The Devil's Touch

The Devil's Touch
#55



Maxime dan Milan berada di atas ranjang dengan menyenderkan punggung mereka di kepala ranjang.


Milan acuh tak acuh mendengarkan penjelasan tugas fisika nya dari Maxime. Dia masih kesal karena Maxime tiba-tiba menci*m nya.


"Milan kau dengarkan aku atau tidak?"


"Kenapa kau membuat gudang ini menjadi kamar?" Milan menoleh dan mengalihkan pembahasan mengenail soal fisika nya.


"Ini untukmu, aku lihat kau suka sekali tidur di kelas. Tidur lah di sini, agar lehermu tidak sakit. Tapi hanya boleh masuk ketika jam istirahat saja. Sekarang kerjakan tugasmu cepat!"


"Cerewet sekali!" Milan memilih berbaring membelakangi Maxime dan memeluk guling kecil.


Maxime menarik bahu Milan. "Kerjakan dulu tugasmu!"


Milan menepis tangan Maxime. "Salahmu membawaku ke sini, aku ingin tidur saja!! kau saja yang mengerjakan tugasku, sekali saja!!" pinta Milan dengan mata nya yang tertutup.


Pria itu menghela nafas, sebenarnya niatnya membawa Milan ke kamar ini untuk memberikan kejutan bukan membiarkan Milan tidur di saat gadis itu harus mengerjakan soal-soal fisika nya.


Karena merasa kasihan dengan Milan yang terlihat benar-benar mengantuk akhirnya Maxime menarik selimut untuk Milan dan membiarkan gadis itu tertidur saja.


Tapi Maxime sendiri tetap tidak akan mengerjakan tugas Milan, ia akan menunggu Milan bangun.


Maxime mengambil laptop di laci, ia membuka cctv yang terhubung dengan mansion nya. Dengan tangan bersedekap dada Maxime menonton kegiatan apa yang terjadi pagi ini di mansion nya.


Maxime memang jarang pulang, tapi ia sering mengecek keadaan mansion lewat cctv di laptop nya.


Awalnya tidak ada yang aneh sampai akhirnya ia melihat Arsen masuk ke mansion di ikuti Miwa yang berjalan tergesa-gesa menyusul Arsen.


Miwa terlihat kesal karena tidak bisa masuk ke kamar Arsen dan tak lama kemudian ia melihat Arsen keluar dari kamar seraya menyeret koper nya.


Maxime masih diam memperhatikan sampai akhirnya Ara keluar dari kamar dan mereka bertiga berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan Maxime tidak tahu karena cctv di mansion tidak bisa merekam suara seperti cctv di sekolahnya.


Dan sekarang, Miwa terlihat berlari ke kamarnya lalu keluar dengan menyeret koper juga. Membuat Maxime bingung, ada apa sebenarnya dan kemana kedua adiknya itu sampai harus membawa koper.


*


Miwa masuk ke dalam mobil setelah menyimpan koper di bagasi mobil. Arsen di sampingnya tak mau menoleh sedikit pun ke arahnya, bahkan tidak berniat membantu Miwa memasukan koper besar ke bagasi, isinya bukan hanya baju perempuan itu membawa make up, skincare dan masih banyak lagi.


Benar-benar seperti orang yang ingin pindah rumah.


"Ayo kak ..." Miwa memasang seatbealt nya dan tiba-tiba ponselnya berdering, tertera nama Kak Maxi di sana.


Miwa mengambil ponsel di dalam tas nya. "Halo kak?"


"Kau dan Arsen mau kemana?" tanya Maxime.


"Aku mau ..." Miwa menggantung kalimat nya ia terlihat sedang berpikir.


"Aku mau bertemu rekan bisnis kakak di luar negeri," lanjut Miwa membuat Arsen sontak menoleh ke arahnya.


Pria itu hendak mengambil ponsel dari tangan Miwa tapi Miwa segera mematikan panggilan dari Maxime.


"Miwa!!" Arsen seakan tidak terima Miwa berbohong.


"Kak Maxi pasti tidak akan mengizinkan ku menginap di kantor terlalu lama, jadi kakak jangan bilang Kak Maxi, oke?"


"Itu bagus, aku akan memberitahu Maxime!!" Arsen mengeluarkan ponselnya dari saku tapi dengan cepat Miwa mengambil ponsel tersebut .


"Miwa ada apa denganmu?!" kesal Arsen.


"Kau pikir Maxime bod*h!! di kantor juga ada cctv!!"


"Iya juga!!" Miwa menggaruk kepala nya. Kakak nya di lawan, mana bisa.


Maxime di gudang terus menelpon Miwa dan Arsen tapi tidak di angkat sama sekali dan di cctv ia hanya melihat mobil Arsen yang masih parkir di depan mansion nya.


Maxime mendengus setelah melihat mobil Arsen keluar dari halaman mansion nya, setelah ini ia akan mengecek cctv kantor nya untuk memastikan benar mereka pergi ke luar negeri atau tidak.


Tidak berhenti sampai di sana Maxime mencari-cari Oris di dalam cctv tersebut. Ruang tamu, dapur, kandang Glory, kolam renang dan beberapa ruangan lain tidak menunjukan batang hidung pria itu.


Ia hanya melihat Peter yang sedang menonton tv di ruang tamu.


Alhasil ia menelpon Peter untuk menanyakan keberadaan Oris.


"Ya?" jawab Peter di seberang sana.


"Dimana Oris?" tanya Maxime.


"Sedang memotong rumput di depan," sahut Peter seraya memasukan kacang ke mulutnya.


"Tidak ada, lihat saja sendiri!!"


"Benarkah?" Peter pun beranjak ke halaman depan dan benar Oris tidak ada di halaman.


"Dimana dia?" tanya Maxime.


"Aku tidak tau, biasanya dia memotong rumput di halaman."


"Coba kau tanya Aunty Ara," titah Maxime.


"Sebentar."


Peter kembali berjalan masuk mencari-cari Ara.


"Kau tau kemana Arsen dan Miwa pergi?"


"Aku tidak tau, aku melihat mereka membawa koper tapi malas bertanya. Lagi pula Miwa bersama Arsen kau tidak perlu khawatir," sahut Peter lalu mengetuk pintu kamar Ara.


"Ada apa?" tanya Ara selepas membuka pintu.


"Kau tau dimana Oris Aunty?" Peter bertanya dengan ponsel masih menempel di telinganya.


"Di halaman sedang memotong rumput," sahut Ara.


"Kau dengar, Max. Aunty mu juga mengatakan hal yang sama," ucap Peter.


"Memangnya ada apa?" tanya Ara penasaran.


"Maxime menanyakan Oris," sahut Peter kepada Ara.


"Kalau bertemu dengan nya nanti tanya dia dari mana!"


"Sebenarnya ada apa ini? Huhh aneh sekali, pagi-pagi seperti ini Arsen dan Miwa pergi membawa baju-baju mereka dengan alasan banyak pekerjaan di kantor dan sekarang Maxime kenapa tiba-tiba menanyakan Oris."


Peter mengangkat kedua bahu nya tidak tahu lalu kembali pergi ke ruang tamu untuk melanjutkan nonton film nya dan meninggalkan Ara yang hanya bisa menggelengkan kepala.


Bersambung