
Jam tiga pagi, ketika Maxime tertidur lelap seraya memeluk Milan ia di kejutkan oleh suara gedoran pintu yang cukup menganggu.
Maxime jelas mendengarnya tapi enggan membuka pintu, pria itu malah menarik tubuh Milan semakin erat memeluknya.
Sampai tiga menit kemudian suara gedoran pintu itu tak kunjung berhenti, Maxime berdecak. Ia membuka mata nya perlahan lalu meregangkan otot-ototnya.
Sebelum beranjak ia menarik selimut sampai ke leher gadis itu lalu turun dari ranjang, mengambil pistol yang ia simpan di kolong kasur lalu membuka pintu kamar. Ketika berjalan untuk melihat siapa yang berani menganggu nya, ia terhenti di dekat meja kasir melihat senyum bodoh para uncle nya di balik pintu seraya melambaikan tangan.
Maxime mendengus dan kembali berbalik tapi Keenan berteriak seraya menempelkan ponsel di telinga nya.
"HALLO TUAN JAVIER ... YA, DI SINI ADA SEORANG GADIS TIDUR BERSAMA MAXIME!!" teriak Keenan seraya menoleh ke arah sepatu sekolah yang tergeletak di dekat kantung pasir kucing. Dan itu milik Milan.
Maxime mengepal dengan raut wajah kesal ia kembali berbalik dan berjalan tergesa-gesa untuk membuka pintu.
Keenan menarik ujung bibirnya tersenyum. "Tenanglah, aku hanya bercanda." Pria itu menggoyang-goyangkan ponselnya.
Philip celengak-celinguk. "Jadi benar, gadis itu tidur bersamamu, Maxi? di sini kan hanya ada satu kamar."
Sergio berdecak seraya menggelengkan kepala. "Wah ... wah ... wah ... ku pikir pria dingin tidak bisa jatuh cinta."
"Suruh gadis itu keluar!" ucap Aiden.
Maxime enggan menjawab, ia hanya berdiri di depan pintu untuk menghalangi mereka masuk dengan melayangkan tatapan permusuhan.
Keenan lebih dulu melangkah tapi Maxime bergerak menghalangi langkah Keenan.
Keenan berdecak. "Minggir kau Maxi!"
"Pulang!" usir Maxime dingin.
"Ayolah, kita bicara dulu di dalam," ucap Jonathan.
Jonathan hendak masuk, tapi lagi-lagi langkahnya di halangi Maxime.
"Pulang!" titah Maxime lagi.
Karena mereka berusaha untuk masuk lagi, alhasil mau tak mau Maxime mengeluarkan pistol dari belakang saku celana nya membuat semua orang terkejut dan sontak mengangkat kedua tangan mereka, kecuali Keenan.
Pria itu justru malah tertawa remeh melihat pistol di tangan Maxime. Dan membalasnya dengan memperlihatkan isi chat Javier di ponselnya.
Maxime tampak tenang, hanya sedikit kesal saja ternyata sang Ayah lah yang mengutus mereka untuk menyelidiki petshop miliknya.
"Jadi bagaimana? mau kami adukan kepada Tuan Javier atau biarkan kami masuk?" tanya Keenan.
Dengan tatapan tajam nya Maxime menyimpan kembali pistol nya, membuat Keenan tersenyum penuh kemenangan.
Mereka semua duduk lesehan di lantai dengan Keenan yang terus-menerus menoleh ke arah pintu kamar.
Sebenarnya dari awal Keenan memang merencanakan sesuatu untuk memalak Maxime dengan mengancam akan memberitahu soal Milan kepada Javier.
Tapi entah keberuntungan darimana Javier malah meminta bantuan kepada dirinya untuk menyelidiki petshop Maxime. Alhasil permintaan dari Javier seperti jembatan yang memudahkan Keenan memalak Maxime.
Tidak mau enak sendiri, Keenan pun membahas hal ini kepada Philip dan Athes and the geng.
"Jangan terus melihat ke kamarku!" ucap Maxime dengan penuh penekanan.
Keenan menoleh ke arah Maxime. "Kalau begitu suruh dia keluar, apa dia tidak sadar keberadaan kami di sini? dia tidak bangun dengan suara kami?!"
"Atau jangan-jangan dia mati?!" ucap Nicholas yang mendapat tatapan tajam mendadak dari Maxime.
"Begini, Maxi. Kau tahu kami sangat mengabdi kepada Ayah dan Ibumu, bukan?" Tanya Keenan.
Maxime tidak menjawab, ia hanya memasang wajah datar kepada Keenan.
"Maksudku, kau tau kami ---"
Ucapan Keenan terpotong dengan sesuatu yang di lempar Maxime ke wajahnya, semua orang pun membulatkan mata.
Keenan mengambil kartu hitam yang kini tergeletak di lantai dan itu ternyata, Black card.
Mata Keenan membulat sempurna, lalu menoleh ke arah Maxime.
Maxime pun beranjak kembali ke kamar membanting pintu pelan meninggalkan para uncle yang masih memandangnya tak percaya dengan kartu yang di pegang Keenan.
Bukan tanpa alasan, Maxime belum siap jika orang-orang di mansion merecoki rencana nya menyembunyikan identitas aslinya dari Milan. Ah apalagi Javier dan Sky sangat menginginkan calon mantu, kalau tahu ada gadis di petshop Maxime, pria itu takut orang-orang di mansion Ayahnya heboh tidak jelas dan berakhir terbongkarnya identitas dirinya.
"Benarkah? kita bisa belanja apapun?" tanya Jonathan yang di sambut anggukan dari Keenan.
"YEAYYY!!" semua orang bersorak senang dan pintu kamar Maxime pun kembali terbuka, pria itu kembali menodongkan pisau karena kesal dengan teriakan mereka.
Untung saja Milan tidak bangun, gadis itu hanya sempat bergerak kala Keenan dan yang lain berteriak.
"Iya ... iya kami pergi!!" ucap Philip.
Lalu semua orang pun beranjak keluar dari petshop Maxime. Semua orang kembali ke mobilnya, Keenan duduk di samping Philip yang sedang menyalakan mesin.
Pria itu pun menelpon Tuan nya. "Ya, Tuan Javier. Tidak, tidak ada yang aneh di petshop Maxime. Semuanya aman dan tentram."
Entah apa yang membuat Javier lebih memilih mempercayakan semua hal kepada Keenan dan yang lain. Padahal uang nomor satu untuk mereka, Javier hanya menyuruh tanpa memberikan upah lebih besar kepada mereka alhasil kesetiaan mereka goyah dan berpaling kepada pria yang baru saja melempar black card kepada mereka.
*
Miwa menggeliat, kakinya menendang-nendang selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Gadis itu jarang sekali nyaman tidur dengan selimut di tubuhnya.
Miwa menguap, lalu perlahan bangun dari tidurnya. Ia duduk di kursi, mengucek-ngucek kedua mata nya, menajamkan penglihatan nya sampai tatapan nya terhenti kala melihat Arsen tidur di kursi kerja nya.
"Kak Arsen," gumam nya.
Miwa beranjak dari sofa, menghampiri Arsen dan berdiri di samping pria itu.
Miwa duduk di atas meja menghadap Arsen, memperhatikan intens pria yang sedang tidur terlelap.
"Kasian sekali, pasti Kak Maxi bikin Kak Arsen kelelahan sampai harus tidur di sini," ucapnya seraya menghela nafas.
Miwa pun kembali turun dari meja, mengambil selimut yang tadi di gunakan untuk nya lalu berjalan untuk menyelimuti Arsen.
Ia sedikit membungkuk untuk menyelimuti kakak nya itu, tapi justru mata nya terhenti tepat di wajah Arsen.
Bola mata nya bergerak-gerak menatap intens wajah Arsen.
"Tidak kalah tampan dari kak Maxi," gumam nya.
Tanpa sadar tangan Miwa terulur mengelus pipi Arsen membuat pria itu perlahan membuka mata dan akhirnya pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Selama beberapa detik keduanya belum sadar mereka menatap dalam sampai akhirnya Arsen mengerjapkan mata kala kesadaran nya kembali dan segera mendorong tubuh Miwa.
"Akh!"
"Miwa!" teriaknya.
Miwa meringis karena pinggang nya menabrak meja kerja Arsen.
"Kau tidak apa-apa?" Arsen langsung memegang tangan Miwa.
"Tidak kak," sahut Miwa.
Arsen menghela nafas lega. "Kau bukan nya tidur?"
"Ya, tapi aku tadi kebangun dan melihat kakak tidak pakai selimut."
Arsen melihat selimut tergeletak di bawah kakinya lalu mengambil selimut itu dan memberikan nya lagi kepada Miwa.
"Ini, tidurlah lagi. Kakak tidak butuh selimut."
"Tapi kak-"
"Sudah-sudah tidur lagi sana!" Arsen mendorong tubuh Miwa agar kembali ke sofa.
#Bersambung
(Maaf karena lagi meriang jadi gabisa 3 bab sehari dulu, tapi ku usahakan) 🙏🏻