
Arsen dan Miwa duduk di balkon menikmati pemandangan yang langsung menghadap ke pantai, banyak orang yang berliburan hari ini. Mereka duduk seraya memegang segelas minuman di tangan nya. Miwa mengirim pesan kepada Kakaknya, Maxime.
"Miwa kau sedang chat bersama siapa?" tanya Arsen yang membuat Miwa terlonjak kaget.
"Kak Maxi kak," sahut Miwa.
"Maxime?" Arsen menaikkan satu alisnya. "Chat apa?" lanjut Arsen.
"Aku hanya menanyakan kabar Tessa kak," sahut Miwa bohong.
Arsen hanya mengangguk-nganggu seraya tersenyum, Miwa menghela nafas lalu menyimpan ponselnya di atas meja.
Ia menatap orang-orang di pantai, seraya memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Biasanya Miwa akan cerewet dan berbicara tidak jelas bersama Arsen dan Maxime.
Contohnya membahas film yang lagi ramai di bioskop, Miwa selalu mengomentari tentang alur cerita di film tersebut, para aktornya, kehidupan asli para pemain film tersebut atau membahas makanan yang menurutnya tidak enak.
Harus kah ia membahas hal serupa bersama Arsen sekarang, status Arsen bukan lagi Kakak yang mau mendengarkan ocehan adiknya tapi sebagai seorang kekasih.
Dulu ketika Miwa berpacaran dengan orang lain ia lebih sering menanyakan keseharian pasangan nya, menanyakan hobby, musik yang dia sukai. Tapi Arsen, ia sudah tahu semuanya. Apa yang kakak nya suka dan tidak.
Arsen beranjak dari duduknya menarik kursi untuk lebih dekat dengan Miwa dan duduk di samping perempuan itu.
Ia merangkul Miwa seraya mengelus pundaknya, Miwa menoleh dan ternyata Arsen juga sedang menatapnya.
Arsen mendekat lalu berbisik. "Obat apa yang ada di tasmu?"
Miwa melebarkan matanya seketika, menelan saliva nya susah payah. Kenapa Arsen bisa tahu soal obat itu. Apa pria itu menggeledah tas nya ketika ia di kamar mandi.
"Apa hm?"
"I-itu ..."
"Itu obat ... obat sakit kepala kak. Akhir-Akhir ini kepalaku sakit."
Arsen kembali mengangguk-ngangguk. "Oh ... mirip sekali dengan obat yang kau berikan kepada Maxime ya."
"Hah?"
Arsen hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala. Ia menarik kepala Miwa masuk ke dada nya.
"Kenapa jadi pendiam, tidak mau bahas soal cemilan yang tidak enak lagi atau galau karena aktor kesayanganmu akan menikah? atau membahas kenapa ubi ada yang warna ungu?" Arsen berkata seraya menahan senyumnya, satu tangan nya mengelus kepala Miwa, satunya lagi melingkar di pinggang perempuan itu.
"Aku pikir itu tidak terlalu penting di bahas lagi kak hehe."
"Kau kan memang suka membahas hal yang tidak penting," sahut Arsen.
"Kak, kakak semakin brewokan saja ..."
Arsen lagi-lagi tersenyum, benarkan Miwa suka sekali membahas hal yang tidak penting sampai membahas brewoknya.
"Mau, aku ambil alatnya dulu." Miwa bergegas ke kamar mengambil alat cukur di kamar mandi dan shaving foam.
"Duduk di sini ..." Arsen menepuk-nepuk paha nya.
"Hah?" Miwa menaikkan satu alisnya.
"Sudah duduk di sini saja." Tangan Miwa di tarik dan akhirnya duduk menghadap pria itu di pangkuan nya.
Miwa dengan ragu-ragu mengoleskan shaving foam atau busa cukur ke rahang dan dagu Arsen. Arsen tak henti menatap lekat perempuan di depan nya.
Mencukur jenggot mereka itu kebiasaan Miwa dan Tessa. Terkadang Tessa melakukan hal itu juga kepada Maxime.
"Cantik ..." ucap Arsen.
"A-apa?"
"Kau cantik," ulang Arsen.
"Dari dulu, kenapa baru bilang sekarang cantik." Miwa mencebikkan bibirnya membuat Arsen terkekeh.
Mereka menghabiskan waktu berdua mencukur jenggot Arsen di balkon setelah selesai Arsen pergi ke kamar mandi untuk melihat wajahnya, siapa tahu Miwa hasil mencukur Miwa tidak bersih.
"Bagaimana?" tanya Miwa bersedekap dada di depan pintu.
"Bagus, bersih." Arsen mencuci muka nya lalu mengeringakan nya dengan handuk kecil yang menggantung di samping cermin. Setelah itu ia mengoleskan gel ke rahangnya.
"Itu apa?" tanya Miwa.
"Agar cepat tumbuh lagi jadi pakai ini," sahut Arsen.
"Terus kenapa di cukur kalau mau cepat tumbuh lagi?" tanya Miwa.
Arsen tersenyum menghampiri Miwa dan mengecup bibir perempuan itu.
"Kau sendiri kan yang ingin mencukurnya, kakak hanya menawari saja tadi. Kakak pikir kau akan bilang kakak tampan dengan brewok."
"Loh ..." Miwa melebarkan matanya. "Jadi kakak tidak mau di cukur tadi?"
Arsen tidak menjawab, ia hanya menggedikan bahunya lalu merebahkan diri di kasur.
Miwa menghampiri dan duduk di pinggir ranjang. "Kenapa tidak bilang huh ..."
Arsen hanya tersenyum lalu menarik tangan Miwa. "Sudahlah, ini tumbuh lagi nanti. Tidur yuk."
"Ti-tidur?" Miwa ingat perkataan Maxime yang memintanya hati-hati dengan Arsen.
"Kenapa?" tanya Arsen.
"Aku tidak ngantuk kak."
"Yasudah di sini saja." Arsen menepuk-nepuk bantal di sampingnya.
"Ayo cepat ... jangan pikirkan ucapan Maxi, dia juga tidur berdua bersama Milan."
Miwa akhirnya menurut, ia masuk ke dalam selimut berdua dengan Arsen. Arsen memeluknya dari belakang.
"Kau pernah berpikir kita akan bersama?" tanya Arsen.
Miwa menggeleng. "Bahkan berpikir bisa menikah saja tidak, Kak Maxi terlalu posesif ..."
"Ya, dia terlalu posesif tapi posesif nya dia membuat kita bisa seperti sekarang," sahut Arsen. Miwa hanya tersenyum dengan jawaban Arsen.
Bersambung