mempunyai perasaan kepada pria itu.
Oris masih makan seraya sesekali memperhatikan raut wajah Miwa yang tersenyum manis memandangi Arsen membuat dessert.
Tiga puluh menit kemudian Arsen datang membawa dua cupcake dan menaruhnya di meja.
Mata Miwa berbinar senang, walaupun dessert nya berbeda dengan yang di buat Oris. Tapi tak apalah, yang penting Arsen yang membuatnya.
Teesa menuruni anak tangga menghampiri mereka di minibar.
"Waahhh ada cupcake ... siapa yang buat?" tanya Tessa.
Dengan tersenyum Miwa menunjuk Arsen yang duduk di sampingnya.
"Mau dong ..."
"Ettt!!" Miwa menepis tangan Tessa yang hendak mengambil satu cupcake miliknya.
"Berbagilah, jangan pelit," ucap Arsen tanpa menoleh ke arah dua perempuan di sampingnya.
"Aku lapar, aku butuh dua. Kau minta di buatkan Oris saja ya ..." Miwa mengambil piring berisi dua cupcake itu lalu membawa nya ke kamar.
Membuat Arsen, Tessa dan Oris memperhatikan bingung.
"Ih Miwa kenapa jadi pelit!" pekik Tessa lalu duduk di kursi Miwa tadi.
"Sudah, kakak buatkan lagi untukmu." Arsen menepuk bahu Tessa pelan lalu hendak beranjak tapi tiba-tiba Miwa berbalik dan berteriak.
"JANGAN!!" teriaknya.
Semua orang kembali menoleh. "Kau ini kenapa?" tanya Tessa mengerutkan dahi nya.
"Ma-maksudku ... jangan buat untuk Tessa. Kau sudah terlihat gendut Tessa!"
Tessa terbelalak dengan ucapan Miwa. "Jangan bohong Miwa!"
"Aku serius, lihat saja pipimu itu ..."
Spontan Tessa memegang pipinya. Arsen pun ikut melihat pipi Tessa. Menurutnya sudah cukup tirus.
"Hah kau lihat, banyak lemak nya. Iya kan?"
Tessa memijit-mijit pipinya. "Ah iya ... benar juga!"
Arsen menghembuskan nafas, ribet sekali perempuan ini. Sudah tirus masih merasa gendut.
Oris hanya bisa menggeleng pelan seraya tersenyum dan Miwa sendiri tidak suka jika Arsen memasak untuk Tessa sekarang. Padahal dulu mereka berdua sering sekali di masaki Maxime dan Arsen.
Bersambung