
Maxime membuka pintu ruangan dan Tesaa menyambutnya dengan senyuman tapi perlahan senyuman nya memudar kala melihat Milan di belakang Maxime.
Maxime menyimpan sup buatannya di meja. "Taruh di sini sayang," ucapnya kepada Milan. Milan menyimpan kanvas nya di samping laci.
"Kenapa sendiri, yang lain kemana?" tanya Maxime.
"Ke bawah dulu kak, cari makan mungkin," sahut Tessa.
"Milan terimakasih sudah bawa kanvas ku ke sini," ucap Tessa kepada Milan seraya tersenyum.
Milan mengangguk. "Sama-sama."
Kemudian Sky dan Liana masuk ke kamar seraya membawa beberapa kantung makanan yang mereka beli.
"Milan ..." Sky menyapa gadis itu seraya memeluknya.
"Tante ..."
"Mommy dong," sahut Sky seraya melepas pelukannya. Tessa tersenyum getir melihat itu.
"Hehe iya, Mommy ..." keduanya terkekeh pelan.
"Apa kabar Milan?" Liana gantian memeluk Milan. "Panggil aku Mom Liana ya."
"Baik, Mommy Liana."
Maxime hanya tersenyum melihat itu. "Dimana Daddy dan yang lain?" tanya Maxime.
"Daddy mu pergi membawa Miwa tidak tau kemana," sahut Sky.
"Han, Thomas dan Kara sedang makan di bawah," sambung Liana.
"Kau kesini bawa sup untuk Tessa?" tanya Liana.
"Iya mom."
"Yasudah kalian duduk saja, biar Mom yang menyuapi Tessa." Liana berjalan membuka sup yang di bawa Maxime. Sementara itu Milan dan Maxime duduk di sofa.
"Aku makan sendiri saja mom," sahut Tessa.
"Kau ini masih lemas begitu," sahut Liana.
"Loh, kok ada kanvas di sini?" tanya Sky menatap Tessa dan Maxime bergantian.
"Katanya dia ingin melukis," sahut Maxime.
"Astaga ..." Liana berdecak seraya menggelengkan kepala. "Kau sudah sakit seperti ini masih saja mau melukis!"
"Aku kan bosan di sini, aku mau pulang."
"Besok kau sudah boleh pulang Tessa." Sky berseru seraya berjalan mendekati sofa dan ikut duduk bersama Milan dan Maxime.
"Milan, kenapa tidak pernah main ke mansion Mommy?" tanya Sky.
"A-aku ..." Milan menoleh ke arah Maxime. Maxime tidak pernah mengajaknya ke sana, Milan bahkan tidak tahu dimana mansion orang tua Maxime.
"Dia tidak mau pergi ke mansion Dad, takut gila katanya Mom!"
"Heh aku tidak bilang seperti itu ya!" Milan menepuk paha Maxime. Maxime hanya tertawa sementara Sky tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Di sana ribut sekali, banyak orang tua yang seperti anak TK Milan," ucap Sky.
"Ma-maksudnya?"
"Maksud Mom, uncle Keenan dan para buntutnya sayang."
Sky mengangguk. "Ya, mereka selalu ribut setiap hari."
"Mereka tinggal di sana Mom?"
Sky kembali mengangguk. "Mereka bekerja, tapi tidak tahu kerja apa. Setiap hari ribut saja kerjaan mereka, walaupun ribut tetap di gaji."
"Di suruh ke pasar juga termasuk kerjaan Mom," sambung Maxime.
"Ke pasar beli bahan makanan?" tanya Milan.
Sky mengangguk. "Di pasar lebih murah haha."
"Kau pasti aneh kenapa Ibuku lebih memilih belanja di pasar," bisik Maxime yang masih terdengar oleh Sky.
"Mommy dulu sama sepertimu Milan, hidup dari keluarga sederhana yang apa-apa mencari yang murah. Dan terbawa sampai sekarang ... tidak perduli mau sekaya apa Daddy nya Maxime, tetap saja kalau belanja di pasar harus di tawar dulu iya kan."
Milan hanya tertawa mendengarnya, ia pikir calon mertua nya ini selalu hidup mewah belanja tanpa melihat harga. Ternyata sebaliknya.
Tessa memakan sup seraya mendengarkan percakapan mereka, sesekali ia menatap Maxime diam-diam. Sementara Liana sedang membereskan laci yang terlihat berantakan.
"Sayang kau di sini dulu bersama Mom, aku ingin merokok," bisik Maxime kepada Milan. Milan hanya mengangguk.
"Hentikan kebiasaan merokok mu itu Max!" ucap Sky melihat kepergian putra nya.
"Coba Mom suruh Dad yang berhenti, baru aku!" sahut Maxime seraya membuka pintu ruangan.
"Ah anak laki-laki pasti sulit di nasehati soal rokok," sambung Liana.
Tessa sedari tadi hanya diam saja, ia fokus makan sup. Biasanya mengobrol dengan Maxime tapi karena ada Milan ia lebih memilih diam.
Di rooftop Rumah Sakit Maxime sedang menelpon Peter meminta menjaga data perusahaan lebih ketat lagi. Dan juga menyuruh pria itu menjaga cctv perusahaan agar tidak di rusak oleh siapapun.
"Suruh anak buahku berjaga di sana, selain karyawan tidak boleh masuk ke halaman perusahaan. Termasuk tukang antar makanan!"
"Oke," sahut Peter.
Milan keluar dari ruangan berjalan untuk pergi ke rooftop. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman karena saling diam bersama Tessa, jadi ia memutuskan mengirim pesan kepada Maxime.
"Maxime ..."
Maxime menoleh ke belakang lalu merentangkan kedua tangan nya, Milan berlari memeluk pria itu.
"Kau sudah berani merindukanku hmm." Maxime mengecup kening Milan.
Milan hanya menenggelamkan wajahnya yang tersipu malu di dada Maxime.
"Sayang ..."
"Hmm?" Milan mendongak.
"Kenapa kau diam di mobil tadi, kau marah hm?"
"A-aku ..." Milan kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak marah."
Maxime mencubit hidung Milan. "Bohong. Aku tau kau bohong. Kau marah karena Tessa, iya kan?"
"Aku ..."
Maxime tersenyum lalu menarik Milan duduk di salah satu kursi panjang di sana. Milan duduk di pangkuan Maxime.
"Aku tidak mungkin punya hubungan lebih dari seorang kakak dengan dia sayang ... aku tau kau pasti khawatir karena dia hanya adik angkat. Tapi bersama dia itu tidak mungkin. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini, aku tidak mau mempunyai masalah dengan Mom Liana dan Daddy Thomas. Kau mengerti itu kan ..."
Milan hanya mengangguk.
"Sekarang dia lagi sakit, jadi aku memberi perhatian lebih untuknya. Bukan hanya Tessa, kalau Miwa sakit juga aku seperti itu. Kau bisa tanyakan kepada Miwa."
"Bagaimana mungkin aku bersama perempuan lain disaat mendapatkan mu saja sangat sulit, kau seperti kucing kampung yang sulit di tangkap dan suka kabur-kaburan dulu. Sekarang setelah mendapatkanmu aku tidak mungkin melepasmu lagi ..." Maxime mengeratkan pelukan nya seraya mengecup pundak Milan dari belakang.
Milan hanya tersenyum dengan penjelasan Maxime. Kemudian pria itu mendorong tubuh Milan untuk berdiri dan ia langsung membuka bajunya.
Milan melotot melihat itu dan Maxime malah tersenyum seraya melentangkan kedua tangan nya.
"Maxime pakai bajumu!!"
"Ayo sayang ... kau suka lihat aku tidak pakai baju kan? jangan di foto, di sini saja. Sentuh aku ..." Maxime menepuk-nepuk dada berototnya.
"Maxime jangan gila! ayo pakai bajumu!!" Milan mengambil baju di samping Maxime dan memberikan nya kepada pria itu.
Maxime mengambil lalu melempar bajunya seenaknya dan menarik tangan Milan sampai gadis itu kembali duduk di pangkuannya.
"Maxime ..."
"Kau suka sayang?" goda Maxime dengan tersenyum.
Milan menggeleng seraya mengalihkan pandangan nya ke arah lai ."Tidak, aku tidak suka."
"Ah aku tau kau bohong."
Maxime kembali mengeratkan pelukan nya. "Janji jangan marah-marah lagi hmm ..."
Milan mengangguk. "Iya-iya ... aku janji."
"Jadilah seperti Miwa sayang, kalau marah dari pada diam lebih baik cerewet saja seperti dia. Kau bilang 'Maxime aku marah denganmu karena bla bla bla' begitu."
Milan tertawa mendengar Maxime berbicara seperti Miwa. Maxime sendiri ikut tertawa.
"Kau tau sayang, kuping ku rasanya ingin meledak kalau dia sudah marah-marah!"
"Jadi kau ingin kupingmu meledak karena aku?" tanya Milan tanpa menghentikan tawa nya.
"Itu lebih baik dari pada kau jadi gadis bisu!"
Kemudian keduanya kembali tertawa bersama kemudian tawa mereka berhenti dengan teriakan seorang satpam.
"HEI JANGAN MES*M DI SINI!!"
Keduanya menoleh ke belakang.
"Si kepar*t itu lagi!!" kesal Maxime melihat satpam yang bersama Arsen siang tadi. Satpam itu melotot melihat Maxime lalu kembali berlari meninggalkan rooftop tak berani memarahi Maxime dan Milan.
"Loh, kenapa kabur?" tanya Milan.
Maxime tidak menjawab ia hanya kembali tertawa.
"Aneh sekali satpam itu," lanjut Milan.
"Sudahlah sayang, biarkan saja. Oh iya sayang, jangan bilang kepada siapapun kalau aku pernah menangis karena Glory ya."
Milan tersenyum jahil. "Rahasiamu aman ..."
"Tapi senyuman mu tidak aman, kenapa kau tersenyum seperti itu hah!" Maxime menggelitiki tubuh Milan. Keduanya tertawa menghabiskan waktu di rooftop.
Bersambung