The Devil's Touch

The Devil's Touch
#34



"Semalam aku benar-benar merasa bukan mimpi, aku pergi untuk menyusul Maxime dan tiba-tiba ada seseorang yang membekap ku dari belakang." Milan berujar kepada Arsen.


Mereka duduk saling berhadapan di kursi kasir setelah Milan memberi makan Blacky. Arsen menatap Milan intens mendengarkan semua kejadian yang menimpa gadis itu malam kemarin.


"Tapi, Maxime bilang itu hanya mimpi karena Maxime pulang dan melihatku tidur di kamar. Aku bingung ... aku benar-benar merasa itu nyata."


Arsen tiba-tiba mengingat malam kemarin Maxime keluar dari kamar klab dengan tergesa-gesa. Mereka belum banyak berbicara lagi setelah kepergian Maxime malam kemarin.


"Apa kau tidak melihat wajahnya, Milan?"


Milan menggeleng. "Aku hanya melihat dari bayangan nya dia pria yang memakai topi."


"Bagaimana menurutmu? itu bukan mimpi kan?"


"Itu mimpi, Milan."


"Kau menanyakan wajah pria itu tapi kau juga berpikir hal yang sama dengan Maxime huh."


Milan mengerucutkan bibirnya dengan tangan bersidekap dada. Arsen berbohong agar Milan tidak ketakutan.


*


Sementara itu Maxime sedang duduk di sofa di apit kedua adik perempuan nya.


"Kakak kembali ke petshop setelah ini?" tanya Miwa seraya menyalakan tv lalu menyenderkan punggung nya ke sandaran sofa.


"Berkunjung ke mansion Daddy dulu sebentar," sahut Maxime lalu menyeruput kopi sebentar lalu menaruhnya di atas meja.


"Tumben, biasanya Kak Maxi jarang sekali berkunjung ke mansion Daddy," sambung Tessa dengan bermain game di ponsel nya.


"Kakak merindukan Mommy," balas Maxime.


Setelah itu Ara datang membawa nampan berisi buah-buahan dan beberapa cemilan. Dan juga dua jus jeruk kesukaan Miwa dan Tessa.


"Semakin dewasa kalian semakin jarang berkumpul. Seperti sekarang, kalian ada di sini tapi Arsen entah dimana." Ara berujar seraya memindahkan makanan dan minuman dari nampan ke atas meja lalu duduk bergabung bersama mereka.


"Arsen sibuk di kantor," bohong Maxime.


"Eh Aunty, pria culun tadi siapa?" tanya Miwa menarik tubuhnya dari sandaran sofa.


"Pria culun?" Ara menaikkan satu alisnya.


"Itu Oris," ucap Maxime. "Tahanan yang kakak keluarkan karena mencuri singkong."


"Apa?!" ucap Tessa dan Miwa bersamaan menatap Maxime.


"Tidak ada hal yang lebih berharga selain singkong? emas misalnya," ucap Tessa yang kembali fokus dengan game di ponselnya.


"Untuk dia singkong sangat berharga, karena hanya itu yang bisa dia berikan untuk neneknya," sahut Maxime yang di jawab anggukan dari Tessa dan Miwa.


"Oh iya, semalam apa kalian merasa di ikuti seseorang?" tanya Maxime menatap bergantian kedua adiknya.


"Seseorang?" Tessa mendongak lalu menggeleng. "Engga tuh."


"Memangnya ada apa?" tanya Ara.


"Tidak, aku hanya khawatir saja ada yang menganggu mereka."


Sebenarnya Maxime memikirkan pesan dari seseorang yang mengirimi video Miwa dan Tessa malam kemarin. Maxime belum menanyakan soal nomor itu kepada Arsen, kemarin Arsen mengatakan akan melacak pemilik nomor tersebut.


Maxime lalu beranjak dari duduknya. "Kakak pergi dulu ke mansion Daddy."


Maxime berjalan meninggalkan mereka dan baru beberapa langkah ia berhenti dan berbalik.


"Minta izin dulu kemanapun kalian pergi, oke?"


Tessa dan Miwa mengacungkan jempolnya sementara Ara menggeleng melihat sikap posesif Maxime. Memangnya Miwa dan Tessa masih kecil sampai harus lapor kemanapun mereka pergi


*


Maxime keluar dari mobilnya setelah parkir di halaman depan. Ia melenggang masuk ke mansion Ayahnya.


Terlihat Rania dan Xander sedang duduk di sofa seraya menonton tv. Kara dan Liana sedang sibuk di dapur membuat makanan dari resep yang ada di internet. Sisanya sibuk di ruang bawah tanah.


"Pagi ..." sapa Maxime.


Sontak semua orang menoleh ke belakang lalu melebarkan mata senang.


"Maxime ..." ucap Xander lalu beranjak dari duduknya untuk memeluk Maxime.


Kara dan Liana menghampiri mereka. "Duh masih ingat jalan ke mansion ini ternyata," ucap Kara seraya tersenyum.


Maxime memeluk Kara. "Tentu saja. Apa kabar Mommy Kara?"


"Aku baik, Maxi ..." Kara membalas pelukan Maxime.


Setelah itu Maxime memeluk Liana dan menanyakan kabarnya.


"Aku merindukanmu, Grandma."


Maxime menghampiri Rania dan memeluknya, Rania menepuk punggung Maxime. "Bohong sekali kau ini!!"


Maxime terkekeh pelan lalu melepaskan pelukan nya. "Oh iya dimana Daddy?"


"Sedang olahraga pagi bersama Ibumu," sahut Xander.


Maxime menoleh seraya menaikkan satu alisnya. "Olahraga? sejak kapan Mom suka olahraga."


"Sejak mengenal Ayahmu," sahut Xander malas.


"O-oh ..." Maxime mengerti maksud olahraga pagi yang di maksud Kakek nya.


Kara dan Liana saling menyikut seraya tersenyum.


"Aku ke atas dulu."


"Maxi apa kau mau menganggu olahraga orang tuamu!" teriak Xander yang melihat Maxime menaiki anak tangga.


"Tentu saja, mereka sudah terlalu lama berolahraga," sahut Maxime tanpa membalikkan badan nya.


Maxime selalu hangat dengan keluarga besarnya, sikapnya yang dingin hanya kepada orang tidak kenal dan orang yang tidak dia sukai.


Pria itu pun menggedor pintu kamar Javier, seakan tidak perduli jika mereka akan marah setelah ini.


Karena tidak ada jawaban Maxime semakin menggedor pintu itu dengan keras membuat mereka yang di bawah sana hanya bisa berdecak mendengar gedoran pintu Maxime.


Pintu pun terbuka memperlihatkan Javier yang memakai bathrobe. Mata Maxime bergerak dari atas sampai bawah menatap Ayahnya.


"Dad kau ... astaga!" Maxime menepuk keningnya sendiri.


"Anak nakal, tidak sopan menganggu orang tua sepagi ini!!" kesal Javier.


"Ini sudah hampir siang, Daddy."


"Siapa sayang?" teriak Sky dari dalam sana.


"Anakmu Maxime," balas Javier setengah berteriak.


Maxime seketika membalikkan badan kala melihat Ibunya berlari ke arahnya dengan tubuh di tutupi selimut tebal. Maxime menghela nafas melihat tingah kedua orang tuanya.


"Maxi astaga ... kenapa tidak bilang mau datang ke sini? Mommy belum masak."


"Sky pakai dulu bajumu, cepat masuk." Javier mendorong istrinya agar kembali masuk ke dalam.


"Sebentar, aku ingin berbicara dengan anakku. Kau ini kenapa huh!"


"Mommy pakai dulu bajumu ..."


"Lihat, anakmu juga menyuruh hal yang sama. Cepat masuk!" Javier mendorong Sky terlihat kesal ke dalam kamar nya lagi.


"Ada hal penting Maxi?" tanya Javier kemudian Maxime kembali berbalik menoleh ke arah Javier lalu mengangguk.


Javier pun berjalan melewati Maxime. "Kita bicara di balkon."


Mereka duduk di balkon dengan Javier yang sedang menyalakan ujung rokok dengan pematik api.


"Ada apa?" tanya Javier selepas menghembuskan asap rokok ke udara.


"Soal mudork."


Javier sontak menoleh ke arah Maxime seraya menaikkan satu alisnya.


"Mudork?"


Maxime mengangguk. "Apa mereka semua sudah mati, Dad."


"Hanya satu yang tersisa, Nenekmu ..." sahut Javier.


"Selain grandma?"


"Semuanya sudah mati saat kami menyerang markas mereka. Yakuza dan Antraxs berhasil membunuh mereka semua, Maxi. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu, Maxi? apa ada yang menganggumu?"


"Tidak, Dad."


"Jangan bohong, Maxi. Kau terlihat gelisah. Bagaimana kabar Miwa dan Tessa? Apa mereka baik-baik saja?"


"Dad tidak perlu khawatir, mereka baik-baik saja. Kalau begitu aku kembali ke petshop dulu."


Maxime beranjak dari duduknya meninggalkan Javier yang menatapnya penuh keheranan.


Javier langsung menelpon Keenan. "Selidiki petshop Maxime diam-diam!!"


Bersambung