
Mereka sarapan bersama di rumah Jack yang sederhana, duduk di atas tikar.
"Milan mau tinggal di sini?" tanya Aron lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Tidak, nanti sore aku dan Maxime pulang."
"Kenapa tidak tinggal di sini saja paman?" tanya Aron kepada Maxime.
"Paman harus kerja, Milan juga harus belajar piano ..."
"Woahhh ... Milan bisa main piano?"
Milan mengangguk. "Bisa, kau mau melihatku main piano?"
"Tidak mau ah wle ..."
"Aron ..." Sherly memberi peringatan agar Aron bersikap ramah.
"Anak itu, kadang manis kadang menyebalkan!" gumam Milan pelan.
"Kau, kembali saja ke kota," ucap Maxime kepada Jack.
Jack mendongak menatap Maxime kemudian beralih menatap istrinya.
"Aku terserahmu saja," ucap Sherly.
"Sebenarnya aku sudah terbiasa hidup di sini," ucap Jack.
"Kau terbiasa tinggal bersama katak-katak itu?"
"Seru kan Paman, katak nya setiap malam bersuara terus," sambung Aron.
"Itu berisik," sahut Maxime.
"Milan, mau bawa katak tidak ke kota?" tanya Aron kini.
"Kau menyuruhku ternak katak?"
"Kau kan ratu katak," ucap Aron membuat mereka yang ada di sana tertawa. Milan hanya menekuk wajahnya apalagi Maxime malah ikut tertawa.
Setelah sarapan Maxime, Milan, Jack dan Sherly jalan-jalan di desa itu. Setiap orang yang berpapasan dengan Maxime selalu menundukkan pandangannya, karena terlalu takut hanya sekedar melihat mata pria yang membuat mereka terkurung di desa.
Mereka pergi ke tempat belajar Aron. Rumah yang terasnya terbuat dari kayu tetapi cukup luas untuk menampung anak-anak desa belajar.
Aron yang duduk di bangku paling depan melambaikan tangan ke arah Maxime dan yang lain. Mereka pun balik melambaikan tangan.
Sabrina, adik satu-satunya Sherly. Ia menatap Maxime dan Milan, kemarin ia tidak sempat bertemu dengan mereka karena sibuk membantu Ayah dan Ibunya.
"Apa itu yang namanya Tuan Maxime ... itu istrinya ya," batin Sabrina.
Peyuk aku ... peyuk aku ...
Sabrina mengingat kejadian semalam, dimana ia tidak sengaja melewati rumah kakak iparnya, Jack. Ia mendengar suara pria yang manja, ia tahu betul itu bukan suara Jack yang manja kepada Kakaknya.
"Itu artinya semalam suara dia, ah tidak mungkin. Wajah menyeramkan seperti itu punya suara manja seperti semalam," batin Sabrina kembali.
Tatapan Maxime tak sengaja bertemu dengan mata Sabrina yang sedang duduk di meja guru. Sabrina spontan mengerjapkan mata lalu pura-pura menulis.
Maxime duduk berbincang bersama Jack di tempat yang tak jauh dari anak-anak belajar, Milan sendiri sedang mengobrol bersama Sherly.
Sesekali Sabrina mencuri pandang ke arah Maxime yang sibuk mengobrol dengan kakak iparnya.
Kemudian Sabrina melihat Maxime pergi entah kemana dan Milan berlari mengejar Maxime.
"Kak, itu Tuan Maxime ya?"
"Iya ..."
"Oh ... aku baru melihatnya sekarang."
"Kakak juga baru pertama kali melihatnya, yang kenal keluarga Tuan Maxime itu Ayah."
"Dia ganteng juga ya kak," ucap Sherly dengan malu-malu.
"Hussh ... jangan bicara sembarangan, dia sudah punya istri, istrinya sedang hamil."
"Benarkah?" Sabrina melebarkan matanya. "Eh kak, perempuan tadi itu istrinya?"
Sherly mengangguk.
"Sepertinya dia masih kecil."
"Dia baru lulus sekolah tau."
"Apa?!" untuk kesekian kalinya Sabrina di buat terkejut. Karena kalau masalah umur, Sabrina jauh lebih tua dari Milan.
"Kenapa Tuan Maxime mau menikah dengan gadis remaja?"
"Ya, namanya juga cinta," sahut Sherly.
"Berhenti membicarakan dia!" pekik Jack yang sedari tadi mendengarkan obrolan kakak dan adik itu.
"Hehe iya kak ..." Sabrina menyengir. "Tapi ngomong-ngomong, Tuan Maxime itu punya adik?" tanya Sabrina kini kepada Jack.
"Dia punya kembaran perempuan, namanya Miwa dan menikah dengan adik angkatnya, Arsen."
Sabrina mengangguk-ngangguk. Kemudian Maxime dan Milan kembali berjalan ke arah mereka.
Milan menatap Sabrina dan Sabrina langsung mengulurkan tangannya. "Hai, aku Sabrina ..."
"Milan ..." Milan berjabat tangan dengan perempuan itu. Kemudian Sabrina pun melepaskan tangannya dan mengulurkannya ke arah Maxime.
"Sabrina ..."
Maxime hanya menatap tangan Sabrina lalu duduk di samping Jack. Milan menatap Maxime dan Sabrina bergantian, merasa tidak enak dengan sikap Maxime yang enggan berkenalan akhirnya Milan yang mengenalkan Maxime.
"Dia Maxime, suamiku," ucapnya dengan tersenyum.
"Ah iya." Sabrina menarik kembali tangannya.
Milan duduk di samping Maxime, Maxime langsung merangkul istrinya itu sembari berbincang dengan Jack.
"Beruntung sekali gadis itu bisa mendapatkan Tuan Maxime, kaya dan setia," batin Sabrina.
"Tapi gadis itu punya apa sampai membuat Tuan Maxime mencintainya ya ..."
"Hei!" Sherly menyikut lengan Sabrina. "Kenapa kau melamun, lihat anak-anak sudah memenuhi meja guru."
Sabrina langsung menoleh ke arah meja guru tempatnya duduk. Anak-anak sudah berdiri di sana untuk memberikan lembar soal yang mereka kerjakan.
"Ah iya kak aku lupa hehe ..." Sabrina pun kembali ke meja gurunya.
Di saat memeriksa jawaban anak-anak, Sabrina masih mencuri-curi pandang ke arah Maxime.
Bersambung