
Smith beranjak dari duduknya keluar dari restaurant meninggalkan Aberto, Felix dan Rhea. Ia curiga dengan pria di depan restaurant yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas.
"Hallo Tuan ..."
Pria itu membalik lalu Smith segera memukul wajahnya, sebelum si pria itu melawan Smith lebih dulu menendang perutnya sampai pria tersebut jatuh tersungkur ke lantai.
Dari arah belakang Smith di tendang punggung nya oleh seseorang, tak tanggung-tanggung beberapa pria pun mulai bermunculan mendekati Smith.
Kini, Smith di kelilingi oleh beberapa pria bertubuh tinggi dan berotot. Tubuh Smith juga sama dengan mereka, tetapi yang jadi masalahnya Negara ini bukan kekuasaan Smith.
Aberto beranjak dari duduknya ketika melihat ada keributan di depan restaurant, Rhea dan Felix pun ikut menyusul.
"HENTIKAN!! SIAPA KALIAN?!!" teriak Aberto.
Semua orang pun menoleh ke arah Aberto lalu salah satu dari mereka tersenyum miring.
"Seharusnya kami yang bertanya, punya maksud apa kalian datang ke wilayah kami!!"
Smith memperhatikan leher belakang pria yang berbicara dengan Aberto. Sayap burung garuda, lalu pandangan Smith beralih pada pergelangan tangan beberapa orang di sekelilingnya. Ada tatto bola api merah di sana. Tidak salah lagi, mereka anak buah Yakuza dan Antraxs.
"Kami ke sini untuk liburan," bohong Aberto.
Felix dan Rhea hanya berdiri di belakang Aberto menatap anak buah Yakuza dan Antraxs. Sementara Smith masih berdiri di tengah-tengah mereka.
Aberto menatap Smith meminta pria itu menyudahi pertikaian ini.
"Jangan bohong Pak Tua!! kau pikir kami percaya? Dalam waktu satu hari, kalau kau masih berada di sini, jangan harap bisa kembali ke Negara mu dengan selamat!!"
Aberto dan Smith menghela nafas kasar lalu Aberto pun mengalah, Smith berjalan menghampiri Aberto.
Mereka kembali masuk ke hotel di ikuti Felix dan Rhea yang menatap kesal anak buah Yakuza dan Antraxs.
Di sepanjang lorong menuju kamar, Rhea tak henti-henti nya berteriak kepada suaminya.
"Kenapa cepat sekali kita pulang?! kita belum melakukan apapun di sini!! Aberto kau ini seorang mafia, kenapa mudah sekali mengalah!!"
Felix hanya berjalan santai di samping Rhea, sementara Smith berjalan di belakang Rhea dan Felix.
Aberto membuka pintu kamarnya, mengacuhkan teriakan istrinya yang terus menerus mengeluarkan kekesalan nya terhadap Aberto.
Sampai Aberto duduk di kursi pun Rhea masih terus berteriak.
"Aku tidak mau pulang kalau belum melakukan apapun di sini!!" Rhea duduk dengan kesal di ranjang. Sementara Felix duduk di kursi yang jauh dari Aberto.
Aberto mengeluarkan ponsel nya hanya untuk menanyakan kabar Magma kepada para pelayan di mansion nya.
"Aberto!!"
"ABERTO!!" teriak Rhea.
Aberto segera melempar ponsel nya ke lantai sampai retak lalu menatap geram Rhea.
"Bisakah kau diam?!!" Aberto berbicara penuh penekanan.
"Kau lebih mementingkan masalah ini dari pada anakmu sendiri Rhea!!"
Smith yang hanya berdiri menatap Rhea lalu menggelengkan kepala. Felix terlihat kikuk, tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu hanya menggosok hidungnya lalu menunduk.
"Aku bilang jangan gegabah ketika melakukan sesuatu atau nyawa kita terancam!! Ini wilayah Yakuza dan Antraxs!! Kita kalah jumlah kalau menyerang mereka sekarang!! Ini bukan wilayah kekuasaan Recobra!! kau mau salah satu dari kita mati? Aku memikirkan Magma kalau sampai kau atau aku mati di sini!!"
Rhea hanya menatap mata Aberto yang penuh dengan kilatan kemarahan. Mata Rhea terlihat ketakutan dengan Aberto yang menatapnya tajam seperti itu.
"Yang merasa hanya menjadi patung di kamar ini silahkan keluar," sindir Smith yang tentu nya kepada Felix.
Felix mendongak perlahan menatap Smith yang melayangkan tatapan tak bersahabat.
"Berani sekali kau mengusir temanku Smith!" sahut Rhea.
"Ya, aku tidak membutuhkan patung di kamar ini," sambung Aberto.
"Aberto!!" Rhea kini menatap Aberto.
Felix pun perlahan beranjak dari duduknya berjalan keluar dari kamar Aberto di ikuti Smith dari belakang.
Rhea berdecak ketika melihat Smith dan Felix keluar dari kamarnya.
"Hubungi para pelayan, tanya kabar Magma," titah Aberto kepada Rhea.
"Magma pasti baik-baik saja," ucap Rhea acuh tak acuh.
"Kau selalu menganggap putra mu baik-baik saja di saat kau sendiri tidak pernah menanyakan kabar Magma!!"
"Astaga Aberto ... Magma itu sudah besar, sepuluh tahun apa masih membutuhkan kasih sayang seperti bayi kecil?"
Aberto menghela nafas kasar menatap istrinya dengan kepalan tangan, sungguh kalau Rhea bukan istrinya perempuan itu sudah mati sedari tadi.
*
Maxime sedang tiduran di ranjang dengan Milan di pelukan nya, selama beberapa menit mereka hanya diam sampai akhirnya Milan mendongak.
"Maxime kenapa diam?"
Maxime menunduk menatap Milan. "Aku sedang memilih gaun pengantin di otakku sayang ... dari tadi gaun pengantin hasil rancangan Miwa terus mondar-mandir di otakku, sepertinya aku harus memilih salah satunya," ucap Maxime seraya terkekeh.
"Gaun pengantin? untuk ..."
"Untukmu, siapa lagi."
"Maxime ---"
Maxime memotong ucapan Milan dengan sebuah cium*n.
Bersambung