The Devil's Touch

The Devil's Touch
#224



Keenan menjemur ke enam bayi di dekat kolam. Ia menggerai karpet, menjajarkan ke enam bayi yang hanya di baluti popok saja.


"Cepat kaca mata nya!" teriak Keenan yang menutupi mata Summer dengan tangannya agar cahaya matahari tidak menyorot langsung ke mata Summer.


Begitupula dengan yang lain. Aiden menutupi mata Nathan, Jonathan menutupi mata Lalita, Samuel menutupi mata Nala, Nicholas menutupi mata Laura dan Athes menutupi mata Winter.


Sergio pun berlari dari mansion menuju kolam dengan membawa enam kaca mata bayi tersebut.


"Hiyaaa ..." teriak Summer dengan tersenyum.


"Sebentar ya," ucap Keenan.


"Ini ..." Sergio memberikan enam kaca mata itu.


"Lama sekali!" kesal Keenan lalu mengambil kaca mata itu dan membagikannya kepada yang lain.


"Bu ... bu ... bu ..." Nathan terus berceloteh tidak jelas.


"Aku harus menanyakan dulu kaca mata nya di simpan dimana kepada Sky," sahut Sergio. Yang lain langsung memakaikan kaca mata tersebut.


"Oke, sekarang kalian berjemur ..." ucap Samuel.


"Jangan tanya orang tua kalian yang masih di kamar jam segini ya bocil-bocil," ucap Aiden.


"Sepertinya mereka sedang membuat adik untuk mereka," sahut Athes.


"Buatnya mau, jaga anaknya tidak mau. Cih!" kesal Keenan.


"Untung saja kita jadi baby sitter seperti ini di bayar, kalau tidak aku tidak mau," ucap Aiden.


"Euhh ... euhh ..."


"Hei, kau kenapa? mau bicara apa?" tanya Samuel kepada Nala.


Laura terlihat mengemut jarinya sendiri. Lalita berusaha membuka kaca matanya.


"Diam, matamu sensitif Lita." Jonathan menjauhkan tangan Lalita.


"Sepertinya mereka tidak suka pakai kacamata ini," ucap Nicholas. "Lihat, dari tadi tidak bisa diam, gerak-gerak terus, padahal ini kaca mata khusus berjemur."


"Kata siapa tidak bisa diam, lihat Winter. Dari tadi justru tidak bergerak," sahut Athes.


"Eh coba kau lihat, siapa tau dia mati. Kenapa dia diam begitu," ucap Sergio.


"Dia hidup sial*n. Lihat perutnya masih nafas," sahut Athes.


"Dia satu-satunya bayi yang setiap harinya hanya di pakai bernafas saja. Yang lain tertawa, teriak-teriak, bergerak aktif, hanya dia saja yang diam," ucap Keenan.


"Untung saja jantungnya tidak ikut diam," sahut Jonathan.


"Tapi kalau dia main dengan Milan, Miwa dan Tessa dia tersenyum," ucap Nicholas.


"Main dengan Sky juga tersenyum," sambung Aiden.


"Sepertinya dia tidak suka dengan kita," ucap Samuel.


Athes pun membuka kaca mata Winter, Winter langsung menatap dirinya dengan datar.


"Hei, bayi! kau punya masalah apa dengan kami?" tanya Athes.


"Ayo jawab ... kau kenapa menatapku seperti itu?!"


"Yaaa ... yaaa ... euhh ..." Summer kembali berteriak dengan kaki terus menendang-nendang.


"Tuh lihat, kembaran mu sangat ramah. Kau dari tadi kenapa diam?" tanya Athes lagi.


Ucapan Keenan berhasil membuat yang lain menoleh ke arahnya dengan melebarkan mata.


"Jangan sembarangan kalau bicara!!" ucap Sergio.


"Dari tadi Athes mengajaknya berbicara dia diam saja, bisa jadi sebenarnya dia tidak bisa mendengar suara Athes," sahut Keenan.


"Sudah ambil dulu," titah Keenan.


Sergio pun masuk ke mansion mencari mainan yang di belikan Sky. Ia memilih bebek-bebek kan lalu kembali ke kolam renang dan memberikan mainan itu kepada Athes.


"Ini ..."


Ekkk ... ekk ..


Bebek mainan itu berbunyi ketika Athes menekan bagian perutnya.


Ekk ... ekk ... ekk ...


"Cih, Bebek apa suaranya seperti itu," ucap Jonathan.


"Namanya juga mainan!" sahut Samuel dengan menggeleng kecil.


Athes pun membunyikan bebek itu di samping kiri Winter, kalau Winter menoleh berarti pendengaran nya bagus. Itu tebakan mereka.


"Lihat, dia masih diam," ucap Athes.


"Dia kan masih bayi, hal ini seperti ini tidak perlu di khawatirkan sebenarnya," ucap Samuel.


"Bumi dulu saat bayi, selalu mencari-cari suara yang ada di dekat dia, lagi pula dia bukan bayi yang usianya baru dua minggu, mereka ini sudah hampir tiga bulan," ucap Keenan.


Ekk ... Ekk ...


Bebek itu kembali berbunyi dan membuat Summer dan yang lain tertawa walaupun mata mereka masih tertutup.


"Tuh lihat, yang lain merespon dengan baik," ucap Keenan.


"Aku curiga apa yang di katakan Keenan benar," ucap Sergio.


"Sudahlah, panggil saja Milan untuk mengatasi anaknya yang satu ini," ucap Aiden.


Sergio pun kembali masuk ke mansion untuk memanggil Milan.


Milan datang bersama Maxime, gadis itu segera menghampiri Winter. Sementara Maxime berdiri di belakangnya dengan menatap Keenan dan yang lain dengan menggelengkan kepala.


"Winter sayang ... Ini bunda, Winter main bebek-bebek kan ya."


Ekk ... ekk ...


Winter tersenyum ketika Milan menekan perut bebek mainan tersebut, bahkan Winter terlihat bergerak aktif. Hal itu membuat Keenan dan yang lain mengerutkan dahinya.


"Siapa yang bilang anakku tunarungu? berani sekali!" kesal Maxime.


Mereka langsung menunjuk ke arah Keenan. Keenan pun sontak menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak bukan aku!"


"Uncle, gajihmu di potong setengah!" ucap Maxime lalu menggendong Summer dan Milan menggendong Winter.


"Bawa yang lain masuk," ucap Milan sebelum berjalan menyusul Maxime.


"Hahaha ... mampus!!" Aiden tertawa sementara Keenan memasang wajah kesal.


Bersambung