
Mereka sedang duduk di bebatuan sekitar air terjun untuk menghangatkan tubuh. Mereka lupa, tidak membawa baju ganti. Alhasil bukan sekedar menghangatkan tubuh tapi juga menunggu pakaian mereka kering.
Bisa saja Maxime meminta Arsen atau anak buah yang lain mengantarkan baju untuknya dan juga Milan.
Ah tapi ia lebih suka kedinginan bersama dengan gadis ini.
Milan duduk seraya mengelus-ngelus kucing putihnya.
"Belum ada nama untuk dia," ucap Milan.
"Nanti saja kasih nama nya, dia juga masih satu bulan, sayang ..." sahut Maxime.
Maxime mengelus kepala Milan. "Dingin tidak?"
"Tidak," sahut Milan.
"Yakin?" tanya Maxime lagi yang di jawab anggukan dari Milan.
Maxime menghembuskan nafas, tidak bisakah gadis ini berkata dingin saja lalu meminta dirinya memeluknya.
"Tapi aku kedinginan sayang ..." Maxime memeluk Milan yang duduk di sampingnya lalu menci*m pundak gadis itu.
"Maxime lepas ..." Milan memberontak tapi Maxime mempererat pelukan nya.
"Sayang ... kucing yang kau pegang bukan kucing agresif. Dia juga masih kecil, tidak bisa mengancam pelanggan seperti blacky," ucap Maxime mengalihkan Milan agar tidak meminta untuk melepaskan pelukan nya.
"Oh iya, kenapa pencuri itu malah membawa kucing dari pada uang?" tanya nya, mengingat hari dimana petshop nya di masuki orang, uang di laci masih lengkap.
"Bagus lah sayang, pencuri itu tidak mata duitan," sahut Maxime seraya tersenyum.
Milan menghembuskan nafas dengan jawaban asal dari Maxime.
"Ayo kita pulang," ajak Milan.
"Sebentar sayang, pakaian kita masih basah. Tunggu sedikit kering agar tidak masuk angin." Maxime berkata dengan masih memeluk Milan.
"Yasudah," jawab Milan kembali mengelus anak kucing yang tidur di pangkuan nya sekarang.
Maxime celengak-celinguk, entah kenapa ingin sekali ia menjaili Milan. Sampai akhirnya mata nya mendapati lintah yang menempel di salah satu batu yang sudah berlumut.
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum, melepas pelukan nya lalu mengambil lintah di batu yang ada di belakang tubuh Milan.
"Sayang lihat ini ..."
Maxime menunjukan telapak tangan nya yang kini sedang di hisap oleh lintah. Mata Milan melebar sempurna, seketika ia menjerit dan berlari menjauh.
"MAXIME ..."
Maxime tergelak puas, ia pun ikut berlari mengejar Milan. Milan terus meminta agar lintah nya di buang karena itu menjijikan tapi Maxime enggan berhenti.
"Kemari sayang ..." ucap Maxime di tengah-tengah tawa nya.
"Ih tidak mau, itu jijik! itu binatang penghisap darah!" Milan bergidik jijik.
"Tenang saja sayang, darahku tidak akan habis," sahut Maxime seraya berjalan pelan menghampiri Milan dengan mengangkat satu telapak tanga nya yang ada lintah.
"Maxime aku bilang stop!!"
"Oke ... oke ..." Maxime tersenyum. "Aku buang lintahnya tapi dengan satu syarat. Bagaimana?"
"Kau gantikan dia," celetuk Maxime membuat Milan mengerutkan dahi nya.
"Apa maksudmu?"
"Kau hisap aku."
"Apa?!"
"Ah maksudku, ci*m aku, baru aku akan membuang lintah ini bagaimana?" Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum.
"Bagaimana sayang?" tanya nya sembari melangkah dan sontak Milan memundurkan langkahnya.
"A-aku tidak mau," bantah Milan.
"Hanya ci*m bukan pengakuan cinta. Tak apa menci*m ku walaupun kau belum mencintai ku sayang ..."
"Mau tidak?" tanya Maxime lagi seraya lagi-lagi mendekati Milan.
Milan yang jijik dengan lintah pun akhirnya mengangguk pasrah. Maxime tersenyum penuh kemenangan, ia pun mengambil Lintah yang sedang menghisap telapak tangan nya itu lalu membuangnya.
Maxime berjalan cepat menghampiri Milan dan berhenti tepat di depan gadis itu. Jarak mereka sangat dekat, Maxime harus sedikit menunduk untuk menyamai tinggi Milan.
Ia tersenyum menatap Milan intens membuat Milan menelan Saliva nya susah payah. Bagaimana ini, biasanya pria itu menci*m nya tiba-tiba.
"Milan ..."
Milan masih bergeming.
"Sayang mau aku ambil lintah nya lagi hmm?" tanya nya lembut.
Milan menghela nafas panjang lalu mengecup pipi kanan Maxime dan hendak berlari tapi tangan nya di tarik cepat oleh Maxime dan gadis itu masuk ke pelukan Maxime.
"Bukan seperti itu sayang ..." Maxime kembali menunduk dan menci*m bibir Milan.
*
Javier mengambil beberapa lembar foto dari dua anak buah yang ia perintahkan mencari tahu sosok Milan yang bersekolah di SMA Ganesha.
Foto itu mereka dapatkan dari sosial media Alvin, beberapa foto Milan yang berfoto bersama geng ikan Lele.
"Dia tomboy ternyata," gumam Javier melihat foto Milan yang tersenyum tipis di rangkul oleh teman-teman nya. Gadis itu memakai jaket hitam kulit dengan rambut di ikat.
"Cantik ... tapi lebih cantik istriku." Javier mendongak. "Iya kan?" tanya nya kepada anak buah nya.
Dua anak buah nya dengan cepat mengangguk. Tuan nya yang selalu tidak ingin kalah dari anaknya sendiri.
Polsel Javier bergetar, ada pesan masuk dari Maxime.
Berhentilah mencari tau soal gadisku Daddy ...
Javier menghela nafas panjang, anak ini selalu saja tahu apa yang dirinya lakukan.
Iya DUKUN.
Itu balasan Javier untuk putra nya.
#Bersambung