The Devil's Touch

The Devil's Touch
#175



Pagi ini mereka mandi bersama, Maxime membuat kesepakatan jika setiap hari mereka harus mandi bersama. Tidak boleh terlewat satu hari pun.


Kemudian mereka keluar dari hotel, Milan seharusnya pergi les piano diantar Peter. Tapi karena antara keduanya kembali berbaikan seperti sebelumnya alhasil Maxime lah yang mengantar Milan ke tempat les nya.


"Apa tempatnya sangat jauh?" tanya Milan.


Maxime memutar stirnya, mobil berbelok keluar dari halaman hotel. "Tidak sayang, dekat dengan kantor ku."


"Aku sudah menduganya," sahut Milan seraya tersenyum.


"Kau dalam pengawasan ku, jadi jangan harap bisa selingkuh." Maxime berkata tersenyum seraya mengelus kepala Milan yang duduk di sampingnya.


"Kau selalu berpikir aku selingkuh huhh ..." Milan mencebikkan bibirnya.


"Karena kau masih sangat muda, aku takut kau bosan dengan pria tua sepertiku."


"Jadi kau mengakui kau sudah tua sayang?" goda Milan.


"Maksudku ... pria matang."


"Huhh matang apanya?"


"Matang di ranj*ng!" sahut Maxime yang mendapatkan pukulan dari Milan. Maxime hanya tertawa seraya menghalangi tangan Milan yang terus memukuli lengannya.


"Yang benar kau itu pria mes*m!!"


"Tapi kau menyukai pria sepertiku kan sayang?"


"Hah? tidak!!"


"Ayolahh ... mengaku saja ... kau bahkan menikmati saat kita semalam ber--"


"Maxime diam!!" Milan kembali memukul lengan Maxime, kali ini lebih keras. Respon pria itu tetap sama, hanya bisa tertawa.


Kemudian anak panah melesat ke arah mobil dan mendarat tepat di kaca bagian depan mobil membuat Maxime harus menginjak rem nya mendadak. Kepala Milan hampir saja membentur dashboard kalau gadis itu tidak memakai seatbealt.


Ujung anak panah itu memakai busa polybonding dan lem perekat membuat anak panah itu menempel sempurna di kaca bagian depan mobil.


"Sayang kau tidak apa-apa?" Maxime yang panik langsung memeriksa kepala Milan. Milan menggeleng, tidak ada luka sedikitpun hanya saja Milan terlihat shock.


"Tunggu di sini ..."


Maxime melepas seatbealt hendak keluar tapi Milan menahannya. Milan tahu manusia seperti Maxime pasti mempunyai banyak musuh, dari awal ia memutuskan tinggal bersama di mansion Maxime, Milan sudah siap dengan semua kemungkinan yang terjadi, termasuk harus menghadapi musuh-musuh Maxime.


"Jangan keluar ..." Milan menggeleng dengan raut wajah panik, bahkan wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Sayang kau diam di sini, aku harus memeriksanya."


Milan kembali menggeleng dengan menahan kuat tangan Maxime. "Di sini lebih aman. Biarkan anak panah itu, kita bisa membuka suratnya nanti."


Maxime keluar karena melihat ada gulungan kertas di anak panah tersebut.


Sesampainya di tempat les piano, sebelum keluar dari mobil Maxime menelpon Peter meminta pria itu datang ke tempat les Milan untuk menjaga istrinya selama belajar piano.


Setelah selesai menelpon Peter, Maxime keluar dari mobilnya di ikuti Milan. Maxime mengambil gulungan kertas di anak panah tersebut lalu membukanya.


Tidak ada kalimat apapun di sana selain gambar ular cobra yang besar. Maxime tahu lambang siapa itu, ia meremas kertas tersebut dengan geram sampai urat-urat di tangannya terlihat sangat jelas.


"Sayang ..." Milan memegang tangan Maxime, akhirnya kemarahan Maxime pun melunak dengan sentuhan istrinya.


"Apa itu?" tanya Milan.


Maxime menggeleng. "Bukan apa-apa sayang."


"Masuklah, ini hari pertama mu les piano. Sebentar lagi Peter datang dan akan menjagamu, aku harus pergi ke kantor sebentar ya."


"Tapi--"


"Kantor ku yang itu ..." Maxime menunjuk salah satu bangunan tinggi yang tidak terlalu jauh dari tempat les Milan.


Milan menatap bangunan tersebut lalu kembali menatap suaminya. "Tapi kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, aku mengkhawatirkan mu. Tapi ini impianmu, bukan? belajar piano. Aku tidak mungkin melarangmu belajar piano karena ada yang mengancam sayang, jadi masuklah ..."


Maxime mengelus kedua pundak Milan untuk menenangkan, kemudian Peter datang dengan motor harley nya, ia melepas helm dan menghampiri Maxime dan Milan.


"Lebih baik bawa mobil saja dari pada naik motor," ucap Maxime.


"Kenapa memangnya?"


Maxime menatap anak panah di dekat kakinya, Peter pun menunduk lalu sedikit terkejut dengan anak panah tersebut.


"Ulah siapa?"


"Ular cobra ... Masuklah sayang ..."


Milan mengangguk, sebelum masuk ia mendapat kecupan dari suaminya itu. Sementara Peter masih terlihat berpikir.


"Ular cobra? maksudmu ... Recobra?"


Maxime mengangguk. "Aku harus ke kantor, jaga istriku dengan baik. Kalau tidak, aku akan membunuhmu!!"


Maxime masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Peter yang masih mematung sendirian.


"Aku pikir mereka sudah malas mencari masalah," gumam Peter.


Mobil Maxime melaju meninggalkan tempat les Milan menuju kantornya. Peter berjalan masuk ke dalam tempat les untuk menjaga Milan.


Bersambung